Orang-orang selalu bilang Indonesia itu luas.
Katanya, negeri ini terbentang dari Sabang sampai Merauke. Ribuan pulau. Ratusan suku. Puluhan bahasa. Laut yang lebih luas daripada daratan. Negeri yang begitu besar hingga setiap daerah memiliki cerita sendiri-sendiri. Di televisi, orang-orang sibuk membicarakan ibu kota, pemilu, menteri, DPR, korupsi, harga pangan, hingga proyek pembangunan bernilai triliunan rupiah. Di media sosial, semua orang seolah menjadi pengamat politik dadakan. Ada yang berdebat, ada yang saling mengejek, ada pula yang memilih diam karena merasa semua itu tidak akan mengubah apa pun. Sementara di sudut-sudut kecil negeri ini, kehidupan tetap berjalan seperti biasa. Orang berangkat kerja sebelum matahari muncul. Pedagang membuka warung. Anak-anak berangkat sekolah. Tukang sampah mendorong gerobaknya. Hidup bergerak tanpa menunggu siapa pun selesai berdebat.
Di salah satu sudut kota bernama Arunika, terdapat sebuah gang yang bahkan tidak pernah muncul di peta wisata. Gang Petam. Lebarnya hanya cukup dilewati satu mobil. Rumah-rumah berdiri rapat tanpa pagar tinggi. Cat temboknya tidak seragam. Ada yang baru dicat, ada yang mulai kusam dimakan hujan dan panas bertahun-tahun. Pot-pot bunga berjejer di depan rumah beberapa warga, sementara sebagian lainnya memilih meletakkan kursi plastik di teras untuk sekadar berbincang saat sore tiba. Kabel listrik menjuntai di atas kepala seperti benang kusut yang entah sejak kapan tidak pernah dirapikan. Di ujung gang berdiri sebuah warung sederhana bercat hijau pudar yang oleh semua orang dipanggil dengan nama yang sama sejak puluhan tahun lalu: Warung Ujung.
Warung itu bukan yang terbesar. Bukan pula yang paling lengkap. Namun hampir semua cerita di Gang Petam pernah singgah di sana. Mulai dari gosip ibu-ibu, keluhan bapak-bapak tentang pekerjaan, anak-anak yang membeli es lilin sepulang sekolah, sampai para pemuda yang menghabiskan malam sambil menyeruput kopi sachet dan bercanda seolah besok tidak perlu bangun pagi.
Pukul enam lewat sedikit, suasana gang perlahan mulai hidup. Seorang tukang bubur mendorong gerobaknya sambil memukul mangkuk sebagai penanda kedatangan. Dari kejauhan terdengar suara motor ojek daring keluar masuk perumahan. Aroma bawang goreng bercampur dengan wangi kopi hitam yang baru diseduh memenuhi udara pagi. Seorang ibu menyapu halaman sambil sesekali menyapa tetangga yang lewat. Di depan Warung Ujung, Bu Ratih sudah lebih dulu membuka rolling door setengah badan. Tangannya bergerak cekatan menata roti, mi instan, telur, air mineral, dan berbagai kebutuhan harian yang hampir selalu habis sebelum malam.
"Pagi, Bu Ratih."
"Pagi. Berangkat kerja lagi, Han?"
Farhan Prasetyo hanya mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. Tas ransel hitam sudah menggantung di bahunya. Helm proyek berwarna putih dijepit di tangan kiri. Wajahnya masih terlihat mengantuk, tetapi langkahnya tetap tenang seperti biasanya. Dibandingkan teman-temannya, Farhan memang dikenal paling sedikit bicara. Kalau ada sepuluh orang berkumpul, kemungkinan besar ia lebih memilih mendengarkan daripada ikut menyela pembicaraan.
"Ngopi dulu, Han?" tanya Bu Ratih.
"Nanti sore aja, Bu. Takut telat."
"Yaudah. Hati-hati."
Farhan kembali mengangguk sebelum melangkah menuju jalan raya untuk menunggu bus karyawan yang setiap pagi melintas pada jam yang hampir sama.
Belum lima menit Farhan pergi, suara knalpot motor memecah ketenangan pagi. Seorang pria mengenakan jaket hijau berhenti tepat di depan warung sambil melepas helmnya dengan gerakan tergesa. Rambutnya sedikit berantakan. Wajahnya dipenuhi ekspresi yang bahkan sejak pagi sudah tampak siap mengeluh kepada siapa saja yang mau mendengar.
"Bu Ratih... kopi sachet satu sama rokok."
"Belum narik udah capek aja, Ka?"
Raka Mahendra terkekeh pendek.
