Republik Di Ujung Gang

Rizky Ade Putra
Chapter #6

Pertanyaan yang Mulai Tumbuh

Beberapa hari berlalu sejak mereka terakhir berkumpul membicarakan berbagai persoalan yang mereka temui di tempat masing-masing. Kehidupan di Gang Petam masih berjalan dengan ritme yang sama. Pagi diawali suara pedagang keliling, siang dipenuhi anak-anak yang berlarian sepulang sekolah, sementara malam kembali menjadi milik para pekerja yang melepas lelah di Warung Ujung. Tidak ada peristiwa besar yang menggemparkan. Tidak ada demonstrasi. Tidak ada sidang penting yang memenuhi layar televisi. Namun justru pada hari-hari yang tampak biasa seperti itulah, pertanyaan-pertanyaan kecil mulai tumbuh di kepala kelima sahabat tersebut. Pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah mereka pikirkan karena terlalu sibuk menjalani hidup.

Raka menjadi orang yang paling sering merasakannya. Sebagai pengemudi ojek daring, hampir seluruh waktunya dihabiskan di jalan. Ia mengantar pegawai kantor, mahasiswa, pedagang pasar, kurir, guru, perawat, bahkan sesekali wisatawan yang baru pertama kali datang ke Kota Arunika. Dari atas motornya, ia mendengar ratusan percakapan yang tidak pernah saling berhubungan, tetapi perlahan membentuk gambaran yang sama. Ada yang mengeluhkan harga kontrakan yang naik. Ada yang bercerita bahwa anaknya belum mendapat bangku di sekolah negeri. Ada yang kesal karena mengurus dokumen kependudukan harus bolak-balik akibat satu berkas yang kurang. Ada pula yang hanya menghela napas panjang sambil berkata bahwa bulan ini kembali harus mengurangi pengeluaran karena harga kebutuhan pokok belum juga stabil.

Siang itu, Raka menerima pesanan dari seorang lelaki berusia sekitar enam puluh tahun yang membawa map biru cukup tebal. Titik penjemputannya berada di depan kantor pelayanan publik. Begitu perjalanan dimulai, lelaki itu tampak terus memandangi isi map tersebut sambil beberapa kali menggeleng pelan. Raka yang melihatnya melalui kaca spion akhirnya membuka percakapan dengan hati-hati. "Baru selesai ngurus berkas, Pak?" Lelaki itu menghela napas sebelum menjawab, "Iya, Mas. Ini sudah ketiga kalinya saya datang minggu ini. Katanya tinggal satu tanda tangan lagi, tapi pejabat yang harus tanda tangan sedang dinas luar. Besok disuruh datang lagi." Raka mengangguk pelan. "Jauh rumah Bapak?" "Lumayan. Hampir satu jam naik kendaraan." Setelah beberapa detik terdiam, lelaki itu kembali berkata sambil tersenyum tipis, "Kadang capeknya bukan karena ngurusnya, Mas. Tapi karena kita enggak pernah tahu kapan selesainya."

Kalimat itu kembali menempel di kepala Raka.

Kadang capeknya bukan karena ngurusnya. Tapi karena kita enggak pernah tahu kapan selesainya.

Sesampainya di tujuan, lelaki itu mengucapkan terima kasih, lalu turun sambil tetap menggenggam map birunya erat-erat. Raka memperhatikannya berjalan perlahan memasuki sebuah fotokopi. Mungkin ada dokumen yang harus diperbanyak lagi. Mungkin ada syarat baru yang baru saja diberitahukan. Ia tidak tahu. Namun sejak beberapa minggu terakhir, ia mulai menyadari bahwa pekerjaannya bukan sekadar mengantar orang dari satu titik ke titik lain. Tanpa disadari, ia sedang mengantar potongan-potongan cerita yang menggambarkan kehidupan banyak orang.

Sementara itu, di proyek pembangunan gedung tempat Farhan bekerja, suasana sedikit lebih sibuk dari biasanya. Hari itu dijadwalkan inspeksi dari pihak konsultan pengawas. Semua bagian diperiksa dengan teliti, mulai dari mutu beton, pemasangan tulangan, hingga kelengkapan dokumen pekerjaan. Farhan sudah terbiasa menghadapi pemeriksaan seperti itu. Baginya, proyek yang baik bukan proyek yang lolos karena keberuntungan, melainkan karena sejak awal memang dikerjakan sesuai standar. Saat ia sedang memeriksa gambar kerja, seorang pekerja muda menghampirinya sambil membawa beberapa batang besi yang terlihat sedikit berkarat di bagian permukaan.

"Mas Farhan," katanya, "ini masih dipakai atau diganti?"

