"Ayla," sapa gadis kecil yang bagai menjelma dari layar bioskop itu. Perawakannya mungil dan sepasang matanya berbinar. Terpikir oleh Erin bahwa tubuh gadis ini muat di kolong teras, walau belum tentu di balik batang kaktus. "Main, yuk."
Erin menggeleng kuat-kuat. "Bukan! Aku Erin. Ayla itu mamaku. Kamu salah orang!"
"Kamu Ayla, kok!" kilah gadis kecil itu. Lebam dan noda tanah tampak hitam pada kulitnya yang terlalu putih. Dia maju tersaruk-saruk, menitikkan darah dari sisi kepala. "Muka sama. Rambut sama. Kamu anaknya Pak Dipta."
Sambil terus menggeleng, Erin mundur sampai nyaris tersandung kaki Marco. "Aku nggak bisa main," katanya. "Harus minta tolong temanku diobati."
"Nggak ada yang obati aku." Gadis kecil itu berhenti. Kendati dia berbisik, suaranya memenuhi ruang biliar sampai ke tiap sudut. "Bapak-ibuku nggak punya uang. Aku cuma diangkut pulang, mati di rumah..."
Bagai ada batu tersangkut di leher Erin. Mati. Adegan pada layar bioskop, detik-detik terakhir nyawa gadis kecil itu, terputar dalam ingatannya.
Darah mengucur pada balai-balai. Gadis kecil itu sekarat. Kedua orang tuanya menangis. Itu pulalah yang akan terjadi jika Erin yang celaka. Terpisah dari Mama dan Papa, tidak bisa memeluk mereka lagi, sementara mereka tersayat oleh derita kehilangan.
Gadis kecil ini pasti kangen orang tuanya. Dia kesepian dan ingin punya teman main. Namun, mengapa teman yang dijanjikan adalah Mama yang sudah dewasa?
Ayla itu mamaku! Erin hampir mengulangi ucapan tadi, lalu menelannya. Nanti dia ganti ikuti Mama dan barang Mama dirusak. Om atau Tante yang kenal Mama dibikin luka kayak Marco. Tapi, aku takut dia ikuti aku terus.
"Teman lain nggak ada?" tanya Erin. "Teman kamu waktu ... waktu belum disuruh main sama Ayla."
Binar mata gadis kecil itu meredup. Bibirnya melengkung ke bawah, bergetar, dan Erin menunggu tangisnya pecah. Alih-alih, gadis kecil itu menjawab.
"Harus sama Ayla. Bisanya cuma sama dia."
"Kok, gitu?"
Gadis kecil itu melirik ke samping. "Pak Dipta udah bawa kupingku. Aku mesti nurut omongan Pak Dipta."
Batu dalam leher Erin terasa tumbuh ke bawah, menekan paru-paru. Pak Dipta. Kakek, ayah Mama. Memotong bagian tubuh seorang anak, lalu menyuruh anak yang mati itu bermain dengan Mama. Mungkin saja gadis kecil ini berdusta, tapi naluri Erin mengatakan sebaliknya.