Masa terberat dalam hidup Ayla pun dimulai. Setiap malam, dia berbaring di samping Fauzi, mendengarkan bunyi napas suaminya sampai dia sendiri tertidur. Terkadang dia menangis, lalu mengompres mata demi mengurangi bengkak agar tidak tampil menyedihkan.
Sore itu, setelah Fauzi dibaringkan di tanah, petugas sekuriti kompleks datang. Jeritan Ayla dan Erin rupanya terdengar sampai ke pos sekuriti. Ayla meminta petugas untuk menghubungi klinik, lalu menyuruh Erin pulang.
Dari klinik, Fauzi dirujuk ke rumah sakit. Dia menjalani operasi untuk menjahit luka-luka wajah dan telinganya. Setelah operasi, Fauzi tak kunjung siuman. Diagnosis dokter tidak menemukan gejala penyakit apa pun, hanya bahwa kondisi Fauzi persis orang tidur pulas.
Tiga hari setelah peristiwa di bukit, Bapak berangkat ke Semarang. Beliau membawa serta potongan telinga yang telah digali Ayla dari dasar pohon ceri. Agenda pertama Bapak adalah berziarah ke makam Eyang Kakung dan Eyang Putri. Barulah kemudian Bapak bertamu ke rumah Seno.
Putra Haman itu menerima kedatangan Bapak dengan sopan. Seno mengaku, kegemaran ayahnya belajar ilmu gaib adalah faktor utama perceraian orang tuanya. Ibu Seno tidak suka suaminya meraup uang dari praktek ilmu gaib, kendati jumlahnya tak seberapa.
Seno mengantar Bapak ke rumah orang tua Ratih. Pasutri uzur itu tinggal dengan Rudra, anak sulung mereka. Di hadapan orang tua Ratih, Bapak bersujud meminta maaf.
"Egois sekali Bapak waktu itu." Bapak menyeka linangan air mata. "Ibu sudah tidak ada, jadi Ayla harus tetap bersama Bapak. Peduli amat orang tua lain sengsara. Hasilnya, kamu yang menderita. Kalau kamu izinkan, Bapak ingin bersujud minta maaf juga."
"Nggak perlu," kata Ayla dengan nada tawar. Berlama-lama di masa lalu hanya menyuburkan benci dan dendam. Dia lebih suka menatap ke depan dan menjalani hidup sebaik-baiknya. Klise, sekaligus pilihan yang paling diharapkan mampu menyembuhkan hati.
***
Dari jalan raya, Ayla berbelok ke jalur setapak menuju rumah keluarganya. Anak-anak yang biasa bermain pada sore hari belum kelihatan. Langkah Ayla diiringi bunyi siaran radio yang sember dari salah satu rumah.
Sore ini dia pulang bersama-sama para pegawai Purnama Tailor. Bapak masih menggarap jahitan pesanan pelanggan. Ayla menawarkan diri untuk membantu, dan Bapak menampik.
"Duluan saja," kata Bapak, menyesap kopi tanpa gula dalam gelas kaleng. "Rompi ini sedikit lagi selesai."
Sepulangnya dari rumah keluarga Ratih di Semarang, rambut Bapak seluruhnya beruban. Kacamata bingkai hitam bertengger di hidungnya sejak bangun sampai tidur lagi. Bila jalan-jalan pagi, Bapak sering membungkuk dan langkahnya pendek-pendek.
Ayla, seperti biasa, mencoba berfokus pada asa positif. Bapak tidak punya penyakit kronis dan kemungkinan tetap sehat untuk masa yang lama. Umur enam puluh, tujuh puluh, dan seterusnya sekadar angka. Ayla harus tetap optimis, sekaligus bertindak praktis dengan membantu Bapak menjaga kesehatan.
Dia memperingatkan, "Jangan pulang malam-malam. Keburu dingin makanannya." Bapak hanya mengiakan dan menginjak pedal mesin jahit.
Sewaktu kecil, Ayla berjalan kaki dari sekolah ke Purnama Tailor. Kini pun dia berjalan pulang dari toko jahit ke rumah keluarganya. Ujung sepatu kulitnya mulai menganga, dan Ayla mencatat dalam hati: Menabung untuk sepatu baru.