Hari-hari di Gang Petam kembali berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada garis polisi yang mengelilingi lubang di tengah jalan. Tidak ada petugas yang datang membawa alat ukur. Tidak ada truk berisi aspal panas yang berhenti untuk mulai memperbaiki jalan. Bekas kecelakaan dua malam sebelumnya seolah telah ikut hanyut bersama hujan yang turun semalam. Cairan telur yang pecah sudah tidak terlihat, beras yang sempat berserakan telah disapu warga, bahkan jejak gesekan motor di permukaan aspal pun perlahan menghilang. Yang masih tersisa hanyalah lubang itu sendiri, tetap berada di tempat yang sama, tetap menunggu siapa saja yang lengah ketika melintas. Kehidupan memiliki kebiasaan yang aneh. Ia mampu mengubah sesuatu yang seharusnya mengganggu menjadi pemandangan yang akhirnya dianggap biasa. Dan ketika sesuatu telah dianggap biasa, orang sering kali berhenti mempertanyakan mengapa keadaan itu dibiarkan terus terjadi.
Farhan menyadari perubahan kecil itu pada dirinya sendiri. Sejak malam kecelakaan, tanpa sadar matanya selalu lebih dulu mencari lubang tersebut setiap kali keluar rumah. Pagi itu, sebelum berangkat bekerja, ia kembali memperlambat motornya beberapa meter sebelum titik yang sama. Bukan karena ia takut terjatuh. Ia sudah hafal letaknya. Yang membuatnya berhenti sesaat adalah sebuah pertanyaan yang terus mengganggu pikirannya sejak percakapannya dengan Raka dan Bu Ratih beberapa hari terakhir. Mengapa semua orang mengetahui jalan itu rusak, semua orang mengeluhkan jalan itu rusak, bahkan semua orang mengetahui pernah ada orang yang terjatuh di sana, tetapi tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu proses bagaimana jalan itu seharusnya diperbaiki? Mereka mengetahui masalahnya dengan sangat baik, tetapi sama sekali tidak memahami jalur penyelesaiannya. Pikiran itu terus berputar di kepalanya sepanjang perjalanan menuju lokasi proyek.
Di tempat kerja, kesibukan kembali mengambil alih hampir seluruh waktunya. Hari itu jadwal pengecoran balok lantai dimulai lebih cepat karena cuaca diperkirakan kembali hujan pada sore hari. Para pekerja bergerak lebih cepat dari biasanya. Truk mixer datang bergantian membawa beton segar, sementara beberapa orang sibuk memastikan proses pengecoran berjalan tanpa hambatan. Farhan berpindah dari satu titik ke titik lain sambil memeriksa ketebalan, elevasi, dan kondisi bekisting. Di tengah pekerjaan tersebut, seorang pekerja muda bernama Iqbal menghampirinya dengan wajah sedikit kebingungan.
"Mas Farhan."
"Iya?"
"Ini besinya kurang satu batang."
Farhan melihat daftar material yang dipegang Iqbal, lalu mencocokkannya dengan gambar kerja.
"Kurang bukan karena hilang."
"Bukan?"
"Karena tadi dipindah ke sisi barat. Coba cek lagi."
Iqbal berlari kecil menuju lokasi yang dimaksud. Tidak sampai satu menit kemudian ia kembali sambil tersenyum malu.
"Ada ternyata."
Farhan hanya tersenyum tipis.
"Sebelum bilang hilang, pastikan dulu memang enggak ada."
"Iya, Mas."
Beberapa pekerja yang mendengar percakapan itu ikut tertawa kecil. Salah seorang di antaranya langsung menyela, "Bal, jangan-jangan nanti kalau nikah istrinya lagi ke dapur, lu lapor ke RT bilang istri hilang."
Seluruh pekerja spontan tertawa.
Iqbal mengangkat kedua tangannya menyerah.
"Ya ampun... saya baru kerja dua bulan udah dibully."
