Renggut

Eve Shi
Chapter #19

Pengecut

"Aku dan Erin ke pasar pagi ini," kata Ayla. Sarapan baru saja selesai dan Ayla sedang mengatur uang dalam dompet. "Tolong panggilkan mobil."

Fauzi mengiakan, lalu menelepon dispatcher. Sejak kemarin sore, mereka hanya bicara seperlunya. Fauzi rupanya masih membiasakan diri dengan fakta bahwa keluarga Ayla pernah jadi sasaran parang maya, dan Ayla bercerita hanya karena terpaksa.

Sebagai anak yang ditinggal ayahnya sewaktu kecil, Fauzi bercita-cita mendampingi Erin hingga dewasa. Wajar saja dia bereaksi keras pada ancaman atas Erin. Lagi-lagi Ayla harus bersabar, kali ini menunggu redanya kekesalan Fauzi.

Ayla dan Erin tiba di Pasar Klandasan saat matahari menggantung persis di atas cakrawala. Perahu-perahu nelayan yang berlayar sepanjang malam telah pulang. Ikan-ikan hasil tangkapan mereka bertumpuk di sisi pasar yang berbatasan dengan tepi pantai.

Erin berjalan sambil menatap laut dengan khusyuk, tak menghiraukan bau amis. Sepagian ini dia nyaris tak bersuara. Sesekali dia memindai lantai, seperti masih mencari Daisy. Ayla tidak berkata apa-apa, membiarkan Erin bergulat sendiri dengan perasaan kehilangan.

Di dalam pasar, kios-kios berderet saling berhadapan dan dibatasi lorong sempit. Masing-masing kios memiliki langit-langit tinggi dan dinding kayu hitam. Perhentian utama Ayla adalah penjual beras. Setelah tawar-menawar dengan pedagang, dia berlalu sambil menjinjing dua liter beras. Seperti biasa bila ikut Ayla berbelanja, Erin mengekorinya tanpa bunyi. Ayla baru pulang setelah membeli pisang, buah wajib di rumah mereka.

Lihat selengkapnya