Renggut

Eve Shi
Chapter #17

Jalur Belakarang Rumah

Erin menutup pintu belakang rumahnya dan mengenakan sandal. Selama dua hari ini, cuaca mendung dari pagi sampai petang. Bila matahari terbenam, suhu udara turun dan angin berembus kencang. Namun, karena rumah Naomi dekat, Erin tidak merasa perlu memakai sweater.

Jalur aspal di depan rumah jauh lebih lebar dan terang. Sebaliknya, jalur belakang lebih seru. Melewatinya malam-malam membuat Erin merasa bagai tokoh komik, seorang petualang yang sedang menerobos sarang musuh.

Tanah di jalur sempit itu cenderung kering sebab dinaungi pinggiran atap. Erin belum pernah diadang becek atau mengurangi laju akibat tanah licin. Seraya melangkah, dia teringat Kakek, ayah Mama.

Erin, Mama, dan Papa terakhir berjumpa Kakek sebulan lalu. Pagi-pagi sekali mereka datang ke rumah beliau. Setelah mencium punggung tangan Kakek, Mama berkata, "Bapak sehat?"

Kakek tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Mama. "Umur segini, Bapak masih kuat. Masih rutin jalan kaki tiap sore. Hanya lebih lambat memasukkan benang ke lubang jarum saja."

Mama, Papa, dan Kakek mengobrol sementara Erin duduk terkantuk-kantuk. Mama bertanya apakah Kakek ingin tinggal bersama di kompleks perumahan karyawan. Dengan tegas Kakek menyatakan bahwa tempat tinggalnya sekarang adalah yang paling pas.

"Gampang ke Purnama Tailor, ke mana-mana, banyak teman juga. Bapak tidak kesepian, La. Bu Sanna pasti sama, nyaman di Ujung Pandang, biarpun jauh dari anak-cucunya."

Erin menebak, Mama bertanya demikian karena ingin lebih dekat dengan Kakek, satu-satunya orang tua yang masih hidup. Ibu Mama meninggal akibat serangan jantung. Kematian itu musibah terbesar bagi Kakek dan Mama. Erin pasti menangis lama sekali jika Mama sakit dan meninggal.

Mama ikut aku aja sampai aku gede. Aku jaga Mama biar sehat terus. Aku bikinin makanan bergizi dan ajak olahraga. Kalau Mama udah tua kayak Kakek, aku belikan semir rambut buat tutupi uban.

Lamunan Erin terpotong saat kakinya menginjak sesuatu di jalur tanah.

Lihat selengkapnya