"Bukan dibully," sahut pekerja lain. "Ini orientasi."
"Orientasi?"
"Iya. Biar nanti kalau udah senior, gantian ngeledekin anak baru."
Gelak tawa kembali pecah. Bahkan Farhan yang biasanya hanya tersenyum tipis kali ini ikut tertawa lebih lama. Suasana proyek memang sering kali keras oleh suara mesin, tetapi di sela-sela pekerjaan selalu ada candaan sederhana yang membuat beban terasa lebih ringan. Bagi mereka, humor bukan sekadar hiburan. Humor adalah cara bertahan menghadapi pekerjaan yang menuntut tenaga dan ketelitian setiap hari.
Menjelang waktu istirahat, Raka mengirim pesan singkat. "Masih hidup?"
Farhan membalas. "Masih."
Beberapa detik kemudian balasan datang. "Syukurlah. Gue tadi ketemu pelanggan yang naik motor sambil ngajarin gue cara nyetir."
Farhan membaca pesan itu sambil berjalan menuju tempat istirahat. "Terus?"
"Katanya, 'Mas, kalau belok jangan terlalu miring.' Gue pengen jawab, 'Kalau lurus terus nanti kita ke Laut Jawa, Pak.'"
Sudut bibir Farhan kembali terangkat. Ia mulai menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah dipikirkannya. Raka memang sering bercanda berlebihan, tetapi hampir semua leluconnya lahir dari kejadian-kejadian yang benar-benar dialaminya. Mungkin karena itulah candaan Raka hampir selalu terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Di sisi lain kota, Raka baru saja mengantarkan seorang pegawai bank menuju sebuah kantor cabang. Begitu perjalanan selesai, ia memarkir motor di bawah pohon ketapang yang cukup rindang. Belum sempat membuka bekal makan siangnya, ponselnya kembali berbunyi menandakan ada pesanan baru. Ia menatap layar beberapa detik sebelum menghela napas panjang.
"Ya Allah..."
Seorang tukang parkir yang berdiri tidak jauh darinya menoleh. "Kenapa, Bang?"
"Saya lagi makan."
"Ya dimakan dulu."
"Kalau saya makan dulu, pelanggan marah."
"Kalau enggak makan?"
"Saya yang marah."
Tukang parkir itu tertawa terbahak-bahak. "Ya udah, marahnya gantian aja."
Raka ikut tertawa. "Boleh juga idenya."
Akhirnya ia memasukkan kembali bekal yang baru dibuka, lalu mengenakan helm.
"Sabar ya," gumamnya kepada nasi bungkus itu. "Kita LDR dulu."
Tukang parkir kembali tertawa sampai harus memegang perutnya. "Mas, saya baru pertama lihat orang pamit sama nasi."
"Dia lebih setia daripada mantan, Pak."
"Kalau gitu jangan disia-siain."
Motor kembali melaju meninggalkan lokasi. Di tengah kemacetan, Raka masih tersenyum sendiri mengingat percakapan singkat tadi. Ia memang mudah tertawa. Lebih tepatnya, ia memilih tertawa. Baginya, hidup sudah cukup melelahkan tanpa harus ditambah wajah yang selalu cemberut. Namun jauh di balik kebiasaannya melucu, ada satu hal yang mulai berubah. Setiap kali melewati jalan berlubang, setiap kali melihat trotoar rusak, atau setiap kali menyaksikan lampu jalan yang mati, pikirannya kini tidak lagi berhenti pada keluhan. Ia mulai bertanya dalam hati, apakah semua ini memang harus dianggap biasa?
Pertanyaan itu belum memiliki jawaban.
Tetapi ia mulai tumbuh.
Pelan.
Hampir tidak terasa.
Seperti retakan kecil pada sebuah dinding yang mula-mula tampak sepele, tetapi lambat laun memperlihatkan bahwa ada sesuatu yang tidak lagi berdiri sekuat sebelumnya.