Pagi di Kota Arunika selalu dimulai dengan cara yang hampir sama. Langit perlahan berubah dari abu-abu menjadi kebiruan, warung-warung membuka rolling door mereka satu per satu, suara pedagang sayur mulai menyusuri gang-gang sempit dengan sepeda motornya, sementara orang-orang berangkat bekerja membawa harapan yang sederhana: semoga hari ini lebih baik daripada kemarin. Namun ada satu hal yang sering luput dari perhatian. Setiap kota sesungguhnya menyimpan ribuan cerita kecil yang tidak pernah masuk berita. Tidak ada kamera televisi yang meliput seorang ibu yang harus mengurangi lauk agar uang belanja cukup sampai akhir pekan. Tidak ada siaran langsung tentang seorang pedagang yang pulang lebih cepat karena dagangannya sepi setelah pasar kembali tergenang air. Tidak ada artikel panjang mengenai seorang pengemudi ojek yang menghabiskan hampir satu jam hanya karena lampu lalu lintas di sebuah persimpangan mati dan menyebabkan kemacetan berlapis. Cerita-cerita itu terlalu kecil untuk dianggap penting oleh sebagian orang. Padahal justru dari cerita-cerita kecil itulah wajah sebuah negara sering kali terlihat paling jelas.
Raka menjadi orang pertama yang merasakan dampaknya pagi itu. Sejak pukul tujuh, aplikasi di telepon genggamnya hampir tidak berhenti mengirimkan pesanan. Hari masih pagi, tetapi lalu lintas di Jalan Buran sudah jauh lebih padat daripada biasanya. Ketika sampai di sebuah persimpangan besar, ia akhirnya mengetahui penyebabnya. Lampu lalu lintas mati total. Tidak ada petugas yang mengatur kendaraan. Mobil, motor, angkot, dan truk saling berebut jalan. Klakson terdengar dari segala arah seolah setiap orang yakin bahwa suara yang lebih keras akan membuat kendaraan lain menghilang dengan sendirinya. Raka menghela napas panjang sambil memperlambat motornya. Penumpang yang duduk di belakangnya, seorang pegawai perempuan yang tampak mengenakan kartu identitas sebuah perusahaan swasta, ikut memandang ke arah kemacetan itu.
"Sering begini, Mas?" tanyanya.
Raka mengangguk pelan. "Kalau lampunya mati, biasanya begini. Kadang setengah jam, kadang lebih."
"Enggak ada yang benerin?"
"Biasanya ada, Bu. Cuma enggak selalu cepat."
Perempuan itu menghela napas. "Saya ada rapat jam delapan."
Raka tersenyum tipis. "Kalau rapatnya dipindah ke sini mungkin semua orang hadir tepat waktu."
Penumpangnya tertawa kecil meski wajahnya masih menyimpan kekhawatiran. "Mas masih sempat bercanda ya."
"Kalau enggak bercanda, macetnya tetap enggak hilang, Bu. Minimal kita enggak ikut panas."
Motor mereka akhirnya bergerak perlahan mengikuti celah yang mulai terbuka. Di sebelah kanan, seorang sopir angkot berteriak meminta jalan. Dari arah berlawanan, seorang pengendara motor hampir bersenggolan dengan mobil pikap karena keduanya sama-sama memaksa maju. Beberapa pejalan kaki berdiri kebingungan di tepi jalan, menunggu kesempatan menyeberang yang tidak kunjung datang. Raka memperhatikan semuanya dengan saksama. Kemacetan memang bukan sesuatu yang baru baginya. Namun sejak beberapa hari terakhir, ia mulai melihatnya dengan cara yang berbeda. Dulu ia hanya menganggap kemacetan sebagai bagian dari pekerjaannya. Kini ia mulai bertanya dalam hati, berapa banyak waktu, tenaga, dan kesempatan yang hilang hanya karena sebuah lampu lalu lintas tidak berfungsi.
Setelah berhasil melewati persimpangan, penumpangnya berkata pelan, "Lucu ya, Mas."
"Apa, Bu?"
"Kita sering menganggap lima belas menit itu sebentar. Padahal buat orang yang mau wawancara kerja, mau ujian, atau mau ke rumah sakit, lima belas menit bisa berarti banyak."
Raka tidak langsung menjawab.
Kalimat itu kembali terdengar sederhana.
Namun seperti beberapa percakapan yang belakangan sering ia alami, kesederhanaannya justru membuatnya sulit dilupakan.
* * *
Di sisi lain kota, Zahra baru saja selesai memimpin doa pagi di kelas empat tempat ia mengajar. Ruangan itu tidak besar. Cat dindingnya mulai memudar di beberapa bagian, kipas angin di langit-langit berputar pelan sambil mengeluarkan bunyi berdecit, dan beberapa meja murid terlihat telah beberapa kali diperbaiki menggunakan paku tambahan. Meski begitu, suasana kelas selalu terasa hidup. Zahra percaya bahwa sekolah bukan hanya tempat anak-anak menghafal pelajaran, melainkan tempat mereka belajar menjadi manusia.
"Anak-anak," katanya sambil tersenyum hangat, "sebelum kita mulai pelajaran, Bu Zahra mau tanya. Siapa yang tadi pagi sarapan?"
Hampir semua tangan terangkat.
"Hampir semua ya. Bagus."
