Renggut

Eve Shi
Chapter #3

Penggal

Ayla sedang membalik kalender dinding ke bulan Juli 1982, sambil merancang rencana liburan tahun ini, saat terdengar bunyi debuk dari kamar Erin.

Bunyi itu samar, tapi kentara. Sejenak pandangan Ayla terpaku pada foto ngarai dan lembah pada lembaran kalender. Barulah pelan-pelan dia menoleh ke kamar putrinya.

Erin sedang bersekolah dan kamarnya kosong. Mungkin ada benda miliknya yang jatuh. Namun, bunyi tadi mirip kayu dipukul. 

Bisa jadi bunyi itu berasal dari luar. Seorang tetangga lewat di jalur aspal depan rumah dan menjatuhkan barang. Ayla berjalan ke pintu depan, akan mengintip dari tirai pada kaca pintu.

Brak!

Dia terlonjak kaget. Bunyi kedua jauh lebih keras, seolah disengaja demi menebas keraguan Ayla. Dia ganti melangkah ke kamar Erin, lalu berhenti di depan pintu.

Apa gerangan penyebab bunyi itu? Manusia berniat jahat yang menyelinap masuk? Blok ini, yang terdiri dari enam rumah, terpisah dari blok-blok lain, tapi jalan masuknya tampak dari pos sekuriti. Mereka pasti langsung menyetop orang luar yang menyelonong masuk.

Hanya satu cara untuk mengetahui jawabannya. Dengan waspada, Ayla mendorong pintu kamar dan menekan sakelar.

Sifat Erin yang berdisiplin tecermin dari kamarnya. Jigsaw puzzle bergambar tokoh-tokoh kartun terletak di meja belajar. Bantal dan guling tertata rapi di kasur. Daisy, boneka beruang milik Erin, duduk di tengah seprai.

Boneka itu berbaju motif bunga aster dan lehernya dihiasi pita putih. Bu Sanna, ibu Fauzi, membelikannya untuk Erin saat usianya satu tahun. Ketika itu Ayla, Fauzi, dan Erin sedang mengunjungi beliau di Ujung Pandang.

"Terima kasih, Mami," ujar Ayla; atas permintaan beliau, Ayla memanggil mertuanya dengan sebutan Mami. Erin bersandar di pangkuan Ayla, memeluk boneka beruang yang belum diberi nama. "Erin, bilang terima kasih sama Oma."

"Pfft!" jawab Erin.

Bu Sanna tertawa. Seluruh rambutnya beruban, kulitnya cokelat susu seperti Fauzi, dan suara tawa mereka sama-sama renyah. "Kalian sering-sering kemari, ya. Ayla dan Erin berdua saja juga boleh. Mengobrol tatap muka begini lebih menyenangkan daripada lewat telepon."

Sampai sekarang, Erin masih menyayangi Daisy. Atau mungkin lebih tepatnya, menghormati. Erin hanya sekali-sekali bermain dengan boneka itu. Daisy lebih sering menghuni kamar alih-alih dijinjing Erin.

Ayla mengambil Daisy dari kasur. Bulu-bulu boneka terasa halus di jarinya. Badan Daisy terasa solid dalam genggaman Ayla, sehingga menyurutkan rasa heran.

Lihat selengkapnya