"Ibuku seperti atap yang teduh dan selalu menaungi. Ayahku seperti tiang yang menjaga agar rumah tidak runtuh. Namun ayahku terlalu keras dan kokoh untuk kudekati"
Setiap kali dia datang ke rumah itu kepalanya seperti ditusuk jarum tak kasat mata dari depan lalu tembus hingga belakang kepalanya. Nyeri sekali.
Padahal dulu tidak. Semasa kecilnya ketika ibunya masih ada, pulang ke rumah adalah hal yang paling dinantikan. Dia tidak suka keluyuran seperti anak laki-laki pada umumnya. Sepulang sekolah dia selalu melihat ibunya duduk dibalik mesin jahit tua dengan setumpuk kain-kain berwarna cerah. Bunyinya selalu mencicit ketika diputar. Tidak ada pedal, tangan ibu yang harus memutar roda di samping agar mesin jahit tua itu berfungsi.
Dia sengaja duduk di beranda cukup lama. Sambil melepas sepatunya lalu meletakkannya di rak kecil, dia menikmati sejuknya beranda yang ditanami tanaman hias kesukaan ibunya. Ada semilir angin lembut yang menerpa anak-anak rambutnya. Tenang dan teduh, meskipun udara di luar sedang panas menyengat.
Suatu hari dia meminta ibunya membuat kolam di dekat tanaman hias, dia ingin sekali memelihara ikan-ikan kecil yang sering dijual pedagang asongan di sekolahnya. Ibunya menghela nafas panjang, tapi tetap menurutinya. Dipanggilah tukang keesokkan harinya untuk membuat sebuah kolam berbentuk oval di sudut dekat jendela ruang jahit lengkap dengan filter dan suara air yang gemericik.
Dia sangat menyukai kolam itu. Setiap pulang sekolah, dia selalu membawa ikan baru untuk dirawatnya. Ikan warna-warni yang sengaja dibelinya dari efesiensi uang jajannya. Ada beberapa yang mati tiba-tiba, tapi ada pula yang bertahan hidup hingga dewasa.
Kadang jika dia lupa memberi makan ikan-ikan itu, ibunya akan memarahinya. Sebab katanya merawat hewan merupakan tanggung jawab. Maka dia pun perlahan-lahan mulai rajin dan disiplin dengan kegiatannya sehari-hari.
Setiap minggu dia menikmati sepanjang hari dengan menonton televisi. Ibunya tidak pernah menegurnya karena memang hari libur adalah hari istirahat untuk mereka. Di hari itu ibunya juga mengambil jeda untuk tidak menjahit selama sehari penuh lalu beralih dengan memasak di dapur. Terkadang dia juga membuat beberapa cemilan kue untuk dinikmati bersamanya di sore hari sambil duduk-duduk di beranda.
Baginya, sang ibunya adalah ibu yang terbaik di dunia. Ibu yang membuatnya betah berlama-lama di rumah hingga bahkan tidak tertarik untuk bermain dengan anak-anak lainnya di luar sana. Namun ketika ayahnya pulang beberapa bulan sekali dari pelayaran, suasana rumah menjadi berubah. Dia pun menjadi malas setiap kali hendak pulang.
Ayahnya begitu keras padanya. Katanya laki-laki harusnya tidak di rumah terus-menerus, harus pandai bergaul, harus punya banyak teman, harus banyak berpetualang dan merasakan pahit manis dunia, harus tahan banting dan tidak cengeng. Begitu banyak tuntutan yang ayah berikan padanya sebagai laki-laki. Seolah dunia tidak menginginkan dia untuk menjadi dirinya sendiri.
Ayahnya yang nyaris tidak pernah ada di setiap momen hidupnya selalu datang menjadi orang yang paling sok tahu. Dia mengatur, membentak tapi tidak pernah mengajarkannya secara langsung apapun yang ingin diajarkannya. Ibunya seorang wanita penurut sehingga tidak banyak berkomentar ketika laki-laki kaku itu mengubah rumah menjadi kapal tankernya. Meski tidak pernah melakukan kekerasan fisik baik padanya maupun pada ibunya, namun semua itu telah membentuk kebencian dalam dirinya pada sosok ayah. Barangkali bukan benar-benar benci, melainkan rasa jengkel.
Kini setelah bertahun-tahun lamanya, setiap kali hendak pulang ke rumah itu, dia masih merasa jengkel. Rumah itu tidak lagi menjadi tempat yang dirindukannya terutama setelah ibunya tiada. Kini hanya ayahnya yang telah pensiun yang tinggal seorang diri disana. Dan itu semakin membuatnya tidak ingin kembali ke rumah itu lagi apapun alasannya.