Renggut

Eve Shi
Chapter #29

Getah

Hampir saja Erin menjerit: pisau itu berasal dari dapur rumahnya. Bilahnya pendek, tapi tajam karena pisau baru dibeli pekan lalu.

Inikah senjata yang dipakai memenggal leher Daisy? Akankah makhluk itu memenggal leher Erin juga? Sejenak dia dicekam ngeri sampai lupa rencananya untuk kabur.

Makhluk itu mengayunkan pisau. Bunyi desirnya bagai angin yang menerpa wajah Erin. "Aku yang kasih tahu kamu sekarang," tukas makhluk itu. "Kalau kamu nggak mau main sama aku—"

"Ratih!"

Dari jalur naik bukit, Mama berlari menuju kerangka rumah. Ketika Mama berangkat ke rumah Kakek, rambutnya diikat dengan rapi. Kini rambut Mama terurai, berkibar-kibar bak bendera. Erin tercengang, lalu hampir ikut berseru saking leganya.

Mama berhenti lari. Di belakangnya, Kakek berjalan dengan susah payah sambil tersengal. Rambut dan rona wajahnya abu-abu, sehingga Kakek tampak bertambah tua sepuluh tahun.

Mama! seru Erin dalam hati. Siapa Ratih? Kenapa dia kira Mama masih kecil?

"Ratih, aku Ayla," ujar Mama. "Ini Pak Dipta, ayahku. Kemarilah. Selesaikan urusanmu dengan kami, dan hanya dengan kami."

Pelan-pelan makhluk itu memutar badan. Gerakannya kikuk, seperti belum mahir mengendalikan tubuh baru. Yang mantap hanya genggamannya pada pisau.

"Ibu bukan Ayla," sergah makhluk itu. Bahkan kini pun, Erin belum terbiasa melihat sosok Papa bicara dan bertingkah bak anak sebayanya. Rasanya seolah Papa jadi tidak waras. "Ayla masih kecil, kayak aku."

"Itu dulu," jawab Mama. "Sembilan belas tahun yang lalu. Kamu lihat Pak Dipta?" Mama menunjuk Kakek yang berdiri di sampingnya. "Beliau sudah seumur ini. Jauh lebih tua dari Pak Dipta yang kamu kenal."

***

Guntur menggelegar di angkasa. Getarannya menjalari kulit Ayla yang sedang menahan napas. Makhluk itu tak segera menjawab, dan bola matanya bergulir ke arah Bapak.

Ayla menggigil, merasa gegar dan dikhianati. Yang berdiri di hadapannya adalah raga Fauzi, tapi diisi jiwa orang lain. Ibarat rumah kosong yang sarat bayang-bayang mirip manusia.

"Perhatikan baik-baik, Ratih," kata Bapak pada makhluk itu. Beliau menuding rambut dan wajahnya. "Pak Dipta sudah tua. Ayla sekarang seumur ibumu dulu. Itu Erin, anaknya."

Lihat selengkapnya