"Kurasa sebuah bangunan tidak perlu sebuah keluarga untuk dikatakan sebagai rumah. Dan sebuah keluarga tidak harus ada ayah dan ibu."
Seumur hidup Lula akan menyesali kata-kata sarkas yang diucapkannya hari itu ketika dia melakukan sesi interview kerja. Karena kata-kata yang tak dapat dikontrol tersebut, HR perusahaan Build & Desain yang cukup terkenal di kota Surabaya itu tidak memberinya kabar lagi setelah sesi interview itu berakhir. Otomatis dia tidak lolos untuk sekedar magang di perusahaan itu. Padahal sudah nyaris dua tahun dia menganggur.
Satu-satunya jalan yang dapat ditempuhnya sekarang hanyalah mengikuti event job fair yang sedang diadakan di kotanya. Itupun jika ada perusahaan yang mau merekrutnya di luar kompetensi yang dimilikinya. Lula memang tidak berharap banyak pada pekerjaan di bidang desain interior yang sesuai dengan gelar yang dimilikinya. Apapun jenis pekerjaan yang didapatkannya sekarang, dia akan melakukan dengan sungguh-sungguh.
Namun begitu sampai di tempat yang dimaksud, lutut kaki Lula mendadak lemas. Di tempat itu ada puluhan bahkan ratusan orang yang memiliki kepentingan yang sama dengannya yaitu melamar pekerjaan. Semangat Lula menciut, mereka bahkan harus berdesak-desakan ketika berada di dalam gedung tersebut. Jumlah booth perusahaan tampak tidak sebanding dengan jumlah pelamar yang mengerubungi. Mereka tak ubahnya seperti para semut yang mengerubungi seuil permen gula-gula.
Lula semakin gugup, dia ingin berbalik saja lalu melangkah pergi dari tempat itu. Tempat yang ramai dan sesak bukanlah tempat yang nyaman untuknya. Sepanjang hidupnya dia selalu menghindari tempat-tempat seperti itu. Namun ketika tekadnya nyaris pupus, Lula teringat wajah sang nenek di rumah. Ketika dia berangkat tadi pagi, Lula terpaksa membiarkan neneknya membersihkan dapur seorang diri. Setelah bangun pagi buta untuk membuat beberapa kue basah jualan mereka, harusnya neneknya sudah beristirahat dan membiarkan Lula yang mengambil alih. Tapi kini neneknya harus mengerjakan semua itu sendiri. Dia menaruh harapan yang sama besarnya dengan Lula agar cucunya bisa segera mendapatkan pekerjaan.
Perasaan yang dirasakan Lula saat ini juga sama persis ketika dia pertama kali masuk ke ruang kuliah jurusannya. Di tempat itu dia merasa menjadi ikan dari kolam kecil yang yakin bahwa dirinya istimewa. Namun begitu dia melihat ke sekelilingnya, dia menghadapi kenyataan bahwa ada banyak ikan yang lebih istimewa dari dirinya. Bahkan ikan-ikan itu lebih besar dan lebih kuat dari dirinya.
Bakat menggambar dan mendesain yang selama ini diyakini ada di dalam dirinya menjadi tidak lagi berarti. Sekalipun neneknya sering memberinya semangat atau mengatakan bahwa Lula mewarisi bakat dari ayahnya. Namun hal itu justru membuat Lula semakin berkecil hati. Dia tidak ingin menjadi seniman yang tidak berguna seperti ayahnya, karena alasan tersebut Lula kemudian mengambil jurusan kuliah desain interior yang menurutnya dapat menghasilkan. Sayangnya rencana hidup Lula tidak sesuai dengan ekspektasinya. Hanya karena dia mengambil jalan yang berbeda dari ayahnya bukan berarti dia tidak akan menjadi manusia gagal seperti ayahnya.
Lula berjalan tak pasti menghampiri booth salah satu perusahaan kontraktor tempatnya mendaftar, disana ada beberapa orang yang sedang mengikuti walk interview. Meski ingin mundur, Lula tidak akan melakukannya. Satu persatu dari mereka mengambil giliran interview hingga tiba giliran Lula. Dia menjawab pertanyaan pewawancara dengan sangat hati-hati meski dia sempat kecewa pada dirinya sendiri karena tidak mampu menjawab saat ditanya perihal portofolio miliknya yang hanya berupah tugas kuliah.
Tanpa Lula sadari, sepasang mata diam-diam mencuri pandang padanya. Dia berdiri tak jauh dari booth tempat Lula melakukan wawancara, sedang melakukan pembicaraan dengan salah satu perwakilan tenant tersebut. Tubuh dan wajahnya berada dalam pembicaraan tersebut, namun telinganya justru berusaha menangkap setiap jawaban yang Lula berikan pada pewancara. Seulas senyuman tipis mengembang di bibirnya.
***
Lula berjalan gontai melewati alun-alun kota, tidak sadar dia telah meninggalkan area gedung job fair. Kakinya seperti melangkahkan sendiri tanpa diperintah. Namun dia tidak memiliki tujuan. Yang dilakukannya hanya mengulur waktu sebelum pulang. Bukan karena dia tidak merasa nyaman di rumah. Tapi dia tidak tega membawa kekecewaan ke hadapan neneknya.
Entah kenapa perasaan menjadi kecil ini tidak pernah hilang dari dalam diri Lula. Dalam benaknya selalu tersimpan keyakinan bahwa dia tidak memiliki tempat di dunia ini. Lalu yang lebih parahnya tak seorangpun menginginkan dia berada di dunia ini.
Lula ingin mengenyahkan semua perasaan itu dari dalam dirinya. Demi neneknya, dia ingin terus hidup dan memberinya kehidupan yang lebih baik. Namun Lula tidak pernah tahu bagaimana caranya. Tidak ada yang bisa mengajarinya.