Pagi di Gang Petam tidak pernah benar-benar dimulai ketika matahari terbit.
Pagi dimulai ketika suara sapu lidi mulai bergesekan dengan tanah di depan rumah-rumah warga. Ketika aroma bawang putih yang ditumis perlahan mengalahkan dinginnya udara subuh. Ketika suara mesin motor pertama terdengar keluar dari gang menuju Jalan Buran, disusul deretan kendaraan lain yang seolah telah memiliki jadwalnya masing-masing. Di lingkungan itu, hampir semua orang mengetahui rutinitas tetangganya. Mereka tahu Pak Hendra berangkat mengantar galon sebelum pukul enam. Mereka tahu Bu Ratih membuka Warung Ujung beberapa menit setelah salat Subuh. Mereka tahu anak-anak sekolah dasar akan memenuhi gang sekitar pukul setengah tujuh dengan seragam yang kadang masih kusut karena terburu-buru.
Dan mereka tahu bahwa setiap pagi, satu lubang besar di tengah jalan gang selalu menjadi rintangan pertama yang harus dilewati.
Lubang itu sudah begitu lama berada di sana hingga warga secara naluriah hafal cara menghindarinya. Pengendara motor sedikit membelok ke kiri. Pesepeda mengurangi kecepatan. Anak-anak yang berlari menuju sekolah melompat kecil agar sepatunya tidak menginjak genangan air yang selalu tersisa di dasar lubang setelah hujan malam sebelumnya.
Tidak ada papan peringatan.
Tidak ada garis pembatas.
Tidak ada yang memperbaikinya.
Semua orang hanya menyesuaikan diri.
Farhan yang baru saja keluar rumah melakukan hal yang sama. Motornya sedikit dimiringkan sebelum kembali lurus ketika melewati jalan yang rusak itu. Gerakan tersebut begitu otomatis hingga ia sendiri tidak menyadarinya. Helm proyek sudah terpasang rapi. Tas kerja tersampir di bahu. Di depan rumah, ibunya sempat mengingatkan agar ia tidak pulang terlalu malam karena ayahnya ingin mengajaknya makan bersama akhir pekan nanti.
"Iya, Bu."
Jawabannya singkat seperti biasa.
Begitu tiba di ujung gang, Farhan berhenti sejenak di Warung Ujung untuk membeli sebotol air mineral. Bu Ratih yang sedang menata rak roti langsung tersenyum.
"Pagi, Han."
"Pagi, Bu."
"Semalam tidur cepat?"
"Lumayan."
"Kamu tuh jawabannya enggak pernah lebih dari dua kata."
Farhan hanya tersenyum kecil sambil menyerahkan uang. Ia sudah terbiasa mendengar komentar seperti itu.
Belum sempat motornya dinyalakan kembali, terdengar suara klakson pendek dari belakang.
"Geser dikit, insinyur."
Raka muncul dengan jaket hijaunya yang sudah mulai pudar karena terlalu sering terkena panas dan hujan. Ia berhenti di samping Farhan sambil membuka visor helmnya.
"Udah siap nyari duit?"
Farhan mengangguk.
"Lu?"
"Gue mah enggak pernah siap. Tapi tagihan yang selalu siap nungguin."
Kalimat itu membuat Bu Ratih ikut tertawa.
"Makanya rajin nabung."
"Bu, kalau duitnya ada baru bisa ditabung."
"Alasan terus."
"Tapi lucu, kan?"
Bu Ratih menggeleng sambil kembali menyusun barang dagangan. Raka memang memiliki kemampuan membuat percakapan sederhana terasa hidup. Bahkan ketika sedang mengeluh, wajahnya tetap sulit terlihat murung lebih dari beberapa menit.
Mereka berdua berangkat hampir bersamaan. Motor Farhan melaju lebih dulu menuju jalan utama, sementara Raka berhenti sejenak ketika aplikasi di telepon genggamnya berbunyi menandakan pesanan pertama hari itu sudah masuk.
Gang kembali tenang.
Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah rumah Zahra. Perempuan itu berjalan santai sambil membawa tas kain berisi buku pelajaran. Ia sengaja berangkat lebih awal karena ingin mampir ke rumah salah seorang murid yang sedang mempersiapkan lomba cerdas cermat tingkat kecamatan.
Di tengah perjalanan, langkahnya terhenti.
Seorang anak laki-laki berseragam SD sedang berdiri kebingungan di depan lubang yang sama. Air di dalamnya cukup tinggi karena hujan semalam. Sepatu hitam yang dipakainya tampak masih baru.
"Kenapa?"
Anak itu menoleh.
"Takut sepatunya kotor, Kak."
Zahra tersenyum kecil. Ia lalu menggandeng tangan anak tersebut dan mengajaknya melewati sisi jalan yang lebih aman.
