Erin membeku di tempat. Kepalanya panas oleh debur aliran darah. Sepasang mata di kolong teras itu bagai berbinar dalam keremangan. Hanya mata itu dan dahinya yang tampak, sebab bagian bawah wajah tersembunyi di balik batang kaktus.
Pemilik mata itu pasti anak-anak, sebab kolong terlalu sempit bagi orang dewasa. Untuk apa dia menyusup ke bawah sana? Dan bagaimana dia tahu Erin akan mengintip ke kolong teras?
Bulu kuduk Erin meremang. Di jalanan kompleks tak ada siapa-siapa. Jika pemilik mata itu menerkam Erin, tak ada yang dapat menolongnya. Sekarang juga dia harus menjauh dari kolong teras.
Erin mengedip, dan sepasang mata di balik kaktus itu lenyap.
"Eh?"
Sejenak Erin tercengang. Demi melihat lebih jelas, dia menjulurkan kepala ke depan. Lalu dia sadar bahwa pemilik mata tadi mungkin berbahaya. Seraya mundur, Erin mengamati kolong teras.
Di sana hanya ada dua batang kaktus. Siapa pun yang menatap Erin tadi telah pergi, itu pun jika dia tidak salah lihat. Manusia bisa berada di kolong rumah saja sudah ajaib.
Kecuali pemilik mata tadi bukan manusia.
Tiba-tiba kesunyian blok kompleks bagai menimpa kepala Erin. Jantungnya berdetak kencang, serasa memanjat ke tenggorokan. Bergegas dia lari ke teras, menendang sepatu sampai lepas, dan memburu masuk ke rumah.
Surat kabar dan majalah bertumpuk di meja tamu. Pesawat TV mati. TVRI, satu-satunya stasiun televisi, memulai siaran di sore hari, kecuali pada hari Minggu. Pada jam ini, Mama biasanya ada di rumah.
Erin tidak sendirian. Dia tinggal memanggil Mama dan semuanya akan beres. Pemilik mata di kolong tak akan mengganggunya lagi.
"Mama?"
Dari bawah lantai terdengar bunyi ketukan. Dua kali dan keras, seolah demi memastikan Erin mendengarnya. Dengan lidah kelu, dia memandang ke bawah.
Detik demi detik merangkak maju. Ketukan itu tidak berulang. Dengan gugup, tanpa melepaskan pandangan dari lantai, Erin berjingkat ke kamar Mama.
***
"Kepala Daisy lepas sendiri tadi," kata Ayla. "Maklum, sudah tua. Erin juga jarang main sama dia, jadinya nggak tahu kondisi Daisy."
Begitu ucapan itu terlontar, Ayla menyesal. Bukan maksudnya untuk menyalahkan Erin, seakan dia abai pada bonekanya. Hanya karena Ayla belum pulih dari kaget, tidak seharusnya dia menuduh Erin lalai.