Renggut

Eve Shi
Chapter #27

Prasangka Maut

"Teman Bapak itu namanya Haman," ujar Bapak. Wajahnya kuyu, mirip bulan-bulan pertama Ibu tiada. "Sejak muda, dia senang belajar macam-macam ilmu gaib. Bakatnya ternyata besar, dan ilmu yang dia praktekkan selalu ampuh. Keluarga Haman tidak suka, tapi kami, teman-temannya, kadang terbantu."

Bapak dan Ayla duduk di kursi rotan dengan bantalan berisi kapuk keras. Ruang tamu terasa mengecil dibandingkan saat Ayla masih tinggal di sini. Bukan saja karena dia bertambah tinggi, tapi juga akibat pengakuan Bapak. Kata pengantarnya barusan saja sudah menyesakkan dada.

Hari Minggu adalah waktunya Purnama Tailor libur. Apa pun kegiatan Bapak, beliau selalu ada di rumah pada pukul empat sore. Tadi, begitu Bapak membukakan pintu, Ayla bertanya tanpa tedeng aling-aling.

Ada anak yang sudah mati datangi Erin, Pak. Anak itu bilang, Bapak suruh dia main sama aku. Siapa dia? Kiriman Mantir juga?

Laksana pasir diterjang air laut, pertahanan Bapak runtuh. Beliau tertatih-tatih menuju kursi rotan, lalu mengenyakkan badan dengan lunglai. Ketika Ayla ikut duduk, Bapak bertanya.

Kamu ingat? Kita ke Semarang sesudah Ibu meninggal. Di sana, Bapak pergi ke rumah teman. Pulangnya sore dan tangan Bapak luka. Teman Bapak itu namanya Haman.

"Sampai Bapak kerja di Balikpapan, dia tetap giat belajar ilmu," ujar Bapak. "Begitu Mantir mengaku Ibu meninggal karena parang maya, Bapak ingat Haman. Bapak tulis surat kilat untuk dia. Isinya minta tolong dia bantu lindungi keluarga kita. Terutama kamu."

Mata Bapak berkilau oleh air mata.

"Bapak pernah bilang, tidak ingin hidup lagi kalau Ayla kenapa-kenapa. Itu ucapan dari lubuk hati paling dalam, Nak. Kamu tidak boleh celaka. Jalanmu masih panjang. Kamu berhak bahagia. Sedikit pun Mantir tidak boleh melukaimu."

Salah satu syarat bantuan Haman adalah wajib bertemu muka. Maka, berkedok liburan naik kelas, Bapak mengajak Ayla ke Semarang. Pagi itu, Bapak pergi ke rumah Haman dan menunggu mantra dipersiapkan.

Keluarga kandung Haman, selain anaknya yang tinggal bersama mantan istri, adalah seorang adik laki-laki. Dia berjualan bumbu dan bahan-bahan dapur lainnya di pasar, serta memiliki anak bungsu bernama Ratih. Selama liburan sekolah, Ratih membantu orang tuanya berjualan.

Sore itu, Ratih pulang sebentar ke rumah. Di tengah perjalanan balik menuju pasar, dia tak sengaja menabrak seorang pemuda. Ketika Ratih lanjut berjalan, pemuda itu membentak: Dompetku hilang! Barusan ada di saku. Kamu yang ambil? Ngaku! Kembalikan dompetku, monyet kecil!

Ratih membantah dan menangis ketakutan, tapi pemuda itu mengotot. "Konon, dia anak menteri dari Jakarta yang sedang liburan," ujar Bapak. "Sedang jalan-jalan di Semarang sambil bawa pengawal. Dia kalap, suruh pengawalnya menggeledah Ratih. Dompet tidak ketemu, si anak menteri mengamuk dan ... suruh pengawalnya pukuli Ratih."

Saat orang tua Ratih mendapati anak mereka terkapar dan luka-luka, pemuda tadi sudah pergi jauh. Saksi kejadian hanya segelintir warga yang bersembunyi karena tidak berani ikut campur. Dengan hati penuh bilur, orang tua Ratih membawa anak mereka pulang.

Lihat selengkapnya