"Ada apa lihat aku seperti itu?" tanya Bapak. Beliau ingin membalas tatapan Mantir, tapi tak kuasa. Tenaganya terserap oleh upaya berbicara tanpa emosi. "Kau sudah tahu alasanku kemari?"
Pandangan Mantir memindai Bapak dari kepala sampai lutut yang goyah. Satu tangannya memegang pintu, siap membantingnya setiap saat. Di dekat rumah, seekor anjing menggonggong nyaring, menambah pening kepala Bapak.
"Apa alasanmu kemari?" Mantir balik bertanya.
Tangis Ayla pada hari kedua setelah pemakaman mengiang di telinga Bapak. Dokter salah, Pak! Ibu masih hidup. Ibu cuma pingsan. Bapak, ayo jemput Ibu! Saat itu hati Bapak tertikam oleh harapan serupa, bahwa ini hanya kesalahan diagnosis.
"Istriku." Satu kata itu bagai belati mengiris jantung Bapak. "Istriku meninggal kena parang maya. Kau yang kirim?"
Mantir menekuk bibirnya ke arah gusi. Deretan giginya tampak putih, bahkan dalam gelapnya malam. "Dulu aku sudah peringatkan," katanya dingin. "Kau akan kehilangan orang yang paling disayangi. Siapa suruh baru kelabakan sekarang!"
Sepercik api amarah berpijar dalam dada Bapak. "Harus tunggu tiga belas tahun? Tidak bisa saat itu juga? Langsung sesudah adikmu..."
"Aku memang tunggu sampai kau punya segalanya!" sergah Mantir. "Itu karena kau merampas segalanya dariku!"
Sorot menantang pudar dari mata Mantir. Tatapannya berubah nyalang dan sarat kebencian.
"Orang tuaku meninggal waktu adikku bayi. Kerabat kami yang masih hidup ada di kota lain. Aku hanya punya adikku seorang. Begitu dokter bilang dia sudah tiada, jiwaku hancur separuh. Sampai kapan pun tidak akan utuh lagi."
Dia meludah ke tanah, ke samping kaki Bapak.
"Tahu, tidak? Aku sempat jatuh hati pada seorang gadis. Kami sempat bercita-cita menikah. Ternyata keluarganya tidak suka punya menantu yang hanya kerja di pasar. Dia dipaksa menikah dengan laki-laki lain. Aku kehilangan dia, lalu adikku. Sekarang tak punya siapa-siapa lagi."
Mulut Mantir tersenyum, tapi tatapannya tetap nyalang.