Renggut

Eve Shi
Chapter #2

Dendam Laksana Racun

"Mama?"

Tarikan pada rok Ayla menyetop lamunannya. Pandangannya kembali terfokus, dan warna-warni yang berbaur kabur berubah jadi deretan botol sambal dan saus serta ikan sarden kalengan. Embusan udara dingin dari AC dalam commissary, toko kebutuhan sehari-hari di kompleks perumahan karyawan, menyapu kulitnya.

Erin berdiri di samping Ayla sambil menengadah. Dia mengacungkan kotak karton pipih seukuran telapak tangan. Tiap kali mereka berbelanja, Erin hampir selalu membeli salah satu kudapan favoritnya, cokelat yang dikemas mirip batang rokok.

Ayla tidak bertanya kapan putrinya bosan makan kudapan ini. Lumrah saja bila anak-anak mendambakan jajanan favorit. Dia sendiri tidak pernah menampik roti mantau, roti khas Balikpapan yang renyah di mulut.

"Erin mau apa lagi?" Ayla mengambil kotak karton dari tangan Erin dan menaruhnya dalam keranjang belanja.

"Itu aja," jawab Erin. Sepasang matanya bundar, sebundar wajahnya yang dirangkum rambut hitam legam. Kakinya ramping dan panjang bak kaki rusa. Kata Bapak, Erin bak pinang dibelah dua dengan Ayla sewaktu kecil.

Hanya fisik mereka berdua yang mirip. Ada satu perbedaan penting: Erin tak akan kehilangan ibunya, seperti yang dialami Ayla. Apa pun caranya, Ayla akan tetap mendampingi Erin.

Pasti demikian pula kehendak Ibu. Sayang, takdir menentukan lain. Bukan. Bukan takdir, tapi orang jahat. Orang yang entah kenapa benci keluarga kami. Teka-teki inilah yang dilamunkan Ayla sebelum Erin menarik roknya.

Ayla mengecek isi keranjang, meyakinkan ulang bahwa belanjaannya sudah lengkap, dan berjalan menuju kasir. Erin mengekori, nyaris tanpa bunyi, bahkan tanpa gesekan sol sepatu. Sejak Ayla masuk ke commissary, tidak ada pelanggan selain dia dan Erin. Keheningan ini lagi-lagi menggiring benaknya ke masa silam.

Tahun 1963 dan siang ini berjarak sembilan belas tahun. Waktu yang sebegitu panjang gagal menyodorkan jawaban tentang kematian Ibu. Mungkin saja, tanpa setahu Ayla, si pelaku telah menerima ganjaran.

Namun, itu belum cukup. Ayla harus menyaksikan ganjaran itu dengan mata kepala sendiri. Memastikan bahwa hukuman si pelaku setimpal dengan dosanya.

Bapak meminta Ayla ikhlas dan bersabar. "Ingat hukum tabur tuai, Nak," ujar Bapak. Matanya yang mulai dikelilingi kerut menatap Ayla dari balik kacamata bingkai hitam. "Orang itu mengambil Ibu dari kita. Akan ada yang diambil juga dari dia. Kita harus percaya, tak perlu menyaksikan sendiri."

Lihat selengkapnya