Renggut

Eve Shi
Chapter #18

Jejak

Seisi rumah terang benderang. Pintu-pintu terkunci. Tak ada yang mendobrak masuk maupun bunyi-bunyi tidak jelas. Namun, Erin masih gelisah.

Barusan makhluk itu menyombong bahwa dia berani masuk ke rumah kapan saja. Dan sekarang Erin sendirian, jauh dari Mama dan Papa.

Rasa takut kembali menancapkan cakarnya pada Erin. Selekasnya dia harus lari ke rumah Naomi, lewat jalur aspal yang diterangi lampu. Makhluk itu tak akan mendekat bila Erin bersama manusia lain. Setelah Mama dan Papa selesai main bridge, barulah Erin pulang.

Makhluk apa itu sebenarnya? Dari mana dia datang? Apakah dia benci Erin, karenanya merusak Daisy? Erin berpaling ke pintu belakang, lalu teringat Naomi.

Saat ini dia pasti menunggu-nunggu Erin. Sembari bermain Monopoli nanti, Erin akan bercerita tentang makhluk itu. Naomi mungkin percaya, mungkin mengira Erin mengigau. Namun, yang penting, Erin menumpahkan ketakutannya pada seseorang.

Dia menunduk, akan bangkit dari lantai, dan sadar tangannya kosong: dia tidak lagi memegang kotak Monopoli.

"Di mana...!?"

Seruan Erin senyaring gelas pecah dalam rumah yang sepi. Buru-buru dia berdiri, menoleh ke segala arah sambil memutar otak.

Sewaktu belum mengenali kepala Daisy, dia menggeser kotak Monopoli ke depan dada. Tangan kiri memegang kotak dan tangan kanan mengambil kepala boneka. Suara makhluk itu, atau desau angin yang mirip suara, membubarkan konsentrasi Erin. Dia kabur sementara kotak Monopoli terlupakan.

Bagaimana ini? Jika Erin menunda pencarian, kotak Monopoli mungkin hancur seperti Daisy. Sambil menguatkan diri, dia berjingkat menuju pintu belakang.

Harapannya, bahwa kotak itu terjatuh di dapur, langsung buyar. Lantai dan meja bersih dari barang yang bukan peralatan dapur. Erin sampai mengintip oven dan kulkas, kendati paham kotak itu mustahil ada di dalamnya.

Agar Naomi tidak kecewa dan kotak Monopoli selamat, pilihan Erin hanya satu. Dengan tangan serasa digantungi beban belasan kilo, dia memutar kunci pintu belakang.

Begitu pintu terbuka, Erin berseru lega: kotak Monopoli menggeletak di luar ambang pintu. Erin tidak usah kembali ke jalur tanah sempit yang gelap. Dia berjongkok, menyambar kotak, dan menutup pintu.

Di dapur, Erin mengibas-ngibaskan kotoran dari kotak. Tak lupa dia mengecek kelengkapan isinya: papan permainan, dadu, kartu, dan bidak. Selagi dia mencuci tangan di wastafel, rasa bingung dan takutnya berangsur luruh.

Makhluk itu hanya menculik Daisy. Kotak Monopoli, yang jelas-jelas tercecer di luar, dibiarkannya saja. Besar kemungkinan gangguannya berhenti pada Daisy.

Lihat selengkapnya