Renggut

Eve Shi
Chapter #15

Asalkan Bahagia

"Kapan tepatnya dia meninggal?" tanya Ayla.

"Bapak sampai di rumahnya pukul 9.30," sahut Bapak. "Berarti dia meninggal pukul 8.30 atau sebelum itu. Kapan boneka Erin terpotong-potong?"

"Aku temukan dia sesudah Dunia Dalam Berita. Terakhir aku ke kamar mandi pukul delapan." Dengan kata lain, setengah jam sebelum Mantir diperkirakan meninggal. Dia punya waktu untuk mengirim satu serangan lagi, dengan mengorbankan anak tak bersalah yang harus kehilangan telinga.

Dendam, bila diperturutkan, akan menghanguskan begitu banyak hari-hari yang semestinya damai. Sedih karena adiknya meninggal itu manusiawi, tapi kenapa dia ngotot Bapak harus ikut menderita? Ayla tahu, tidak baik bergembira atas kematian seseorang. Namun, jika Mantir hidup lebih lama lagi, Erin bisa-bisa tewas.

"Baru sekarang Bapak cerita soal Mantir," ujar Ayla. "Apa hanya karena dia sudah meninggal? Ada alasan lain?"

"Bapak kenal sifatmu, Nak. Kalau tahu siapa pelakunya, kamu pasti datangi dia. Bapak takut Mantir membalas dengan parang maya lagi. Itu sebabnya Bapak diam saja selama sembilan belas tahun."

Perkiraan Bapak atas reaksi Ayla lumayan tepat, maka Ayla tidak menyangkal. "Jadi dia kirimkan ilmu gaib terakhir ke boneka Erin. Bonekanya dipotong-potong dan—dan diselipi potongan telinga manusia. Telinga anak kecil."

Gambaran kondisi Daisy terasa mengaduk isi perut Ayla. Dia sempat berharap telinga itu berbahan plastik dan milik boneka lain. Ketika Fauzi mencabutnya dari leher Daisy, Ayla tak dapat mengelak. Telinga itu jelas terbuat dari daging manusia.

Lama sekali tak ada suara dari ujung sambungan. Dengan heran, Ayla memusatkan segenap pendengaran pada pesawat telepon. Tak ada bunyi apa-apa, termasuk dengungan yang menandakan tiadanya koneksi.

"Halo? Bapak?"

"Di mana potongan telinganya? Kamu buang?"

Suara Bapak garau dan terbata-bata. Ayla sampai hampir menyangka yang berbicara adalah orang lain. "Dikubur Bang Fauzi di luar rumah," jawabnya.

"Jaga Erin baik-baik," sahut Bapak. "Jaga dia, dirimu sendiri, dan Fauzi. Janji?"

Keheranan Ayla kini mulai disusupi cemas. Bahkan setelah Mantir tiada, Bapak tetap takut. "Erin dan Bang Fauzi orang yang paling aku sayangi, Pak. Maksudnya, selain Bapak. Pasti aku jaga mereka. Bapak takut apa? Mantir masih bisa kirim ilmu gaib sesudah mati?"

Bapak mengeluarkan bunyi mirip anjing menyalak. Ayla butuh beberapa detik untuk menyadari bunyi apa itu: tawa yang terpatah-patah dan dipaksakan. "Entahlah," jawab Bapak.

Bisa pula Mantir meminta orang yang punya ilmu mengirimkan parang maya sesudah dia mati. Bukan karena dia jahat, tapi akibat otaknya kacau oleh sakit yang terlalu parah. Satu serangan terakhir untuk keluarga Bapak—dalam hal ini, cucunya Erin. Itulah yang ditakutkan Ayla.

Lihat selengkapnya