Fauzi pergi ke dapur, mengambil dua kantong plastik bekas dan sekop kecil. Ayla memelihara pot-pot tanaman di teras, dan sekop itu biasa dipakainya untuk menyerok tanah agar gembur.
Sambil mendesis jijik, Fauzi mencabut daun telinga dari lubang leher Daisy. Dalam sekilas pandang, Ayla mencatat bahwa tak ada noda darah. Artinya telinga sudah lama dipotong dan dibersihkan.
Fauzi membungkus potongan telinga rapat-rapat dalam kantong plastik yang lebih kecil. Seraya menyerahkan kantong satu lagi pada Ayla, dia berkata, "Kumpulkan bonekanya di sini."
Tanpa membuang waktu, Ayla memunguti potongan-potongan badan Daisy dan menjatuhkannya ke dalam kantong plastik. Dia berharap Erin tidak mendadak bangun dan perlu ke kamar mandi. Sesudah mengikat kantong plastik, Ayla membukakan pintu depan, dan Fauzi keluar dengan wajah suram.
Dia menuju pohon ceri yang tumbuh di sisi jalur aspal. Menggunakan sekop, Fauzi menggali lubang dekat akar pohon. Sesekali dia menengok berkeliling, memeriksa ulang bahwa hanya Ayla yang melihatnya. Ayla berjaga di teras, merasa tak berdaya sekaligus geram.
Dulu, menjelang hari pernikahan, dia sering mengenang Ibu. Tiap momen dalam memorinya melahirkan haru: Ibu mengucir rambutnya, merayakan ulang tahun Ayla dengan sepotong kue tar, bertepuk tangan saat Ayla menempati peringkat tiga di kelas. Ibu, yang telah berpulang mendahului Ayla. Dalam hati, dia berjanji kelak akan selalu menyayangi dan melindungi anaknya.
Malam ini, seseorang menertawakan janji Ayla itu. Dia mengirimkan potongan telinga anak-anak, sehingga Ayla takut Erin celaka. Mungkin orang itu pula yang merenggut nyawa Ibu.
Begitu Bapak menyebutkan nama si pelaku, Ayla akan bertindak. Menyatroni rumah orang itu dan mempermalukan dia di muka umum. Intinya, dia akan mengungkap borok si pelaku. Sudah terlalu jauh dia menyakiti keluarga kami. Keenakan kalau dosanya tidak diumbar!
Rasanya Fauzi menggali lubang selama berjam-jam. Ayla terus memantau jalanan kompleks dan rumah-rumah lain. Akhirnya Fauzi membenamkan kantong plastik berisi telinga ke dalam lubang, lalu menimbunnya dengan tanah.
Wajah Fauzi digurati letih ketika dia masuk ke rumah. Tanpa berkata-kata, dia mengembalikan sekop ke tempatnya dan mencuci tangan di wastafel. Ayla berdiri di luar kamar mandi, memberi Fauzi ruang untuk bernapas dengan leluasa.
"Terima kasih," katanya.
Fauzi mematikan keran. "Kamu benar-benar nggak tahu boneka itu kenapa?"
"Nggak. Bapak yang tahu."
Fauzi mendengus. Bunyi itu terdengar mirip tuduhan bagi Ayla, seolah Fauzi menduga Bapak biang keladi di balik peristiwa malam ini. Bukan, pikirnya, maksud Bang Fauzi bukan itu. Aku cuma sedang terlalu peka.