"Aku telah menghibur hatiku hingga tidak ada lagi yang bisa menghiburku."
Langkah demi langkah dia ikuti. Tanpa suara, dia berjalan sejajar di belakang gadis itu hingga membentuk garis paralel. Saat gadis itu memelankan langkahnya, dia ikut pelan. Saat gadis itu berhenti sejenak menarik napas, dia ikut berhenti. Beberapa orang lalu lalang di sekitar mereka, tapi gadis itu seolah lenyap ke dalam lamunannya hingga seolah dia melangkah dengan mata tertutup. Padahal kota ini tidak seaman dan seramah yang dipikirkan. Jika dia tidak mengikuti gadis itu, dia yakin orang lain yang berniat menipu, pencopet atau bahkan menculiknya akan mengikuti gadis itu . Apa yang dipikirkan gadis itu sebenarnya?
Saat akhirnya gadis itu menghentikan langkahnya lalu duduk di trotoar dengan pasrah, dia menghela napas. Namun dilihatnya tatapan mata gadis itu masih tampak kosong. Dia tidak bisa meninggalkannya begitu saja.
Sepuluh tahun lalu, Nakula ingat apa yang dikatakan gadis itu saat Nakula berhasil membuat percakapan dengannya untuk pertama kalinya,
"Aku punya kekuatan super invisible," ucapnya dengan raut wajah yang begitu meyakinkan. Saking meyakinkannya hingga Nakula nyaris percaya.
"Benarkah? Coba tunjukkan!" Kening Nakula berkerut. Nyaris tertipu.
"Kenapa aku harus menunjukkannya? Kamu bisa melihatnya sendiri, kemanapun aku pergi tidak ada yang melihat atau memperhatikanku. Dan kalaupun kamu tanya pada anak-anak di sekolah ini, aku yakin banyak yang tidak mengenalku."
"Masalahnya kalau kamu memang memiliki kemampuan super tidak terlihat, kenapa aku bisa melihatmu sekarang?"
Barulah ketika Nakula mengatakan hal tersebut, gadis itu mengangkat kepalanya dan menatapnya. Kelopak mata gadis itu sangat bulat seperti chesnut yang pernah dimakan Nakula saat berkunjung ke rumah tantenya di Jerman, bulu matanya pendek nyaris tidak terlihat, bibirnya kecil seperti keruncut dan wajahnya mungil. Pantas saja dia tidak terlalu terlihat karena dengan wajah dan tinggi badan semungil itu, dia bisa menyelip di pojok rak perpustakaan.
Nakula tahu ada sesuatu yang tidak biasa dari gadis itu sejak pertama kali dia melihatnya di koridor. Dengan raut dinginnya dia memalingkan wajah saat Nakula tersenyum padanya. Padahal sejak pindah beberapa bulan yang lalu dia telah berusaha melebur dengan semua orang. Dengan para guru dia berusaha bersikap manis dan penuh canda, dengan teman-temannya sebayanya dia berusaha menjadi badut yang menghibur dan dengan adik-adik kelasnya, dia berusaha mengajari mereka kenakalan-kenakalan kecil. Semua demi mengalihkan pikirannya dari masa-masa suram yang telah dilewatinya.
Namun begitu dia melihat tatapan matanya, dia seakan melihat seseorang yang dikenalnya juga berada dalam diri gadis itu. Dan benar saja kehidupan gadis itu ternyata tidak baik-baik saja.
"Apa kabar adik sepupu?" Nakula tidak menemukan kata sapaan yang tepat, karena itu dia mencoba menggunakan sapaan kramat dari masa lalu agar gadis itu mengenalinya.
Gadis itu, Lula Nacakayama mendongak dengan ekspresi wajah yang sama persis seperti sepuluh tahun lalu, saat masih SMA. Saat itu Nakula banyak mendengar adik-adik kelasnya membicarakan gadis itu sambil membuat candaan tentang nama belakangnya. Nakula paham jika nama tersebut masih terdengar asing di telinga beberapa orang atau bahkan cukup unik. Tapi dia tidak merasa hal itu bisa menjadi bahan olok-olokan. Dan ternyata selama ini Lula mengetahui bahwa namanya menjadi bahan olok-olokan, hanya saja dia pura-pura tidak mendengar dan melihat pembullyan verbal tersebut.
"Ambil aja! Aku nggak campur apa-apa kok," ujar Nakula lagi. Kali ini dia menyodorkan sebotol air yang diambilnya dari salah satu booth milik temannya tadi.
Lama sekali dia menunggu hingga kemudian Lula menerimanya dengan ragu-ragu. Sebenarnya Nakula ingin memberikannya tepat ketika Lula selesai melakukan wawancara sambil menyapa gadis itu. Namun Lula sudah terlebih dahulu meninggalkan gedung.
"Aku nggak nyangka ketemu adik sepupuku disini. Benar-benar kejutan."
Lula nyaris tersedak hingga batuk-batuk kecil, "sepupu dari mana? Kita aja nggak saling kenal kok."
Seulas senyuman terbit di bibir Nakula. Dia ingin tertawa setiap kali melihat wajah Lula tampak kesal. Bertemu Lula setelah sekian lama ternyata masih terasa menghibur baginya. Lula adalah bagian lain dari masa lalunya yang suram. Namun keberadaan gadis itu justru membuatnya tidak takut untuk mengingatnya kembali.
"Aku ikut duduk ya? Capek berdiri lama-lama," Tanpa meminta persetujuan, Nakula langsung duduk di sebelah Lula.