Renggut

Eve Shi
Chapter #24

Pinang Dibelah Dua

Erin mengangkat kain terpal semampu tenaganya sementara Ayla mengeluarkan Marco. Anak itu pingsan, dan Ayla tidak tahu apa saja cederanya, sehingga dia sangat berhati-hati. Ketika Marco sudah lolos dari kain terpal, peluh mengaliri pelipis Ayla.

Sambil tersengal-sengal, dia membaringkan Marco di lantai. Wajah Marco pucat dan denyut nadi di lehernya lemah. Yang paling mengkhawatirkan, posisi bahunya ganjil. Sepertinya itulah asal bunyi tulang patah yang didengar Erin.

"Tunggui Marco," kata Ayla. "Mama panggil Tante Inneke."

Dia berlari naik tangga sampai ke kolam renang. Inneke sedang berjemur di kursi sambil berselunjur. Kacamata renangnya terpasang di atas dahi. Tanpa basa-basi, Ayla membungkuk di samping Inneke dan menyentuh bahunya.

"Zus Inneke, Marco pingsan di tempat biliar!"

"Marco?" seru Inneke. Dia bangkit dari kursi dan mulai bertanya, tapi Ayla sudah berlari kembali ke tangga. Beberapa orang berpaling padanya dengan terkejut, tapi dia tak peduli. Inneke harus segera melihat kondisi putranya.

Di ruang biliar, Erin berlutut dekat Marco. Saat Ayla dan Inneke tiba, Erin melompat berdiri seperti disengat listrik. Inneke terperangah sejurus, lalu berteriak.

"Marco! Ya, Tuhan!" Inneke memelesat ke sisi putranya, hampir saja menubruk Ayla. Erin merapat ke samping ibunya, dan Ayla memeluknya dengan satu tangan. Sambil menepis rambut yang jatuh ke wajah, Inneke mendongak pada Erin. "Dia kenapa?"

"Marco lagi main, Tante. Terus masuk ke belakang terpal. T-terpalnya berat, nempel di mukanya. Dia nggak bisa napas."

Tatapan Inneke berubah tajam. "Lalu bahunya?"

Erin terperanjat. "Bahu?"

"Kamu tidak lihat? Bahu Marco lepas dari sendinya!" Inneke setengah membentak. "Dia bukan cuma ketutupan kain terpal, ya kan? Kenapa Marco sebenarnya? Jawab yang jujur!"

Ketakutan, Erin mundur ke belakang Ayla. Hati Ayla panas karena putrinya dibentak-bentak tanpa alasan, tapi dia mencoba berkepala dingin. Di posisi Inneke, dia pun pasti sulit mengendalikan emosi.

"Erin cerita, Marco tadi main ke balik kain terpal," ujar Ayla, memaksakan diri bicara dengan lemah lembut. "Kainnya berat, sampai dia lama baru bisa keluar. Aku rasa, bahunya cedera gara-gara itu."

Lihat selengkapnya