Renggut

Eve Shi
Chapter #6

Anak Jail

Reaksi pertama Ayla: Erin bermain dengan Daisy pagi-pagi. Kepalanya jatuh dan Erin tidak sadar. Reaksi kedua: Itu bukan kebiasaan Erin. Dia nggak berleha-leha sebelum ke sekolah. Lagi pula, kalau kepala Daisy jatuh, pasti Erin lihat dan taruh di kamar.

Kepala boneka beruang itu terbaring menyamping. Matanya yang terbuat dari kancing hitam seperti menatap langsung pada mata Ayla. Suara penyiar radio yang bernada ramah tiba-tiba terasa mengejek.

Ayla menarik napas dalam-dalam, berusaha berkepala dingin. Cuma kepala boneka. Nggak usah dibesar-besarkan. Banyak caranya kepala itu bisa jatuh di dapur tanpa disadari Erin.

Dia membungkuk, memungut kepala Daisy dari lantai, dan membawanya ke kamar Erin. Seperti biasa, badan boneka itu duduk di seprai. Ayla memasangkan kepalanya dengan saksama. Selagi keluar dari kamar, dia memasang telinga, menunggu bunyi debuk atau bahkan tawa.

***

Erin biasa menghabiskan jam istirahat seorang diri. Buku-buku cerita bergambar di perpustakaan mengantar dia mengembara ke berbagai zaman dan negara. Sesekali dia duduk di bangku koridor, menonton anak-anak lain di halaman tengah. Mereka bermain sepak bola, kejar-kejaran, atau sekadar berjalan simpang siur.

Siang ini, hujan mengguyur Balikpapan dengan menggebu-gebu. Kilat bersabung di langit, dan tanah berubah jadi genangan lumpur. Koridor, perpustakaan, serta ruang-ruang kelas dipenuhi murid-murid yang tidak bisa bermain di halaman tengah.

Di telinga Erin, curahan hujan dan gelegar guntur hanyalah bunyi latar. Dia asyik mengikuti kisah petualangan Winnetou, membaca panel-panel komik yang dikelir dengan dua-tiga warna. Di sekitarnya, anak-anak lain membaca sambil mengobrol.

Bel akhir istirahat berbunyi. Deringnya yang panjang bersaing dengan deru hujan. Satu persatu, anak-anak lain keluar dari perpustakaan. Erin, yang sedang terpesona oleh cerita komik, membalik halaman berikut.

"Sudahan dulu bacanya," perintah petugas perpustakaan. "Ayo, masuk kelas sana."

Dengan enggan, Erin menutup buku dan mengembalikannya ke rak. Di koridor, guru-guru mulai menuju kelas tempat mereka mengajar. Agar tidak terlambat, Erin berlari ke kelas 3A.

Setiap kelas diisi maksimal empat puluh murid. Dua orang menempati satu meja dan bangku kayu yang sama. Sepasang papan tulis hitam dipasang bersisian pada dinding depan ruangan. Erin kadang berharap papan tulis berubah jadi layar bioskop, dan murid-murid menonton film sehari penuh.

Dia mengenyakkan badan di bangku bertepatan dengan masuknya Pak Kamal. Guru Matematika itu merangkap wali kelas Erin. Menuruti aba-aba ketua kelas, murid-murid menyapa, "Selamat siang, Pak!"

"Siang," jawab Pak Kamal dengan suara sengaunya yang khas. Seraya duduk di balik meja guru, beliau mencermati seisi kelas, memastikan semua murid hadir. Barulah Pak Kamal mengeluarkan buku ajar dari tas hitamnya. "Buka halaman 40."

Lihat selengkapnya