"Tadi kamu lompat dari papan?" tanya Lusia pada Naomi. Dia sedang memangku Joshua dan mengeringkan badan putranya dengan handuk. Pertanyaannya tidak bernada interogasi, melainkan murni ingin tahu.
Naomi mengangguk dengan air muka waspada, pertanda siap dimarahi. "Latihan, Mami. Lompatku udah bagus, kenapa nggak dari papan tinggi sekalian."
"Mami bukan melarang," sahut Lusia. "Mami kaget, tahu-tahu kamu lompat dari papan tinggi. Lompat dari papan rendah saja jarang."
"Tapi aku bisa, lho!" Wajah Naomi berubah semringah. "Deg-degan dikit sih, waktu terjun ke air. Habis itu, wih! Rasanya kayak jagoan."
Lusia menggosokkan handuk pada rambut Joshua. "Iya, iya, kamu bisa. Mami cuma pesan, besok-besok bilang Mami dulu. Kaget Mami lihat kamu tahu-tahu terjun begitu."
Naomi tertawa lepas. Tawa itu mengisyaratkan dia siap mengulangi aksinya detik ini juga. Ayla menyugari rambut yang mulai kering sambil tersenyum simpul pada dialog ibu dan anak ini.
Dahulu, Ayla kerap berceloteh tentang berbagai hal pada Ibu. Main petak umpet itu yang seru pilih-pilih tempat sembunyinya, Bu! Kereta api di Jawa boleh dinaiki semua orang, ya? Bu, aku mau belajar naik sepeda.
Ibu biasanya menjawab seraya membelai rambut Ayla. Ingat, sembunyinya di tempat yang gampang keluar. Iya, Jawa beda dari Balikpapan. Di sini, dulu kereta apinya untuk pekerja pabrik dan angkut barang. Bagaimana kalau Ayla menabung untuk beli sepeda? Nanti Ibu tambahi tabunganmu.
Ayla sempat bercita-cita menjadi orang tua seperti Ibu. Menyokong impian anak dan menanggapi ucapannya dengan serius alih-alih asal ceplos. Lalu lahirlah Erin, yang berbicara dan meminta bantuan hanya bila perlu. Kelewat mandiri anak itu, kata Ayla dalam hati, tanpa tahu apakah dia bangga atau merasa tersisihkan.
Lusia menurunkan Joshua dari pangkuan sampai anak itu berdiri. "Kita pulang sekarang, Mbak?" tanya Lusia pada Ayla.
"Ya. Sebentar, aku panggil Erin dulu."