Renggut

Eve Shi
Chapter #33

Epilog

2000

Matahari bersinar tepat di atas kepala saat Erin melintasi pelataran hotel. Bangunan berusia dua dekade itu hampir setara dengan monumen bersejarah: hotel internasional pertama di Kalimantan Timur, sekaligus bangunan berkerangka besi pertama di luar Jawa. Erin sering melewatinya, tapi baru siang ini menginjakkan kaki di bangunan utamanya yang setinggi 12 lantai.

Dia melapor pada petugas sekuriti yang lantas mempersilakan Erin masuk. Di teras hotel, peluh bertimbulan pada kening Erin. Dia membuka tas kulitnya, mengeluarkan wadah tisu, dan ponselnya mengalunkan nada dering.

Seraya menyeka kening, Erin menepi ke pinggir teras. Dari antara dompet, buku notes, wadah compact powder, dan recorder yang telah diisi kaset, dia menarik keluar ponselnya. Pada layar gawai itu tertera nama Papa.

Beberapa tahun ini, angka minus kacamata Papa bertambah. Daripada mengetik dan membaca SMS, menelepon lebih praktis bagi beliau. Erin mendekatkan ponsel Siemens hitam itu ke telinganya.

"Halo, Pa?"

"Oh, maaf. Erin lagi kerja?" tanya Papa. Suaranya nyaris tenggelam oleh percakapan pegawai Purnama Tailor. Sejak terbangun dari tidur panjang delapan belas tahun silam, Papa sulit bicara lantang.

"Masih ada waktu sedikit. Ada apa, Pa?"

"Minggu sore Erin sibuk? Papa ingin ziarah ke makam Kakek. Mendoakan orang meninggal memang bisa kapan dan di mana saja. Papa hanya lebih sreg mendoakan Kakek di makamnya."

Masalah pribadi seperti ini dapat ditanyakan di rumah. Sepertinya Papa sekadar berniat mendengar suara putrinya. Semua kerabat Papa yang masih hidup tinggal di Sulawesi. Keluarga terdekat tinggal Erin seorang. Pantaslah Papa ingin sering-sering berkomunikasi dengan Erin.

Dia memakluminya dan selalu bersabar. Lagi pula, mereka sama-sama paham alasan pengecekan Papa: beliau cemas Erin mendadak raib tanpa jejak seperti Mama.

"Bisa," jawab Erin. "Aku bisa ikut. Pukul tiga?"

Kakek wafat tujuh tahun yang lalu. Menurut pegawai Purnama Tailor, tidak ada tanda-tanda atau firasat. Seperti hari-hari biasa, Kakek menjahit pesanan pelanggan sambil menyesap kopi tanpa gula.

Tiba-tiba Kakek mengeluh dadanya nyeri. Seorang pegawai mulai berdiri dan Kakek tumbang dari kursi. Sontak para pegawai panik, dan segera membawa Kakek ke rumah sakit. Saat Papa tiba, dokter menyatakan Kakek sudah meninggal.

Serangan jantung, kata dokter. Dengan ini, semua kakek dan nenek Erin telah tiada. Oma wafat ketika Erin lulus SD.

Lihat selengkapnya