Blurb
Politik sering dianggap urusan orang-orang di gedung tinggi.
Farhan, Raka, Damar, Alya, dan Zahra juga pernah percaya demikian.
Mereka hanyalah lima anak muda biasa yang hidup di Gang Petam, Kota Arunika. Mereka bekerja, mengejar mimpi, bercanda di Warung Ujung, mengeluh tentang harga kebutuhan pokok, kemacetan, dan kerasnya hidup. Bagi mereka, politik adalah sesuatu yang jauh, rumit, dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan sehari-hari.
Namun perlahan, kenyataan berkata sebaliknya.
Seorang guru melihat muridnya hampir putus sekolah. Seorang tenaga kesehatan menyaksikan pasien yang terlambat mendapatkan pelayanan. Seorang insinyur menemukan persoalan dalam pembangunan. Seorang pengemudi ojek daring mendengar ratusan kisah perjuangan dari penumpangnya. Seorang kreator konten bertemu orang-orang yang bekerja keras tetapi tetap kesulitan mengubah nasib.
Dari meja makan keluarga, ruang kelas, rumah sakit, jalanan kota, hingga warung kecil di ujung gang, mereka mulai menyadari bahwa keputusan-keputusan yang dibuat jauh di luar sana selalu bermuara pada rumah-rumah sederhana tempat rakyat hidup.
Republik di Ujung Gang adalah novel drama sosial yang hangat, penuh humor, sekaligus menyentuh. Sebuah kisah tentang persahabatan, keluarga, dan tumbuhnya kesadaran bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari orang-orang hebat, melainkan dari warga biasa yang memilih untuk peduli.
Karena pada akhirnya, politik bukan sekadar tentang kekuasaan.
Politik adalah tentang rumah kita.