Renggut

Eve Shi
Chapter #11

Daisy

Mulanya tak ada yang tampak janggal. Sampo, pasta gigi, dan sikat gigi berjajar pada rak di atas wastafel. Suhu ruangan masih dingin sebab Fauzi belum menuangkan air panas. Lalu Ayla melihat jamban duduk dan nyaris menjerit.

Akhirnya Daisy ketemu—dalam kondisi di luar bayangan Ayla. Kepala, badan, lengan, dan kaki boneka itu berceceran di bawah jamban duduk. Kedua matanya hilang dan bajunya tercabik-cabik. Namun, bukan itu yang membuat Ayla menekap mulut.

Dari leher Daisy mencuat daun telinga manusia yang terlipat. Entah dari badan siapa telinga itu dipotong. Otak Ayla yang kebas sempat mencatat bahwa, menilik ukurannya, telinga itu milik anak-anak.

Ada yang memotong-motong badan Daisy, lalu menjejalkan telinga manusia ke leher boneka itu. Semuanya dilakukan tanpa sama sekali ketahuan oleh Ayla atau Erin. Kepala Ayla riuh oleh belasan pertanyaan yang saling bertabrakan.

Dia mundur sampai keluar dari kamar mandi. Lututnya lemas, dan dia bersandar di dinding agar tidak roboh. Fauzi melirik kamar mandi dan Ayla silih berganti.

"Itu boneka Erin, kan?" tanyanya. Dia berbisik, setengah takut potongan telinga itu mendengarnya dan merayap ke arah mereka.

Ayla mengangguk. Lidahnya kelu dan bulu-bulu halus di tangannya meremang. Tanpa berkata apa-apa, dia berlari ke kamar Erin, diikuti oleh Fauzi.

Erin tertidur lelap sambil telentang. Satu tangannya memeluk guling dan bantalnya tersandar di dinding. Sejak kecil, Erin tidur tanpa memakai bantal agar lehernya tidak pegal. Hawa malam hari sering hangat, maka dia pun jarang memakai selimut.

Dengan hati-hati, Ayla membungkuk di sisi tempat tidur. Dia mengamati kedua sisi kepala Erin dan rasa cemasnya mencair. Setelah memperhatikan putrinya dari wajah sampai kaki, dia berjinjit keluar kamar.

Fauzi menunggu di ruang tengah. Rahangnya mengatup rapat dan pundaknya kaku. Ayla akan meraih lengan suaminya, tapi menarik kembali tangannya. Fauzi tampak begitu tegang, mirip balon yang menggembung terlalu besar akibat sarat helium. Satu sentuhan dapat membuatnya meledak dan berteriak, sedangkan Ayla tidak ingin Erin terbangun.

"Bukan telinga Erin," kata Ayla. Sama dengan Fauzi tadi, dia setengah berbisik.

Fauzi membuang napas keras-keras lewat mulut. Tatapannya yang tadi nyalang kini penuh selidik. Dia menoleh ke kamar Erin, lalu pada Ayla.

"Kapan terakhir kamu ke kamar mandi?"

"Kira-kira pukul delapan," jawab Ayla. "Belum ada apa-apa."

Lihat selengkapnya