Ayla terbangun pada Sabtu pagi dengan perasaan aneh, seolah tubuhnya ringan separuh. Dia berbaring sambil mendengarkan napas Fauzi yang teratur. Kemudian dia menyadari penyebab perasaan aneh itu.
Mantir, orang yang bertanggung jawab atas kematian Ibu, meninggal karena sakit. Tamat sudah riwayat si pelaku yang dapat menjadi sasaran dendam Ayla. Dendam itu laksana api kehabisan minyak yang sebentar lagi ikut mati.
Seharusnya Ayla bersuka cita. Demi menjahati keluarga Ayla, Mantir memotong telinga seorang anak. Siapa pun anak itu, hati orang tuanya pasti remuk redam. Mantir memuaskan dendamnya dengan cara menyakiti dua keluarga.
Dendam nggak boleh dipelihara. Mulai detik ini, aku akan lupakan Mantir. Cukup satu kali saja hidup Ayla berantakan gara-gara Mantir, yakni sewaktu Ibu meninggal.
Ganjaran untuk Mantir bukan lagi urusan manusia. Ganjaran itu berupa derita yang lebih berat daripada sekadar vonis penjara. Ayla tak akan menyaksikannya, hanya dapat melanjutkan hidupnya.
Segampang itu? Tentu tidak. Dendam Ayla terlalu lama bersarang dalam jiwanya. Dia butuh waktu untuk mengelupas habis amarah, kepahitan, dan hasrat melihat si pelaku dihukum.
Dari semua itu, amarah yang paling sulit dienyahkan. Rentang waktu dua dekade telah menumbuhkan akar pada emosi Ayla. Dia terbiasa, bahkan telanjur nyaman, dengan amarahnya pada si pelaku. Sedikit demi sedikit, dia harus mengikis kebiasaan itu.
Di samping Ayla, Fauzi masih tidur nyenyak. Badannya seperti memiliki jam yang bisa disetel: bangun pukul setengah lima di hari kerja, dan pukul lima pada akhir pekan. Dalam kesehariannya, Fauzi menyukai hal-hal yang serba teratur.