Republik Di Ujung Gang

Rizky Ade Putra
Chapter #3

Keluhan yang Selalu Sama

Pagi berikutnya datang bersama hujan gerimis yang turun sejak sebelum subuh. Atap-atap rumah di Gang Petam dipenuhi bunyi tetesan air yang jatuh tanpa tergesa-gesa, sementara selokan di sepanjang Jalan Buran mulai mengalir lebih deras dibanding biasanya. Bagi sebagian orang, hujan adalah alasan untuk tidur lebih lama. Namun bagi warga Gang Petam, hujan justru berarti mereka harus berangkat lebih awal. Jalan yang sudah sempit akan semakin licin, genangan akan muncul di beberapa titik, dan lubang-lubang yang kemarin masih terlihat jelas akan berubah menjadi jebakan yang tertutup air kecokelatan. Tidak ada seorang pun yang benar-benar menyukai keadaan itu, tetapi hampir semua orang sudah mengetahui cara menghadapinya. Mereka mengurangi kecepatan motor, melipat celana sedikit lebih tinggi ketika berjalan kaki, atau sekadar menghela napas sambil berkata, "Ya beginilah kalau hujan."

Farhan keluar rumah lebih pagi dari biasanya. Langit yang mendung membuat suasana masih terlihat seperti pukul lima meskipun jam sudah menunjukkan lewat setengah enam. Helm proyek sudah berada di tangan kirinya, sementara payung hitam yang mulai memudar warnanya ia gunakan untuk menutupi tubuh dari gerimis. Begitu sampai di mulut rumah, pandangannya langsung tertuju ke arah jalan yang semalam menjadi lokasi kecelakaan. Lubang itu kini menghilang di bawah genangan air. Dari kejauhan, siapa pun akan mengira permukaan jalan di sana rata seperti bagian lainnya. Padahal Farhan tahu persis, di balik air setinggi beberapa sentimeter itu terdapat cekungan yang cukup dalam untuk membuat ban motor kehilangan keseimbangan. Ia berdiri beberapa detik lebih lama dari biasanya, lalu tanpa sadar mengeluarkan telepon genggamnya dan memotret kondisi jalan tersebut dari beberapa sudut. Tidak ada tujuan khusus. Ia hanya merasa gambar itu perlu disimpan.

Ketika Farhan tiba di Warung Ujung untuk membeli kopi sachet seperti rutinitasnya setiap pagi, Raka ternyata sudah lebih dulu berada di sana. Jaket hijaunya masih terbuka setengah karena belum sempat dipakai sepenuhnya. Di hadapannya terdapat semangkuk mi instan yang asapnya masih mengepul. Namun yang membuat Farhan sedikit heran bukanlah mi instan itu, melainkan ekspresi Raka yang jauh lebih pendiam dibanding biasanya.

"Lagi mikir apa?" tanya Farhan sambil duduk.

Raka mengangkat wajahnya perlahan. "Han."

"Hm?"

"Lu pernah enggak ngerasa kita ini aneh?"

Farhan mengernyit.

"Aneh gimana?"

Raka tidak langsung menjawab. Ia menunjuk ke arah genangan yang menutupi lubang di tengah gang. Beberapa pengendara terlihat memperlambat laju motornya sebelum melewatinya. Ada yang berhasil menghindar, ada pula yang bannya sempat masuk sebagian hingga membuat air memercik ke mana-mana.

"Kemarin orang jatuh."

Farhan mengangguk.

"Hari ini kita lewat lagi."

"Iya."

"Besok juga bakal lewat lagi."

"Iya."

"Lusa juga."

Farhan masih diam.

Raka mengaduk mi instannya perlahan sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih pelan daripada biasanya. "Gue baru kepikiran semalam. Kalau ada genteng rumah bocor, orang pasti buru-buru manggil tukang. Kalau motor rusak, langsung dibawa ke bengkel. Tapi jalan rusak begini... kok kita kayak cuma bisa ngomel sebentar, habis itu ya udah."

Farhan tidak segera menjawab. Ia memandang ke arah jalan yang sama. Di dalam kepalanya kembali teringat wajah anak kecil yang menangis semalam ketika ayahnya terjatuh. Tangisan itu memang sudah berhenti, tetapi gambarnya masih tersimpan jelas dalam ingatan.

"Mungkin..." ujar Farhan perlahan, "karena kita merasa itu bukan urusan kita."

Raka tertawa kecil, tetapi tawanya terdengar hambar.

"Padahal yang jatuh juga kita."

Kalimat itu menggantung di udara beberapa detik.

Bu Ratih yang sejak tadi sedang menyusun roti di etalase ikut mendengarnya. Tanpa menoleh, ia berkata pelan, "Dari dulu warga juga sering ngeluh."

"Dilaporin enggak, Bu?" tanya Raka.

"Katanya pernah."

"Katanya?"

"Iya."

Bu Ratih berhenti sebentar, lalu menghela napas.

"Waktu Pak RT yang lama masih menjabat, katanya sudah diajukan. Setelah ganti pengurus, katanya diajukan lagi. Terus ada yang bilang tinggal nunggu anggaran. Ada juga yang bilang nanti sekalian perbaikan saluran air. Sampai sekarang ya masih begini."

Raka memandang Farhan.

"Han."

"Hm?"

"Gue baru sadar."

"Apa?"

"Selama ini kita ngomel, tapi kita bahkan enggak tahu sebenarnya harus nanya ke siapa."

Farhan tidak menjawab.

Bukan karena tidak ingin menjawab.

Melainkan karena ia juga tidak tahu.

Beberapa saat kemudian, sebuah motor melintas terlalu cepat. Ban depannya menghantam lubang yang tertutup genangan hingga air memercik cukup tinggi dan mengenai celana Raka.

"Woy!" serunya spontan sambil berdiri. "Bang! Itu bukan kolam renang!"

Pengendara tersebut hanya mengangkat tangan sebagai tanda minta maaf sebelum terus melaju.

Farhan yang melihat wajah kesal Raka akhirnya tertawa kecil.

Lihat selengkapnya