"Membuat sesuatu yang baru dari apa yang telah ada."
"Bricolage B&D"
(Membuat sesuatu yang baru dari sesuatu yang lama)
Logo itu tidak terpampang di depan ruko atau pintu masuk, malahan dari luar ruko itu sama tidak menariknya dengan ruko-ruko lainnya. Nakula sengaja menitikberatkan interior lobby sebagai wajah dari perusahaanya. Begitu pintu kaca ruko tersebut dibuka, tampak nama perusahaannya terpampang jelas di dinding dengan akrilik bening yang di kelilingi lampu terang. Sebuah meja bulat dari marmer yang memamerkan maket rumah modern berlantai dua diletakkan di tengah. Salah satu desain arsitektur yang membuatnya dapat di terima di perusahaan arsitek ternama di Jepang.
Nakula berkata bahwa dia tidak membangun perusahaan itu dengan main-main. Meski dengan skala yang kecil, dia meletakakan impiannya pada perusahaan tersebut. Pelan-pelan dia ingin perusahaan build & desain itu dapat tumbuh dan berkembang beriringan dengan karier Lula. Kata-kata itu sempat membuat Lula terharu saat mendengarnya pada sesi wawancara mereka. Di titik putus asanya, Lula memutuskan menghubungi Nakula hari itu dan menerima tawaran pekerjaan darinya. Namun yang tidak disangka Lula adalah ternyata perusahaan itu masih dalam rencana pikiran Nakula dan baru benar-benar beroperasi setahun kemudian.
Lalu selama setahun itu, mereka berdua tidak memiliki kantor pasti. Setiap hari Lula hanya bertindak sebagai assiten pribadi Nakula sambil sesekali menemaninya keliling kota hanya untuk mengomentari beberapa desain rumah pejabat yang tidak memiliki estetika. Lula belum terikat kontrak kerja dengan Nakula waktu itu. Tapi meskipun hanya melakukan kegiatan remeh, Nakula tetap mengajinya lumayan. Sehingga Lula bisa sedikit membantu keuangan neneknya.
"Kita kasih nama apa project ini?" Sambil melahap ayam geprek porsi kedua dan tangan yang belepotan sambal, Nakula memecah keheningan diantara mereka. Bau ruang kantor itu pun semerbak dipenuhi dengan aroma cabe.
"Nama?"
Melihat kelakuan Nakula yang kesurupan setiap kali makan, Lula mendadak kehilangan selera. Tubuh Nakula jakun, tidak terlalu berisi bahkan nyaris terlihat kurus jika sedang mengenakan celana pendek. Tapi porsi makan laki-laki itu nyaris seperti kuli. Selama beberapa bulan bekerja dengan Nakula, Lula terpaksa menemani laki-laki itu makan siang dan makan malam, dia pun tidak pernah melihat Nakula pilih-pilih soal makanan. Semua jenis makanan dari warteg maupun dari restoran mahal dilahapnya. Hal itu berbanding terbalik dengan penampilannya yang necis seperti kokoh-kokoh Surabaya Barat.
"Biar kamu lebih semangat ngerjainnya, kita harus kasih nama. Menurut kamu rumah itu gimana? Mungkin kamu punya kesan tersendiri."
"Bangunan rumah itu tua tapi masih kokoh, hanya atapnya saja yang terlalu rendah juga minim ventilasi, makanya terkesan agak pengap. Perabotannya juga terlalu banyak. Meskipun tertata rapi tapi nggak ada ruang gerak untuk anak-anak makanya cucu-cucu Pak Adi kurang kerasan berada disana," jawab Lula praktis. Seperti umumnya seorang pegawai, dia ingin menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin agar segera mendapatkan haknya. Gaji pertamanya sebagai seorang desainer interior. Bukan assiten arsitek.
Pikirannya akan sangat membahagiakan jika dia bisa membelikan nenek sesuatu dengan gaji pertamanya dari hasil kemampuan sendiri. Dia pun teringat binar-binar di mata neneknya saat dia pertama kali memberitahu neneknya bahwa dia sudah mendapat pekerjaan sebagai desainer interior di salah satu kantor build & desain yang tak jauh dari tempat tinggal mereka. Tak ada hal yang membahagiakan selain senyuman bangga yang terukir di wajah neneknya.
Dia memasakkan banyak makanan enak untuk Lula, malam itu. Lalu paginya ketika Lula baru bangun, neneknya sudah siap dengan beberapa nampan kue lapis yang akan dibagikannya secara gratis pada para tetangga.