Tuuut. Tuuut. Tuuut.
Nada sambung mendengung berkali-kali. Datar, tak peduli pada kegundahan Ayla. Dengung itu berlanjut, menyulap gundah jadi gusar, dan dia setengah membanting gagang telepon.
Setelah Erin pergi ke sekolah, Ayla menelepon Bapak. Tiga kali berturut-turut dia memutar nomor telepon rumah mereka. Tiga kali pula dia hanya disambut nada sambung.
Boleh jadi Bapak bekerja lebih awal. Membeli stok kain dan benang, atau membawa mesin jahit yang rusak ke tukang reparasi. Akan tetapi, yang tebersit dalam pikiran Ayla justru kecurigaan bahwa Bapak sengaja menghindarinya.
Bapak kayaknya punya firasat aku ingin bicara soal meninggalnya Ibu. Dan Bapak malas lagi-lagi suruh aku sabar. Padahal situasinya sudah melibatkan Erin! Siapa yang bisa aku mintai tolong?
Fauzi, tentu saja. Orang terdekat Erin selain Ayla. Ayah yang sangat menyayangi Erin—bantu mengganti popoknya sewaktu Erin bayi, menggandeng tangan Erin pada hari pertamanya masuk TK. Ayla tinggal menunggu Fauzi pulang dan memaparkan semuanya.
Mula-mula Fauzi pasti sangat kaget. Dahulu Ayla dan Bapak sepakat memberi tahu Fauzi bahwa Ibu meninggal akibat serangan jantung biasa. Kata Bapak, tujuannya agar Fauzi dan keluarganya tidak ketakutan.
"Takut karena apa, Pak?" tanya Ayla ketika itu. Bu Sanna dijadwalkan tiba besok dari Ujung Pandang. Didampingi Fauzi, beliau akan bertemu Bapak dan resmi melamar Ayla.
Bapak menggosok-gosok dagu yang kasar oleh jenggot pendek. Purnama Tailor buka satu jam lagi, tapi Bapak belum bercukur. "Takut ilmu gaibnya menulari kamu."
"Aku? Memangnya bisa?"
"Kepercayaan orang beda-beda, Nak. Bapak yakin kamu aman. Tapi beberapa keluarga hati-hati sekali soal ini. Calon menantu mereka atau keluarganya tidak boleh punya riwayat kena ilmu gaib."
Ayla mendecak keras. "Nggak adil! Sasaran ilmu gaib itu korban, bukan pelaku. Ibu nggak salah apa-apa! Kenapa malah dianggap kotor?"
"Ssh, ssh." Bapak memegang lengan Ayla, menyetop letupan emosi putrinya. "Bapak bukan menuduh keluarga Fauzi anggap ibumu atau kamu kotor. Hanya berhati-hati saja, sebelum ada ikatan dan kamu menyesal di kemudian hari. Apalagi kalau kalian punya anak."