Renovasi Trauma

Sylvia Yenny
Chapter #1

Prolog

Trauma membuat seseorang tidak bisa melihat keindahan di sekitarnya. Dia buta warna, dia mati rasa, dia enggan percaya bahwa kebahagiaan itu nyata. Lalu hidupnya perlahan hancur seutuhnya."

~Lula~


Gadis itu berusia tujuh tahun ketika dia menyadari sosok ayah dalam hidupnya tiba-tiba menghilang. Lalu suatu hari ibunya yang sehari-hari selalu bekerja di pagi hari dan pulang hingga petang tiba-tiba keluar dari kamarnya di malam hari membawa sebuah koper besar berwarna coklat tua. Wajah ibunya berpoles make up tipis dengan bibir merah merona, rambut panjang yang sengaja digerai serta setelan baju baru berwarna cerah yang tidak pernah dilihatnya. Kepada gadis kecil yang masih setengah kantuk itu, ibunya hanya berkata agar dia tetap tinggal di rumah itu dan menjaga neneknya.

Namun ketika menyadari bahwa kata-kata sang ibu tidak lebih dari sebuah kata-kata perpisahan, air mata gadis kecil itu tidak dapat dibendung. Dia segera melompat dari tempat tidurnya lalu memeluk sang ibu. Tinggi badannya hanya sepinggan ibu sehingga dengan mudah ibunya mampu melepaskan pelukannya.

"Jangan menangis! Nenekmu nanti bangun!" sergah wanita itu.

Gadis kecil itu berusaha mengusap air mata dengan lengan tangan, tapi air mata itu tetap menerobos kelopak matanya. Kedua tangannya bergelanyut memohon agar sosok di hadapannya tidak melepaskannya. Namun wanita itu tidak bergeming. Wajahnya mengeras, rasa frustasi kembali menerpa kepalanya.

"Jangan pergi, ma!" rengek gadis kecil itu, "Jangan pergi!"

Namun sia-sia, hanya dengan satu hentakan, tubuh gadis itu terdorong ke belakang dan terjatuh. Cengkraman tangannya terlepas dan sosok perempuan itu hanya memandang sekilas seolah dia tidak berarti apa-apa. Kelopak mata gadis itu melebar. Tubuhnya terkulai. Untuk pertama kalinya dia memahami bagaimana rasanya tidak diinginkan. Lalu sepasang tangan keriput menyentuh kedua pundaknya. Dia membantu gadis itu bangkit dari posisinya.

"Tidak apa, ayo bangun. Mulai sekarang kamu tinggal dengan nenek. Anggap saja orang tuamu sudah meninggal." ucap neneknya seolah telah memahami apa yang tengah terjadi.

Namun bagaimana gadis kecil itu bisa menerima semua. Otaknya masih belum bisa memahami kata-kata sang nenek dengan sepenuhnya. Di mata gadis itu, orang tuanya masih hidup. Setidaknya salah satu dari mereka sedang berada di hadapannya. Lalu bagaimana dia bisa berpura-pura bahwa sosok itu telah meninggal? Kapan mereka meninggal? Dimana makamnya? Setidaknya jika mereka benar-benar meninggal, gadis itu masih bisa mengunjungi makam orang tuanya saat dia merindukan mereka nanti.

Lihat selengkapnya