Lari! Balik ke atas, jangan di sini lagi! Kata-kata ini saling bertumpang tindih dalam kepala Erin, berisik dan mendesak. Namun, tenaganya seperti tersedot. Jangankan lari, berdiri pun dia tak kuat. Dia hanya mampu berjongkok dan terbeliak pada layar.
Darahnya banyak gitu kok, nggak dibawa ke rumah sakit? Masa dia kira aku yang—yang bikin kupingnya hilang?
"Sakit..."
Gadis kecil di layar merintih pilu. Bulu roma Erin berdiri. Suara dari dalam bioskop semestinya terdengar sayup-sayup dari luar. Akan tetapi, rintihan tadi sejelas bila gadis kecil itu tergolek di samping Erin.
"Sakit... Bapak... Ibu..."
Pria berkaus putih mengucapkan sesuatu. Erin tidak menangkap kata-katanya, hanya suaranya yang bernada membujuk. Gadis kecil itu tidak menyahut. Matanya terpejam dan dia mengerang kesakitan.
Adegan di layar berganti. Pria kaus putih hilang, digantikan oleh dua orang: pria dan wanita dewasa. Sama seperti pria tadi, mereka memunggungi layar.
Wanita itu memakai kebaya dan kain batik. Dia terisak-isak dengan kepala terkulai dan rambut tergerai kusut. Pria di sampingnya menutupi wajah dengan tangan, bahunya terguncang oleh tangis tanpa suara.
Tadi gadis kecil itu memanggil ayah dan ibunya. Erin yakin, kedua orang inilah yang dimaksud.
Mendadak layar kembali putih polos. Namun, adegan orang tua menangisi putri mereka terasa membekas pada bola mata Erin. Seiring dengan itu, badannya lemas dan dia lagi-lagi terduduk.
Gadis kecil di layar itu sama sekali asing bagi Erin. Dia pun tak pernah mengenal anak yang telinganya putus. Jika murid sekolahnya atau anak karyawan kompleks cedera demikian, Naomi pasti bercerita pada Erin. Sahabatnya itu gesit dalam menjaring dan berbagi berita.
Usia sebaya Erin. Telinga kiri hilang. Apakah gadis kecil di layar adalah makhluk yang ada di rumah Erin?
Dia membuntuti Erin dari rumah sampai club, memaksa Erin menyaksikan nasibnya. Makhluk keras kepala begini pasti sulit diusir. Kelak, dia mungkin bahkan mencelakakan Erin.
"Hayo!"
"Aaah!" jerit Erin. Dengan kalut, dia berdiri sambil berputar, setengah menyangka gadis kecil itu keluar dari layar.
Alih-alih, Marco berdiri di belakang Erin. Wajahnya berseri oleh seringai gembira. Jelas sekali bahwa dia menikmati kekagetan Erin.