Setelah mandi dan mengeringkan rambut dengan hair dryer, Erin meninggalkan kolam renang. Dia melewati mesin popcorn berdinding kaca yang menguarkan hawa hangat. Popcorn meletup di dalam pemanggang berbentuk panci dan bertumpahan keluar. Kudapan ini gurih, tapi Erin kurang suka karena serpihannya mudah terselip di sela gigi.
Kolam renang terletak di lantai atas club. Lantai yang sama menyediakan gym dan ruang sauna. Erin menuruni tangga ke lantai bawah yang juga memiliki beragam sarana rekreasi.
Dari anak tangga terbawah, dia menikung ke kanan dan mendorong pintu berpanel kaca gelap. Ruang bowling, yang menyatu dengan bar, berada di sebelah kiri pintu. Mama kerap bermain bowling, baik bersama ibu-ibu lain maupun sendirian.
"Pindah ke sini bikin Mama jadi senang olahraga," komentar Mama pada Papa suatu ketika. "Papa nggak mau sering-sering ke gym?" Sambil tertawa, Papa menjawab, "Papa lebih cocok berjemur sambil nonton Mama dan Erin renang."
Bola bowling terlalu berat bagi Erin. Tenaganya tidak cukup untuk melempar bola, apalagi secara terarah. Bila Mama bermain bowling, Erin duduk-duduk di bangku bar. Pada jam-jam tertentu, bartender menyajikan roti lapis dengan daging ayam dan selada, menu yang boleh disantap anak-anak.
Ruang bowling dan bar masih tutup. Lampu-lampunya yang padam tampak dari balik dinding kaca. Di sebelah kanan Erin, meja-meja biliar berderet. Semuanya diselubungi kain terpal, sebab waktu bermain biliar adalah malam hari.
Erin menyusuri koridor sempit yang berujung pada bioskop. Bila jemu, dia dan Naomi sering datang ke bioskop, menonton film apa pun yang sedang tayang. Club selalu memutar film Barat, sedangkan Mama dan Tante Lusia penggemar film Indonesia. Solusinya, mereka menonton di bioskop Pasar Klandasan.
Bioskop club mulai menayangkan film pada sore hari. Sekarang waktunya pegawai membersihkan kursi dan lantai. Erin sedang ingin memboroskan waktu demi melupakan peristiwa tadi malam serta kejengkelan akibat ditabrak Marco. Dia membungkuk, lalu mengintip lewat bundaran kaca pada sisi bawah pintu.
Berbeda dari ruang bowling, lampu bioskop menyala. Pada dinding yang berhadapan dengan pintu, terpasang layar yang lebarnya hampir meliputi seluruh dinding. Layar berwarna putih polos karena sedang tak ada film tayang.