"Baru buka aplikasi lima menit, udah dapat penumpang yang titik jemputnya muter-muter. Gue yang disuruh nyari dia, bukan dia yang nyari gue."
Bu Ratih ikut tertawa sambil menyerahkan kopi dan rokok.
"Namanya juga kerja."
"Iya sih... tapi kadang gue mikir, aplikasi itu pinter banget ngitung jarak. Giliran orangnya, kagak."
Tawa kecil kembali terdengar. Raka memang seperti itu. Hampir setiap keluhan selalu berubah menjadi bahan bercandaan. Entah sedang lelah, kesal, atau kecewa, ia selalu berhasil menemukan cara agar orang lain ikut tersenyum.
Tak lama kemudian, dari arah dalam gang muncul seorang pemuda membawa kamera kecil yang digantung di leher. Kaus hitam polos, celana jeans, sandal jepit, dan rambut yang belum sempat dirapikan menjadi ciri khasnya setiap pagi.
"Konten lagi, Mar?" sapa Bu Ratih.
"Iya, Bu. Lagi nyari suasana pagi."
Damar Wijaya mengangkat kameranya, lalu mengambil beberapa gambar aktivitas warga yang baru memulai hari. Tukang bubur yang lewat. Anak sekolah yang berlari karena hampir terlambat. Seorang bapak mengayuh sepeda sambil membawa tabung gas. Semua terlihat biasa. Justru karena biasa itulah Damar merasa pemandangan seperti ini layak disimpan.
"Bikin konten beginian emang ada yang nonton?" tanya Raka sambil menyeruput kopi.
"Justru banyak. Orang kadang kangen sama hal-hal sederhana."
"Kalau gue lagi ngojek direkam juga, bisa viral kagak?"
"Bisa."
"Bener?"
"Bisa... kalau lu nabrak tiang."
Raka langsung melotot.
"Sialan."
Damar tertawa puas melihat ekspresi temannya. Bu Ratih yang sejak tadi mendengar percakapan mereka ikut geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Hampir setiap pagi, suasana seperti ini selalu terulang dengan topik yang berbeda-beda. Tidak ada yang luar biasa. Tidak ada yang terasa bersejarah. Hanya obrolan ringan yang besok mungkin sudah dilupakan.
Di tempat lain, beberapa kilometer dari Gang Petam, Alya Maharani baru saja mengenakan jas putihnya sebelum memulai jadwal pagi di rumah sakit. Sementara itu, Zahra Nabila sedang berjalan menuju rumah salah satu murid kelas empat yang setiap pagi ia bimbing sebelum jam sekolah dimulai. Kehidupan mereka berjalan di jalur masing-masing. Berbeda pekerjaan. Berbeda rutinitas. Berbeda cara menghadapi hari. Namun tanpa mereka sadari, seluruh jalan yang mereka tempuh perlahan sedang menuju satu persimpangan yang sama.
Untuk saat ini, tidak ada satu pun dari mereka yang memikirkan negara.
Mereka hanya memikirkan target pekerjaan hari ini, uang yang harus dikumpulkan, tagihan yang harus dibayar, dan rencana sederhana untuk bertemu lagi nanti malam di bangku panjang depan Warung Ujung. Tempat yang selama ini hanya mereka anggap sebagai lokasi berkumpul, tanpa pernah membayangkan bahwa dari bangku sederhana itulah sebuah pertanyaan akan lahir—pertanyaan yang pelan-pelan mengubah cara mereka memandang gang kecil tempat mereka tinggal, lalu mengubah cara mereka memandang republik ini.
* * *
Menjelang pukul delapan pagi, Gang Petam mulai kembali lengang. Anak-anak sudah masuk sekolah. Sebagian besar warga berangkat bekerja. Warung Ujung yang sejak subuh ramai kini hanya sesekali didatangi pembeli yang mencari gas elpiji, sabun cuci, atau sekadar membeli minuman dingin. Matahari mulai naik perlahan, memantulkan cahaya pada genangan kecil yang masih tersisa di beberapa bagian jalan. Aspal gang itu sebenarnya sudah lama kehilangan bentuknya. Di beberapa titik, permukaannya retak seperti kulit yang terlalu lama terkena panas. Lubang-lubang kecil memenuhi bagian tengah jalan, sebagian ditambal seadanya dengan pasir dan pecahan batu yang kembali terkikis setiap kali hujan turun. Tidak ada seorang pun yang benar-benar mengingat sejak kapan kondisi itu terjadi. Yang mereka ingat hanyalah setiap musim hujan selalu ada motor tergelincir, anak kecil terjatuh saat bersepeda, atau air menggenang selama berhari-hari hingga berubah menjadi kubangan kecokelatan.
