Renggut

Eve Shi
Chapter #10

Dua Luka

Tiga hari dalam liburan naik kelas dihabiskan Ayla di Semarang. Eyang Kakung dan Eyang Putri tinggal di rumah bercat hijau muda dengan pagar batu berbentuk gapura rendah. Pohon pepaya dan jambu air tumbuh di halaman belakang yang luas.

Ketika Ayla dan Bapak tiba, kedua eyang menyambut mereka di teras rumah dengan pelukan hangat. Kemeja Eyang Kakung menguarkan bau tembakau samar. Eyang Putri membelai rambut Ayla, persis kebiasaan Ibu.

"Wah, wah, sudah panjang rambutnya," decak Eyang Putri. "Gerah, tidak? Sini, Eyang rapikan." Ayla, yang lupa kapan kali terakhir memotong rambut, mengiakan saja.

Rumah kedua eyang terletak di daerah pinggiran kota, dekat hamparan petak-petak sawah. Sepeda dan kendaraan bermotor sering berlalu-lalang di jalan raya yang membatasi sawah dan daerah perumahan. Ayla ingin belajar naik sepeda, tapi sepeda onthel milik Eyang Kakung terlalu besar untuknya.

"Bapak dulu bisa naik sepeda?" tanya Ayla. Jam dinding menunjukkan waktu pukul sembilan malam. Mereka berdua menginap di kamar Bapak sewaktu kecil. Ayla tidur terlebih dulu karena Bapak masih mengobrol dengan kedua eyang. Sebelum itu, Bapak mampir di kamar untuk mengucapkan selamat tidur.

"Bisa," angguk Bapak. "Punya sepeda sendiri juga. Sepedanya sudah lama dijual, untuk ongkos ke Balikpapan."

"Ooh," gumam Ayla, merangkul guling yang samar-samar berbau kapur barus. Guling, sarung bantal, selimut, dan seprai di rumahnya sendiri berbau kanji. Melanjutkan kebiasaan Ibu, Ayla memakai campuran air dan tepung itu untuk menyeterika.

"Pulang nanti, Ayla mau dibelikan sepeda?" tanya Bapak.

Aku mau Ibu pulang. Kata-kata itu hampir terlontar dari mulut Ayla. Dia menelannya sebab tak ingin suasana berubah sendu. Selama liburan ini, Ayla harus ceria. Ibu pasti sedih jika kepergiannya terus-menerus diratapi.

"Mau, kalau Bapak punya uang," katanya.

Bapak tersenyum, lalu keluar dan menutup pintu kamar. Ayla membayangkan Bapak berjalan ke teras depan, tempat kedua eyang berada. Lantunan musik gending mengalun dari radio yang disetel Eyang Kakung sejak petang.

Ayla memejamkan mata dan membenamkan wajah pada guling. Aku di sini terus boleh, nggak? Pindah sekolah dan belajar Bahasa Jawa juga nggak apa-apa. Lama-lama kakiku pasti tambah panjang dan aku bisa naik sepeda Eyang Kakung.

Di Balikpapan, yang menunggu Ayla hanya rumah tanpa Ibu. Kepergian Ibu menimbulkan sunyi dan pedih tak terperi. Terkadang, walau masih terlalu pagi, Bapak berangkat kerja dengan wajah kuyu.

Itulah jawaban dari pertanyaan Ayla tentang pindah ke Jawa: Purnama Tailor. Kakek mengelolanya sampai menjadi toko jahit besar, serta memercayakannya pada Ibu dan Bapak. Ibu sudah tiada, maka Bapak bertanggung jawab atas toko itu dan pegawainya. Bapak pasti sedih jika mengelola Purnama Tailor sendirian tanpa ditemani Ayla. Sambil berpikir demikian, Ayla jatuh tertidur, dibuai paduan musik gending dan kenangan akan desir roda mesin jahit.

Esok paginya, Bapak berkata pada Ayla, "Bapak ke rumah teman dulu. Pulangnya sore." Ayla menganggap teman yang dimaksud adalah teman sekolah Bapak, dan tidak bertanya lebih lanjut.

Lihat selengkapnya