Memangnya kenapa kalau anak laki-laki berambut panjang dan suka pakai rok?
Pikiran itu kembali terlintas dalam benaknya ketika bercermin di pagi hari dengan lebam di pipi sebelah kiri juga darah kering di sudut bibir sebelah kanan. Ini bukan pertama kalinya dia dihajar karena terlihat lebih cantik dari anak-anak perempuan di sekolah. Entah yang ke berapa, tapi rasanya tetap menyebalkan saja. Terutama karena bekas lebam seperti itu sulit ditutup oleh bedak murah yang dicurinya dari meja rias sang nenek.
Dia adalah Chu Shiah yang berusia tujuh belas.
Setiap pagi, Shiah akan bercermin, melihat rupanya hari itu dan memutuskan akan menjadi apa dia hari ini; seorang remaja dengan potongan rambut pendek, bercelana panjang, dan cardigan biru langit, atau remaja lain dengan rambut ikal panjang, jepit bintang di kedua sisi kepala, dan rok yang berkibar di atas celananya?
Keduanya bisa dilakukan dengan sempurna, kecuali saat ada lebam di wajah.
“Aish… harusnya ini sih pakai itu—apa namanya?” Shiah menekan-nekan lebam berwarna biru di pipi itu dengan ujung jari sambil mengingat-ingat nama produk kosmetik yang sering dia lihat. “Ah! Bedak padat. Ya, bedak padat. Apa harus kubeli?” Tiba-tiba pikiran itu muncul sambil dirinya melirik laci berisi tabungan kuliah. “Jangan, jangan. Biaya kuliah mahal. Kamu harus berhemat, Chu Shiah!”
Setelah memastikan tabungannya tidak tersentuh, hari itu Shiah kembali memutuskan untuk memakai rambut palsunya yang disambung pada rambut aslinya menggunakan jepit. Ini tipe rambut palsu yang bisa dibilang membuatnya tampak seperti memiliki rambut asli panjang. Shiah merapikan jepitnya di bawah rambut asli, menyisirnya, kemudian menambahkan jepit kecil lain agar lebih kuat.
“Rambut, check!”
Permasalahan berikutnya kini adalah wajah.
Shiah cukup tahu kalau secara tampang dia hampir tidak punya kekurangan. Matanya bulat besar—seperti mata anak anjing yang lucu dan menggemaskan. Hidungnya membentuk lekukan yang tinggi sempurna, bagai perosotan di taman bermain. Bibirnya terisi penuh, berwarna merah muda, yang jika dilihat dari samping akan berbentuk hati. Lebih dari itu, wajahnya juga terpahat dengan lembut hingga apa pun yang dikenakannya akan terlihat menawan.
Jika ada bakat alami yang dimilikinya sejak lahir, maka inilah bakatnya: terlahir sebagai seseorang dengan tampang yang rupawan. Persis seperti ibunya, begitu yang selalu Shiah katakan pada dirinya sendiri. Walau kabur dalam ingatannya tapi Shiah selalu membayangkan bahwa ibunya pasti akan memiliki rupa sesempurna dirinya saat ini.
Pun bukan hanya tampang, tapi tubuhnya juga seperti tahu apa yang dibutuhkan oleh pakaian pilihannya. Dengan bahu kecil, torso panjang, pinggang ramping, dan kaki yang masih akan terus tumbuh, bahkan memakai rok seragam yang ditemukannya menganggur di tempat sampah saja dia terlihat sempurna. Setidaknya, seperti kebanyakan gadis-gadis remaja yang memulai paginya dengan perasaan riang ketika akan berangkat ke sekolah.
Walau Shiah tidak mengiringi harinya dengan perasaan tersebut. Dia sedikit bersolek hari ini untuk satu tujuan; membalas dendam.
Ada banyak cara membalas dendam. Setelah dihajar habis-habisan kemarin oleh para seniornya, Shiah lebih suka membalas pukulan dan tendangan yang mereka berikan dengan cara berbeda. Dia tidak suka kekerasan. Tepatnya anti dengan kekerasan. Tangannya tidak pernah digunakan untuk memukul—kecuali nyamuk yang hinggap di atas permukaan kulit. Intinya, Shiah tidak akan membalas dengan cara itu. Dia akan membalas dengan cara menjadi lebih cantik hari ini.
“Yah! Chu Shiah! Kenapa kau pakai rok lagi?! Jangan ambil kimbab sembarangan!”
Tapi suara sahutan sang nenek terpaksa membuat Shiah menyambar segulung kimbab yang disiapkan untuk jualan sambil cepat-cepat kabur.
“Aku cuma minta satu!”
Sepatunya bahkan tidak terpasang sempurna, hanya diinjak-injak saja sepanjang jalan gang hingga menuju halte bus. Begitulah, paginya selalu ramai. Bahkan walau dia hanya tinggal berdua dengan neneknya di sebuah rumah tua di dalam gang.
*
Sekolahnya berada tidak jauh dari rumah. Biasanya Shiah menggunakan sepeda. Tapi kali ini sepedanya rusak. Tepatnya dirusak. Rantainya diputus paksa, bannya kehilangan kulit bagian luar, sementara pedalnya lepas sebelah. Shiah mendapati sepeda tersebut berada di tumpukan sampah sekolah kemarin sore saat hendak pulang. Ketika sedang meratap itulah sekelompok senior lelaki datang menghajarnya.
Karena bukan yang pertama, sesungguhnya Shiah tidak lagi kaget dengan semua perlakuan itu. Menjadi seseorang yang berbeda secara rupa akan membuatnya jadi bahan empuk untuk dihajar. Tapi beginilah dirinya, selalu mengambil banyak sorot di sepanjang perjalanan. Dari gerbang sekolah, hingga sampai ke kursi di kelasnya.
Untunglah di kelasnya semua baik-baik saja. Setidaknya kursi dan mejanya utuh tanpa ada rusak mau pun coretan. Sebagian besar siswa di kelas itu juga tidak menghiraukan keberadaannya, bahkan walau dia datang dalam berbagai rupa. Mereka tidak peduli dan semua itu menguntungkan.
Perkara baru muncul ketika dirinya berada di luar kelas.
Selalu ada jam-jam pelajaran yang mengharuskan Shiah membelah lorong sekolah, menaiki anak tangga atau menuruninya. Bahkan ketika jam pelajaran berakhir, Shiah masih harus melewati barisan seniornya ketika mengembalikan buku ke perpustakaan. Hari ini jadwalnya bertugas di sana, tapi tungkai kaki panjang seorang senior lelaki menjegalnya. Hingga buku-buku yang dia bawa terlempar sedangkan dirinya jatuh terkapar.
“Astaga, lihat siapa ini?”