Renggut

Eve Shi
Chapter #5

Menimbun Batu Karang

Pagi-pagi, Fauzi berjalan kaki ke kantor yang letaknya di antara rumah mereka dan commissary. Dia harus mengajukan izin cuti untuk hari Rabu dan Kamis sekaligus memesan tiket pesawat. Sambil menunggu, Ayla mengemasi barang-barang suaminya dalam travel bag. Ketika Fauzi kembali ke rumah, travel bag sudah siap diangkat.

Fauzi menelepon dispatcher, divisi yang menangani penyediaan kendaraan bagi karyawan, dan memesan mobil untuk mengantarnya ke Bandara Sepinggan. Lima menit kemudian, sebuah sedan hitam berhenti di depan rumah. Diiringi Ayla, Fauzi keluar sambil menjinjing travel bag. Sopir turun dari mobil dan membukakan pintu belakang.

"Hati-hati di jalan," pesan Ayla. "Telepon aku begitu sampai."

"Ya. Kamu dan Erin juga hati-hati di rumah."

Fauzi duduk di kursi samping pengemudi. Dia dan Ayla saling melambaikan tangan selagi mobil melaju ke jalanan kompleks. Ketika sedan hitam itu hilang dari pandangan, barulah Ayla mendaki undakan pendek pada teras.

Di dalam rumah, dia langsung menghampiri pesawat telepon. Alat komunikasi itu berwarna abu-abu, dan pada permukaannya terdapat lingkaran dengan sepuluh lubang kecil. Semua lubang diberi angka dari 0 sampai 9. Ayla meraih gagang telepon, lalu tangannya terkepal.

Ibumu dibawa ke rumah sakit! Suara Pak Anwar bergema dalam kepala Ayla. Kala itu dia terguncang, tapi masih percaya semua akan baik-baik saja. Setibanya dia di rumah sakit, Ibu akan menanti sambil merentangkan tangan untuk memeluknya.

Harapan itu luluh lantak. Ibu dirampas dari Ayla dan tak akan pulang lagi. Bermalam-malam sesudahnya, dia berbaring di tempat tidur sambil meremas selimut dengan hati babak belur.

Hidupnya akan hancur jika Bapak ikut meninggal. Ditabrak mobil saat menyeberang jalan, misalnya. Kendaraan yang melewati Pasar Klandasan tidak pernah mengebut. Akan tetapi, Ayla bisa kehilangan Bapak lewat cara lain, seperti kiriman ilmu gaib untuk kali kedua.

Siapa yang sebegitu tega pada keluarga mereka? Pada Ibu, yang tak pernah menjahati siapa pun? Semasa remaja, terkadang Ayla ingin menjerit: Bapak, cari pelakunya! Bapak udah gede, masa nggak bisa? Laporin ke polisi biar dia masuk penjara!

Seiring bertambahnya umur, Ayla mulai mengerti pertimbangan Bapak. Bisa saja beliau bukannya tidak berniat mencari si pengirim ilmu gaib, melainkan takut. Si pelaku bisa semakin buas jika jati dirinya terkuak. Bapak, atau Ayla sendiri, berisiko jadi korban berikut.

Mau tidak mau, Ayla hanya bisa menyandarkan asa pada hukum tabur tuai. Si pelaku pasti menerima hukuman. Ayla harus rela bahwa dia tidak akan menyaksikannya.

Lihat selengkapnya