Renggut

Eve Shi
Chapter #31

Tragedi Dua Keluarga

"Ugh!" teriak Ayla, mencampakkan kertas dan mengibaskan jemari dengan jijik. Tangannya menggeletar, teringat momen dia memasukkan potongan badan Daisy ke kantong plastik. Kertas mendarat di lantai, dan halaman tempat telinga melekat menghadap ke atas.

Dia memalingkan wajah dengan pelipis berdenyut-denyut. Sekian bulan lalu, Bapak menyerahkan potongan telinga Ratih pada keluarganya, sebab mereka paling berhak atas anggota badan Ratih. Ternyata Bapak juga menuliskan alamatnya di Balikpapan beserta nama Ayla.

Sekarang keluarga Ratih mengirimkan balik potongan telinga. Mantra macam apa lagi ini? Ayla melirik kertas, lalu menyadari adanya tulisan di lembar kedua yang tidak dilekati telinga.

Dia memungut kertas dengan ujung jari dan memisahkan kedua lembarannya. Tulisan pada lembaran kedua besar-besar dan berantakan, pertanda digoreskan dengan tergesa.

 

Bapak dan ibu saya sakit-sakitan sesudah menerima potongan telinga. Mereka sering mimpi disambangi Ratih sampai mengigau. Tidur tidak tenang, bangun ketakutan.

Saya tanya orang pintar. Katanya, sukma Ratih telanjur terikat dengan Ayla. Orang tua saya bisa sehat sesudah Ayla tepati janji jadi teman Ratih. Sampai janji ditepati, keluarga saya akan terus kena nasib sial.

Rudra, kakak Ratih.

 

Pelipis Ayla berdenyut makin kencang. Tenggorokannya pedih, seakan dia menelan duri. Dia meremas surat Rudra dan melemparnya ke sudut ruangan.

Segala upaya keluarga mereka percuma saja. Perjalanan Bapak menemui orang tua Ratih jadi mubazir. Fauzi sakit, Erin pindah sekolah, dan Ayla berburu kerja, tapi masalah dengan Ratih mundur ke titik semula.

Ayla memejamkan mata, menekankan kedua telapak tangan pada wajah, dan sebuah suara berbisik, "Ayla."

Mata Ayla terbuka dan membelalak. Bukan. Suara itu nggak benar-benar ada. Otakku cuma lagi kisruh gara-gara surat...

Dari arah kamar tidur, Fauzi merangkak ke ruang tamu. Kepalanya terkulai dari leher yang berbulan-bulan tak ditegakkan. Bertumpu pada siku, dia menyeret badannya maju sedikit demi sedikit. Mata Fauzi menyala, persis saat Daisy ditemukan terpotong-potong.

"Ayla." Dia mendesis. "Bapak-ibuku takut sama aku. Ketemu aku di mimpi, aku malah diusir. Mereka suruh aku main sama kamu, kayak yang disuruh Pak Dipta... Ayla, kamu nggak takut aku, kan?"

Refleks Ayla mundur. Betisnya menabrak meja, tapi dia nyaris tidak sadar. "Jangan," bisiknya. "Cari teman yang bukan aku. Keluargaku sudah terlalu banyak kamu ganggu."

Lihat selengkapnya