Kemudian ia kembali bertanya, "Kalau yang berangkat ke sekolah tadi jalan kaki, angkat tangan."
Sekitar separuh murid mengangkat tangan.
"Yang naik motor sama orang tua?"
Beberapa tangan lain ikut terangkat.
"Yang naik angkot?"
Hanya dua anak.
Zahra mengangguk pelan. Pertanyaan-pertanyaan itu memang tampak sederhana, tetapi ia sengaja melakukannya sesekali untuk mengenal kehidupan murid-muridnya di luar sekolah.
Saat pelajaran berlangsung, pandangannya beberapa kali tertuju kepada seorang anak laki-laki bernama Fikri yang biasanya paling aktif menjawab pertanyaan. Hari itu Fikri terlihat lebih banyak diam. Buku tulisnya memang terbuka, tetapi pensil di tangannya tidak bergerak. Ketika teman-temannya mengerjakan latihan, anak itu justru beberapa kali menatap kosong ke arah jendela.
Setelah bel berbunyi menandakan waktu istirahat, Zahra menghampirinya.
"Fikri, kamu lagi enggak enak badan?"
Anak itu menggeleng pelan.
"Terus kenapa dari tadi diam?"
Fikri tampak ragu sebelum akhirnya menjawab dengan suara lirih. "Bu... Ayah bilang mungkin bulan depan aku pindah sekolah."
"Pindah?"
"Iya."
"Ke mana?"
Anak itu kembali menggeleng.
"Belum tahu."
"Kenapa harus pindah?"
Fikri menunduk. Jemarinya memainkan ujung buku tulis yang mulai kusut. Setelah cukup lama terdiam, ia akhirnya berkata, "Ayah lagi enggak kerja, Bu."
Zahra tidak segera bertanya lagi.
Ia tahu ada pertanyaan yang lebih baik tidak dipaksakan keluar dari seorang anak berusia sepuluh tahun.
Ia hanya mengusap pelan kepala Fikri sambil berkata, "Nanti kalau ada apa-apa, bilang ke Bu Zahra ya."
Fikri mengangguk pelan.
Sesederhana itu percakapannya.
Namun sepanjang sisa hari mengajar, pikiran Zahra tidak pernah benar-benar lepas dari wajah muridnya tersebut. Selama beberapa tahun menjadi guru, ia telah melihat cukup banyak anak yang terpaksa berpindah sekolah, berhenti belajar sementara, bahkan tidak kembali lagi karena keadaan ekonomi keluarga. Setiap kali itu terjadi, selalu ada alasan yang hampir sama. Orang tua kehilangan pekerjaan. Penghasilan menurun. Biaya hidup meningkat. Rumah harus pindah. Tidak ada satu pun anak yang pernah berkata bahwa mereka berhenti sekolah karena tidak ingin belajar.
Ketika jam pelajaran selesai dan ruang kelas mulai kosong, Zahra duduk sendirian beberapa menit di kursinya. Di rak buku kecil dekat meja guru terdapat sebuah buku tua yang sering ia baca ulang, berisi kumpulan pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Salah satu halaman yang telah diberi tanda pembatas memuat gagasan bahwa pendidikan adalah usaha menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Zahra menutup buku itu perlahan.
Ia percaya pada kalimat tersebut.
Tetapi ia juga tahu, sebaik apa pun seorang guru membimbing muridnya, akan selalu ada tantangan yang berada di luar pagar sekolah.
Dan sering kali, tantangan itu bukan lahir dari ruang kelas.
Melainkan dari kehidupan yang menunggu anak-anak tersebut ketika mereka pulang ke rumah.
* * *
Siang itu matahari bersinar lebih terik dibanding beberapa hari sebelumnya. Genangan yang sempat memenuhi sudut-sudut Kota Arunika mulai mengering, meninggalkan bercak lumpur dan sampah kecil yang tersangkut di tepi jalan. Bagi sebagian orang, cuaca cerah menjadi pertanda aktivitas kembali normal. Namun bagi Alya, cuaca hampir tidak pernah menjadi pembeda. Di rumah sakit tempatnya bekerja, pagi, siang, sore, bahkan hari libur sering kali terasa sama. Lorong-lorong tetap dipenuhi langkah kaki yang tergesa, suara roda tempat tidur pasien bergesekan dengan lantai keramik, monitor kesehatan berbunyi silih berganti, dan aroma cairan antiseptik seolah menjadi udara yang tidak pernah benar-benar hilang. Tempat itu mengajarkan satu hal yang tidak pernah tertulis di buku pelajaran mana pun. Penyakit tidak pernah menunggu waktu yang tepat untuk datang.
Alya baru saja menyelesaikan pemeriksaan tanda vital seorang pasien lanjut usia ketika seorang perempuan paruh baya menghampirinya dengan wajah cemas sambil menggandeng anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun. Anak itu tampak lemas, sesekali batuk, sementara dahinya terasa hangat ketika Alya menyentuhnya. Dengan suara yang tetap tenang, Alya mempersilakan mereka duduk lebih dahulu sebelum menanyakan beberapa hal yang diperlukan. Perempuan itu menjawab satu per satu, tetapi nada bicaranya semakin lama semakin pelan, seolah ada sesuatu yang ingin disampaikan tetapi masih ditahannya.
"Bu, anaknya sudah berapa hari demam?"
"Tiga hari."
"Kenapa baru dibawa sekarang?"