Farhan mengambil salah satu batang besi tersebut lalu memperhatikannya beberapa saat. Karatnya memang masih tergolong ringan dan dapat dibersihkan. Namun ia tetap memanggil mandor agar memastikan seluruh material yang tersimpan di area terbuka diperiksa kembali. Mandor itu sempat tersenyum sambil berkata, "Mas, kadang saya heran. Bapak-bapak yang lain lihatnya yang gede-gede. Mas Farhan malah ribut sama karat segini." Farhan ikut tersenyum. "Pak, bangunan yang kuat bukan dibangun dari keputusan besar saja. Bangunan yang kuat dibangun dari ribuan keputusan kecil yang benar." Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Kalau yang kecil mulai kita anggap enggak penting, lama-lama yang besar juga ikut rusak."

Pak Yusuf yang sejak tadi ikut mendengarkan langsung menyahut sambil tertawa, "Berarti kalau saya tiap hari telat lima menit, lama-lama jadi satu jam juga ya?"

Seluruh pekerja tertawa.

Farhan ikut tertawa sambil mengangguk. "Nah, itu contoh yang paling gampang."

Pak Yusuf mengangkat kedua tangannya. "Wah, mulai besok saya enggak bisa ngeles lagi."

Candaan sederhana itu membuat suasana proyek kembali cair. Namun setelah tawa mereda, Farhan tiba-tiba teringat sebuah kisah yang pernah diceritakan dosennya ketika kuliah. Dosen tersebut pernah menjelaskan bahwa banyak bencana konstruksi di berbagai negara bukan disebabkan oleh satu kesalahan besar, melainkan oleh akumulasi keputusan-keputusan kecil yang dianggap sepele. Sebuah baut yang kualitasnya diturunkan. Pemeriksaan yang dilewati. Material yang diterima tanpa pengujian. Jadwal yang dipercepat tanpa perhitungan. Tidak ada satu keputusan yang langsung merobohkan bangunan. Tetapi ketika semuanya bertumpuk, akibatnya bisa sangat besar. Dulu Farhan menganggap cerita itu hanya pelajaran teknik. Kini ia mulai melihat bahwa kehidupan bermasyarakat pun sering bekerja dengan cara yang sama. Persoalan besar hampir selalu diawali oleh pembiaran terhadap persoalan kecil.

Menjelang sore, Farhan menerima pesan dari Damar.

"Malam ini ngumpul?"

Farhan membalas singkat.

"Bisa."

Tidak lama kemudian, Raka ikut muncul di grup. "Gue datang. Tapi jangan pesan gorengan dulu. Kemarin Bu Ratih bilang kolesterol gue udah kayak grafik harga cabai."

Damar langsung membalas. "Bu Ratih bilang gitu?"

"Enggak."

"Terus?"

"Saya yang sadar diri."

Farhan spontan tertawa sendiri membaca percakapan itu. Beberapa pekerja yang melihatnya sempat heran karena biasanya Farhan lebih sering tersenyum tipis daripada tertawa lepas. Ia hanya menggeleng sambil memasukkan kembali telepon genggam ke dalam saku. Ada sesuatu yang mulai berubah dalam pertemanan mereka. Dulu mereka berkumpul hanya untuk melepas penat setelah bekerja. Sekarang, tanpa mereka sadari, setiap pertemuan selalu membawa cerita baru tentang kehidupan masyarakat. Belum ada kesimpulan. Belum ada solusi. Yang ada baru sekumpulan pengalaman yang perlahan mulai membentuk sebuah pertanyaan.

Pertanyaan itu sederhana.

Mengapa begitu banyak orang baik yang bekerja keras setiap hari, tetapi tetap harus berjuang menghadapi persoalan-persoalan yang seharusnya bisa dikelola dengan lebih baik?

Mereka belum mengetahui jawabannya.

Namun untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, tidak ada lagi yang berkata, "Ah, itu bukan urusan kita."

Justru sebaliknya.

Mereka mulai merasa bahwa semua cerita itu, sedikit demi sedikit, sedang mengetuk pintu kehidupan mereka sendiri.

* * *

Siang itu matahari terasa lebih terik dari biasanya. Asap kendaraan menggantung tipis di atas jalanan Kota Arunika, sementara deretan pedagang kaki lima mulai memenuhi trotoar menjelang jam makan siang. Sebagian menjual nasi goreng, bakso, mi ayam, gorengan, es teh, hingga kopi dalam gelas plastik. Orang-orang datang silih berganti. Pegawai kantor yang hanya memiliki waktu istirahat satu jam, pengemudi ojek daring yang menyempatkan makan sebelum menerima pesanan berikutnya, buruh bangunan yang masih mengenakan rompi keselamatan, mahasiswa, hingga ibu-ibu yang baru selesai berbelanja di pasar. Dari kejauhan suasana itu terlihat biasa. Sangat biasa. Namun Damar mulai menyadari bahwa tempat-tempat seperti inilah yang sering menyimpan cerita paling jujur tentang kehidupan masyarakat. Tidak ada pencitraan. Tidak ada naskah. Tidak ada kamera televisi. Yang ada hanyalah orang-orang yang berusaha mempertahankan hidup dengan cara mereka masing-masing.

