Ayla sedang memetiki anggur dari tangkainya ketika Erin pulang sekolah. Erin mencuci kaki dan tangan, lalu masuk ke kamar. Ayla lanjut menata anggur dalam mangkuk sambil berdebar-debar.
Dalam hitungan detik, Erin bergegas menuju ruang makan. "Ma, lihat Daisy, nggak?"
Dengan perasaan bersalah, Ayla menampilkan wajah polos. "Biasanya dia di kamarmu."
"Nggak ada." Erin menoleh ke sekeliling. "Aku taruh di mana, ya? Lupa..."
Yang terpancar dari wajahnya bukan kesal, melainkan muram. Karena itulah Ayla makin merasa bersalah. Di sisi lain, peristiwa yang sesungguhnya sukar dicerna akal sehat.
Kepala Daisy lepas sendiri kemarin. Tadi kepala itu pindah ke dapur, jadi Mama kembalikan ke badannya. Hari ini, ada sobekan baju Daisy menempel di panci. Mama tengok kamar, Daisy hilang, nggak tahu ke mana.
Terlalu ganjil, bahkan menyeramkan. Ayla sendiri masih belum percaya Daisy benar-benar lenyap. Seakan boneka itu bernyawa dan sudah tidak betah lagi di rumah ini.
"Aku taruh di kasur kok, tadi pagi," kata Erin—setengah berkeras, setengah mengiba. "Terus tahu-tahu hilang. Daisy ke mana ya, Ma?"
Atas usul Ayla, mereka memeriksa seluruh penjuru rumah. Jejak Daisy sama sekali tak ada, sebab Ayla telah membuang kain hangus itu. Erin pasti sedih jika melihat kain itu tanpa Daisy.
Pada akhirnya, Erin menyerah. Dia berdiri di ruang tamu sambil menunduk. Wajahnya tak lagi muram, tapi jemarinya saling bertaut dan menekan kuat-kuat. Ayla menunggu sampai Erin menguasai gejolak emosi dalam dadanya.
Entah dari siapa Erin mewarisi sifat pendiam. Ayla dan orang tuanya cenderung terbuka dengan isi hati mereka. Demikian pula dengan Fauzi dan Bu Sanna. Kata Fauzi, mendiang papinya gemar mengobrol dengan siapa saja, dari tetangga sampai pemilik warung langganan.
Erin melepaskan tautan jemarinya dan mengangkat kepala. "Aku mau main."
"Sama Naomi?"
"Sendiri aja. Dekat."
Tanpa menunggu jawaban Ayla, Erin berlari ke teras. Ayla hampir menyuruhnya makan siang dulu, tapi batal. Kain hangus itu membayang di depan matanya, mencegat kata-kata.
***
Fauzi menelepon Ayla ketika hari sudah gelap. Tadi siang pesawatnya mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin, dan dari sana Fauzi langsung bertolak ke rumah sakit. Bu Mercy sedang menunggui Bu Sanna di kamar rawat. Kondisi beliau sudah jauh membaik, hampir pulih seperti sediakala. Dokter mengizinkan Bu Sanna pulang serta meresepkan obat.
Di rumah, Fauzi membantu ibunya berbaring nyaman di tempat tidur. Bu Sanna menegur Fauzi yang memotong jatah cuti demi membesuknya. Fauzi hanya tersenyum, tidak menjawab bahwa dia tak ingin menyesal jika ini perjumpaan terakhir mereka.
Dia meminta Bu Mercy pulang dan beristirahat. "Kasihan, Bu Mercy jaga Mami sampai kurang tidur." Sesudah itu barulah Fauzi menelepon Ayla.