Bu Ratih keluar dari warung sambil membawa sapu lidi. Pandangannya berhenti cukup lama ke arah jalan yang rusak itu. Ia menghela napas pelan, lalu menggeleng kecil seperti seseorang yang sudah terlalu sering berharap hingga akhirnya lelah berharap. Beberapa tahun lalu, warga pernah bergotong royong membeli semen untuk menutup lubang-lubang yang dianggap paling berbahaya. Hanya bertahan beberapa bulan. Setelah itu hujan datang, kendaraan terus melintas, dan jalan kembali rusak seperti semula. Sejak saat itu, warga lebih sering mengeluh daripada memperbaiki.
"Kayaknya tambah dalem lagi, ya, Bu."
Suara itu berasal dari Pak Hendra, tetangga yang setiap pagi mengantar galon menggunakan gerobak dorong. Ia berhenti tepat di depan lubang yang cukup besar sambil menggeleng pelan.
"Iya, Pak. Kemarin motor anak SMA hampir jatuh."
"Udah dilaporin lagi belum?"
"Katanya sih udah."
"Katanya."
Pak Hendra tersenyum hambar. Hanya satu kata, tetapi cukup menggambarkan perasaan banyak warga. Di lingkungan itu, kata katanya sering kali menjadi penutup setiap pembicaraan tentang sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai.
Katanya sudah diajukan.
Katanya sudah masuk anggaran.
Katanya tinggal menunggu.
Katanya bulan depan.
Katanya tahun depan.
Entah sejak kapan kata itu berubah menjadi jawaban yang paling sering terdengar.
Sementara itu, Farhan sudah berada di lokasi proyek pembangunan sebuah gedung pelayanan publik di kawasan lain Kota Arunika. Ia mengenakan rompi keselamatan berwarna oranye dengan helm putih yang sejak tadi tidak pernah lepas dari kepalanya. Sebagai seorang insinyur sipil muda, pekerjaannya dipenuhi gambar teknik, pengukuran, laporan harian, serta memastikan pekerjaan di lapangan sesuai spesifikasi. Dunia yang baginya jauh lebih mudah dipahami dibanding memahami isi kepala manusia.
Di hadapannya, puluhan pekerja mulai sibuk dengan tugas masing-masing. Ada yang mengangkut besi, ada yang memasang bekisting, ada pula yang memeriksa campuran beton. Suara mesin molen bercampur dengan dentingan besi menjadi musik yang hampir setiap hari ia dengarkan.
"Mas Farhan."
Seorang mandor menghampiri sambil membawa map.
"Hasil uji slump beton pagi ini."
Farhan menerima map itu, membacanya sebentar, lalu mengangguk.
"Masih sesuai."
"Iya, Mas."
Tidak banyak percakapan setelah itu. Farhan memang dikenal teliti. Ia lebih sering berbicara melalui angka, gambar, dan hasil pengukuran dibanding obrolan panjang. Beberapa rekan kerja bahkan bercanda kalau Farhan bisa menghabiskan waktu berjam-jam memperhatikan retakan beton, tetapi kesulitan memulai percakapan ringan saat makan siang.
Namun justru ketelitian itulah yang membuat atasannya mempercayainya menangani beberapa bagian penting proyek.
Farhan kembali menatap bangunan yang perlahan tumbuh sedikit demi sedikit. Baginya, setiap bangunan memiliki cerita. Tidak ada gedung yang berdiri begitu saja. Di baliknya ada ratusan orang yang bekerja, ribuan material yang dikirim, dan perencanaan panjang yang sering kali tidak pernah diketahui masyarakat. Selama semuanya dikerjakan dengan benar, bangunan itu akan berdiri puluhan tahun. Sebaliknya, satu kesalahan kecil yang diabaikan bisa berubah menjadi masalah besar di kemudian hari.
Ia belum tahu bahwa cara berpikir itulah yang suatu hari nanti akan membawanya mempertanyakan banyak hal di luar dunia konstruksi.
* * *
Di rumah sakit tempat Alya bekerja, suasana jauh berbeda. Lorong-lorong dipenuhi pasien yang datang sejak pagi. Kursi ruang tunggu hampir seluruhnya terisi. Seorang anak menangis karena takut disuntik. Seorang pria lanjut usia duduk bersandar sambil memegang dadanya. Seorang ibu muda terus menenangkan bayinya yang demam sejak semalam.
Alya berjalan cepat dari satu ruangan ke ruangan lain sambil membawa berkas pemeriksaan. Wajahnya tetap tenang meskipun langkahnya tidak pernah benar-benar berhenti.