"Nah, sekarang bisa."
"Terima kasih."
"Iya. Hati-hati di sekolah."
Anak itu berlari kecil sambil melambaikan tangan.
Zahra memperhatikan langkahnya hingga menghilang di tikungan Jalan Buran. Setelah itu pandangannya kembali jatuh pada lubang di tengah gang.
Lubang yang sama.
Lubang yang kemarin.
Lubang yang bulan lalu.
Lubang yang tahun lalu.
Ia sempat menghela napas pelan, tetapi tidak lebih dari itu. Sama seperti warga lainnya, Zahra sudah terlalu terbiasa melihatnya. Ia lalu melanjutkan langkah menuju sekolah, meninggalkan jalan yang tetap rusak seperti saat pertama kali ia melewatinya bertahun-tahun lalu.
Di Gang Petam, banyak hal memang berubah. Anak-anak tumbuh dewasa. Rumah-rumah direnovasi sedikit demi sedikit. Motor berganti model yang lebih baru. Telepon genggam semakin canggih. Namun ada pula hal-hal yang seolah menolak berubah, seakan telah menjadi bagian dari pemandangan sehari-hari.
Dan sering kali, sesuatu yang terus-menerus dilihat setiap hari justru menjadi sesuatu yang paling mudah diabaikan.
* * *
Matahari mulai berdiri tegak ketika aktivitas di proyek pembangunan gedung pelayanan publik memasuki ritme paling sibuk. Truk pengangkut material datang bergantian, para pekerja berjalan hilir mudik membawa besi, semen, dan berbagai peralatan, sementara suara mesin molen berpadu dengan denting logam yang saling beradu membentuk kebisingan yang hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang setiap hari bekerja di dunia konstruksi. Di tengah suasana itu, Farhan berdiri dengan sebuah papan gambar di tangannya. Matanya berpindah bergantian antara lembar kerja dan kondisi di lapangan. Sesekali ia mencatat sesuatu menggunakan pensil mekanik yang selalu terselip di saku rompinya. Ia bukan tipe orang yang banyak memberi perintah. Sebagian besar pekerja justru mengenalnya karena kebiasaannya memeriksa segala sesuatu dua kali sebelum mengatakan sebuah pekerjaan selesai. Bagi Farhan, bangunan bukan sekadar beton dan besi. Di dalam setiap bangunan selalu ada kepercayaan orang-orang yang kelak akan menggunakannya. Karena itulah ia tidak pernah menyukai pekerjaan yang dilakukan asal jadi.
Seorang mandor menghampirinya sambil membawa hasil pengukuran kolom sisi timur. Farhan menerima berkas itu, memperhatikannya beberapa detik, lalu mengajak sang mandor berjalan menuju titik yang dimaksud. Mereka berdiri cukup lama di sana. Farhan mengukur ulang menggunakan meteran baja, lalu mencocokkan hasilnya dengan gambar kerja. Setelah memastikan semuanya sesuai, ia mengangguk pelan. "Sudah benar. Tinggal rapikan bekisting bagian sini sedikit." Mandor itu mengangguk tanpa banyak bertanya. Ia sudah cukup lama bekerja bersama Farhan untuk memahami bahwa jika pria itu mengatakan "sedikit", maka yang dimaksud benar-benar sedikit. Tidak perlu dibongkar ulang, tetapi juga tidak boleh diabaikan. Ketelitian seperti itu membuat sebagian pekerja sempat menganggap Farhan terlalu perfeksionis. Namun setelah beberapa proyek selesai tanpa masalah berarti, mereka mulai menyadari bahwa kebiasaan itu justru menyelamatkan banyak pekerjaan dari kesalahan yang lebih besar.
Saat hendak kembali ke meja kerjanya, telepon genggam di saku celananya bergetar pelan. Nama Raka muncul di layar. Farhan tidak langsung mengangkatnya karena kedua tangannya masih dipenuhi debu semen. Ia memilih menjawab melalui pesan singkat. Baru beberapa detik kemudian balasan dari Raka muncul bertubi-tubi seperti biasanya.
"Han, lu pernah enggak sih ngerasa pengen pensiun padahal umur belum tiga puluh?"
Farhan tersenyum tipis sebelum membalas singkat.
"Belum."
Tidak sampai satu menit, pesan baru kembali masuk.
"Gue udah. Barusan ada pelanggan ngomong begini, 'Mas, lewat jalan yang enggak macet ya.' Lah, kalau gue tahu jalan yang enggak macet, gue udah kerja di NASA kali, bukan jadi ojol."
Sudut bibir Farhan terangkat sedikit lebih lebar. Ia memang tidak mudah tertawa, tetapi Raka selalu berhasil menemukan cara untuk membuat orang lain tersenyum. Farhan hanya membalas satu kalimat.
"NASA enggak ngurus macet."