Pagi di Gang Petam selalu dimulai dengan cara yang hampir sama. Matahari bahkan belum sepenuhnya naik ketika suara sapu lidi mulai terdengar dari halaman rumah warga, disusul aroma kopi hitam yang keluar dari dapur-dapur sederhana. Di ujung gang, Pak Hadi sudah membuka bengkel kecilnya meski pelanggan pertama biasanya baru datang satu jam kemudian. Seorang pedagang bubur ayam mendorong gerobaknya perlahan sambil memukul mangkuk dengan sendok sebagai penanda bahwa dagangannya telah siap dijual. Di sisi lain, beberapa ibu sedang mengantre membeli sayuran dari pedagang keliling yang hafal nama hampir seluruh pelanggan tetapnya. Gang itu tampak sama seperti kemarin, tetapi sesungguhnya setiap rumah sedang menyimpan cerita yang berbeda-beda.
Farhan sudah bersiap berangkat sejak pukul enam pagi. Ia mengenakan kemeja kerja berwarna biru muda yang mulai sedikit pudar karena terlalu sering dicuci. Sebelum keluar rumah, ibunya memanggil dari ruang makan. "Han, sarapan dulu. Jangan berangkat cuma minum kopi." Farhan mengangguk lalu duduk di kursi kayu yang sudah dipakai keluarganya bertahun-tahun. Di atas meja hanya tersedia telur dadar, tumis kangkung, tempe goreng, dan semangkuk sayur bening. Menu yang sederhana, tetapi selalu terasa hangat karena dimakan bersama.
Ayah Farhan baru saja selesai membaca berita dari telepon genggamnya. Ia bukan orang yang gemar berkomentar tentang politik. Lebih sering ia memilih mendengarkan. Namun pagi itu ia tiba-tiba berkata pelan, "Semalam ibu belanja lagi. Beras naik sedikit." Ibunya tersenyum tipis sambil menuangkan teh hangat. "Naiknya sedikit, tapi kalau semua kebutuhan naik sedikit, jadinya banyak juga." Farhan hanya diam mendengarkan. Kalimat ibunya terdengar sederhana, tetapi mengingatkannya pada perhitungan anggaran proyek yang sering ia kerjakan. Selisih harga material beberapa ratus rupiah mungkin tampak kecil. Namun jika dikalikan ribuan ton, nilainya bisa berubah menjadi miliaran. Ternyata kehidupan keluarga juga memiliki logika yang sama. Kenaikan harga minyak goreng, telur, beras, gas, dan ongkos transportasi mungkin terlihat kecil jika berdiri sendiri. Akan tetapi, ketika semuanya datang bersamaan, sebuah keluarga harus mulai memilih pengeluaran mana yang didahulukan dan mana yang ditunda.
Adik perempuan Farhan yang masih kuliah kemudian meletakkan ponselnya di atas meja. "Kak, kampus lagi buka pendaftaran beasiswa lagi." Farhan tersenyum. "Bagus dong. Daftar." Adiknya mengangguk, tetapi raut wajahnya tidak sepenuhnya lega. "Iya. Soalnya uang praktikum semester depan lumayan juga." Ayah Farhan langsung menyela dengan nada tenang. "Daftar saja dulu. Rezeki nanti kita pikirkan sama-sama." Tidak ada keluhan. Tidak ada nada putus asa. Hanya sebuah keluarga yang sedang berusaha memastikan setiap anggota rumah tetap memiliki kesempatan mengejar masa depan.
Dalam perjalanan menuju proyek, percakapan di meja makan itu terus teringat oleh Farhan. Selama ini ia sering menganggap persoalan pembangunan hanya berkaitan dengan jalan, jembatan, atau gedung. Padahal pembangunan juga menentukan apakah sebuah keluarga masih mampu membiayai pendidikan anaknya, apakah harga bahan pokok tetap terjangkau, dan apakah kesempatan kerja terus terbuka. Tiba-tiba ia teringat sebuah kutipan salah seorang ekonom Indonesia, yang pernah dibacanya ketika kuliah. Intinya, pembangunan bukan sekadar mengejar pertumbuhan, tetapi harus meningkatkan kualitas hidup manusia. Dulu kalimat itu hanya menjadi materi ujian. Kini, setelah melihat meja makan keluarganya sendiri, kalimat tersebut terasa jauh lebih nyata.
