Ayla duduk terpaku, kehilangan kata-kata. Daisy adalah teman Erin yang pertama dan paling lama. Pantas saja Ratih mulai dengan menyasar boneka beruang itu.
Ratih merasakan bahwa orang yang dia lindungi tinggal di rumah Ayla. Karena Ayla sudah dewasa, Ratih mengira Erin-lah orangnya. Dia cemburu dengan siapa pun yang dekat dengan Erin.
Marco sekadar teman sekelas Erin. Mungkin Ratih salah sangka karena mereka berdua sedang sama-sama berada di ruang biliar. Naomi, yang jelas-jelas teman akrab Erin, bisa menjadi sasaran selanjutnya.
"Semua benda atau manusia dekat Erin bisa diserang. Benar begitu, Pak?"
Bapak menoleh sampai pandangan mereka berserobok. Sorot matanya sarat oleh rasa bersalah. "Ya," kata Bapak lirih.
Ayla serta-merta berdiri dari kursi. "Seperti orang yang serumah dengan dia? Seperti Bang Fauzi?"
"Ayla..." kata Bapak, tapi Ayla sudah keluar dari ruang tamu.
"Aku pulang sekarang. Harus pastikan Bang Fauzi dan Erin nggak apa-apa."
"Tunggu!" Bapak menyusul Ayla yang tengah memakai sepatu. "Bapak ikut. Fauzi harus dengar semuanya dari kita berdua. Kita selesaikan ini sama-sama, sebagai satu keluarga. Sudah terlalu lama Bapak tidak jujur, tapi belum telat untuk bertanggung jawab."
Hati Ayla terasa getir. Keluarga. Orang-orang dengan pertalian darah dan jiwa. Demi saling menjaga, mereka kerap menghalalkan segala cara, alias cinta justru menciptakan petaka.
***
Mobil yang membawa Ayla dan Bapak tiba di depan rumah bersamaan dengan Fauzi mendaki bukit.
Ayla menutup pintu mobil sambil menatap suaminya. Dalam sinar matahari yang meredup, rambut Fauzi terlihat acak-acakan dan dia tidak memakai alas kaki. Penampilan Fauzi begitu bertolak belakang dengan sifatnya hingga kepala Ayla serasa dikepung raungan sirene.
"Fauzi?" Suara Bapak menyela raungan itu. Beliau turun dari pintu penumpang satu lagi dan memutari mobil sampai ke depan Ayla. "Di bukit ada apa?"
"Kita ke sana," tukas Ayla. Secepat mungkin dia akan mencegat Fauzi. Marco harus jadi korban terakhir dari riwayat pelik keluarga mereka. "Terima kasih, Pak," kata Ayla pada sopir.