Beberapa hari sebelumnya, salah seorang pengikut media sosial Damar mengirimkan pesan singkat. Isinya bukan keluhan, melainkan sebuah ajakan. "Bang, coba sekali-sekali liput pedagang nasi goreng di dekat terminal. Bapaknya baik. Anaknya lulusan SMK sudah lama cari kerja tapi belum dapat. Sekarang bantu jualan." Damar sempat membaca pesan itu sekilas sebelum melanjutkan aktivitasnya. Namun entah mengapa, kalimat tersebut terus muncul di kepalanya. Siang itu ia akhirnya memutuskan datang sendiri. Bukan untuk mencari konten yang dramatis, melainkan untuk memastikan apakah cerita itu memang benar adanya.

Gerobak nasi goreng itu berdiri di bawah pohon trembesi yang cukup rindang. Cat hijaunya mulai memudar dimakan usia. Di bagian depan terdapat tulisan sederhana yang dibuat dengan tangan, "Nasi Goreng Pak Harun". Tidak ada spanduk besar. Tidak ada lampu hias. Hanya sebuah gerobak yang tampak sudah menemani pemiliknya selama bertahun-tahun. Seorang lelaki berusia sekitar lima puluh lima tahun sedang mengaduk nasi di atas wajan besar. Keringat mengalir dari pelipisnya meski kipas angin kecil terus berputar di samping gerobak. Sementara itu, seorang pemuda yang usianya tidak jauh berbeda dengan Damar sibuk membungkus pesanan pelanggan sambil sesekali menghitung uang kembalian.

Damar memesan sepiring nasi goreng terlebih dahulu. Baginya, wawancara terbaik selalu dimulai sebagai pelanggan biasa. Setelah keramaian sedikit berkurang, ia memperkenalkan diri dan meminta izin berbincang beberapa menit. Pak Harun tersenyum ramah. "Silakan saja, Mas. Asal jangan pas lagi ramai begini. Nanti saya malah salah kasih cabai." Candaan itu membuat Damar ikut tertawa. "Tenang, Pak. Saya juga enggak mau nanti dibilang gara-gara saya pelanggan pulang bawa nasi goreng rasa gula." Pak Harun kembali tertawa sambil menggeleng. Suasana yang semula canggung perlahan berubah hangat.

Obrolan mereka dimulai dari hal-hal sederhana. Sudah berapa lama berjualan. Berapa jam bekerja setiap hari. Dari mana membeli bahan baku. Berapa kali harga minyak goreng dan beras berubah dalam beberapa tahun terakhir. Pak Harun menjawab semuanya tanpa mengeluh. "Namanya dagang, Mas. Harga naik ya kita ikut mikir. Beras naik, telur naik, minyak naik. Pembeli juga lagi susah. Kalau harga jual saya naik banyak, pelanggan kabur. Kalau enggak naik, untungnya makin tipis. Jadi ya tiap hari main hitung-hitungan." Ia tersenyum kecil seolah persoalan itu sudah menjadi bagian dari hidup yang harus diterima.

Pandangan Damar kemudian beralih kepada pemuda yang sejak tadi membantu melayani pembeli. "Itu anak Bapak?" tanyanya. Pak Harun mengangguk bangga. "Iya. Namanya Fajar." Pemuda itu menoleh sambil tersenyum sopan, lalu kembali sibuk membungkus pesanan. Damar memperhatikan caranya bekerja. Gerakannya cekatan. Sesekali ia mencatat pesanan daring yang masuk melalui sebuah telepon genggam tua. Tidak terlihat seperti seseorang yang baru belajar membantu orang tua.

"Sudah lama bantu jualan, Jar?" tanya Damar.

Fajar tersenyum tipis. "Baru beberapa bulan, Bang."

"Sebelumnya kerja di mana?"

Pemuda itu tidak langsung menjawab. Ia menyelesaikan lebih dulu pesanan seorang pelanggan, mengucapkan terima kasih, lalu kembali menghadap Damar. "Belum sempat kerja."

"Baru lulus?"

"Iya. Lulusan SMK."

"Sudah coba melamar?"

Fajar tertawa kecil. "Sudah. Lumayan banyak."

"Berapa?"

"Kalau dihitung mungkin lebih dari lima puluh."

Damar sempat mengira dirinya salah dengar.

"Lima puluh?"

"Iya."

"Yang panggil wawancara?"

"Ada beberapa."

"Kemudian?"

Lihat selengkapnya