Sesampainya di proyek, suasana sudah cukup ramai. Truk pengangkut material datang bergantian, sementara beberapa pekerja sedang melakukan pengecekan peralatan sebelum memulai pekerjaan. Farhan berjalan menuju area pengecoran yang dijadwalkan berlangsung pagi itu. Ketika sedang memeriksa daftar material, seorang pekerja bernama Ujang menghampirinya sambil tersenyum lebar. "Mas Farhan, saya mau izin besok setengah hari." Farhan mengangguk. "Ada keperluan apa, Kang?" Ujang menggaruk kepalanya sambil tertawa kecil. "Anak saya pembagian rapor."
Farhan ikut tersenyum. "Wah, selamat."
"Belum tentu selamat, Mas."
"Lho?"
"Soalnya saya belum tahu nilainya."
Mereka berdua tertawa.
"Kalau nilainya bagus?"
"Saya traktir Mas Farhan kopi."
"Kalau jelek?"
"Mas Farhan traktir saya kopi."
Farhan menggeleng sambil tertawa. "Enak juga aturan hidup Bapak."
Candaan sederhana itu membuat pekerja lain ikut tertawa. Namun setelah suasana kembali tenang, Ujang berkata dengan nada lebih pelan, "Saya sebenarnya enggak peduli anak saya nanti jadi apa, Mas. Mau jadi montir, guru, tukang las, atau insinyur seperti Mas juga enggak masalah. Yang penting hidupnya lebih baik daripada saya."
Kalimat itu membuat Farhan mendadak terdiam.
Entah mengapa, ucapan Ujang terdengar sangat mirip dengan harapan Pak Harun yang diceritakan Damar semalam.
Bedanya hanya profesi.
Harapannya sama.
Semua orang tua ternyata memiliki impian yang hampir serupa. Mereka ingin anak-anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan yang mereka jalani.
Farhan memandang para pekerja yang mulai kembali bekerja. Sebagian besar dari mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia. Ada yang berasal dari Cirebon, Brebes, Purwokerto, Lampung, hingga Madura. Mereka meninggalkan rumah berbulan-bulan demi mengirim uang kepada keluarga. Mereka bukan sedang membangun gedung untuk diri sendiri.
Mereka sedang membangun masa depan rumah mereka masing-masing.
Menjelang siang, sebuah mobil bak terbuka berhenti di depan proyek. Seorang penjual makanan datang seperti biasa. Para pekerja langsung berkerumun membeli makan siang. Di tengah antrean, terdengar obrolan ringan tentang berbagai hal. Ada yang membahas pertandingan sepak bola semalam, ada yang mengeluhkan cuaca yang semakin panas, ada pula yang bercerita bahwa anaknya mulai mendapat Program Makan Bergizi Gratis di sekolah.
"Kalau di sekolah anak saya sih sekarang sudah mulai jalan," kata seorang pekerja.
"Bagus dong?" sahut yang lain.
"Iya... mudah-mudahan makin bagus."
"Maksudnya?"
Pekerja itu mengangkat bahu. "Kadang menunya bagus. Kadang porsinya sedikit. Pernah juga telat datang, jadi anak-anak makannya sudah siang. Ya semoga ke depan lebih rapi lagi. Namanya juga program baru."
Farhan yang mendengar percakapan itu tidak ikut menyela.
Ia hanya mencatatnya di dalam kepala.
Ia tidak ingin buru-buru menyimpulkan.
Ia juga sadar bahwa sebuah kebijakan publik tidak cukup dinilai dari niatnya saja, tetapi juga dari pelaksanaannya. Jika pelaksanaan di lapangan belum konsisten, maka yang pertama kali merasakan dampaknya adalah masyarakat biasa. Dan bagi seorang anak sekolah, makan siang yang datang terlambat mungkin bukan sekadar soal jadwal. Bisa jadi itu adalah satu-satunya makanan bergizi yang paling dinanti hari itu.
Farhan kembali memandang proyek yang sedang berdiri di hadapannya.
Tiba-tiba ia menyadari sesuatu.
Gedung yang sedang mereka bangun mungkin suatu hari akan selesai. Beton akan mengeras, cat akan mongering, pagar proyek akan dibongkar. Namun pekerjaan membangun sebuah negara tidak pernah benar-benar selesai. Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah negara bukan hanya apa yang berhasil dibangun. Melainkan... berapa banyak rumah yang berhasil dibuat sedikit lebih tenang daripada hari kemarin.
* * *
Pukul sembilan pagi, halaman SD Negeri Harapan Jaya yang terletak tidak jauh dari Gang Petam sudah kembali dipenuhi suara anak-anak. Sebagian berlarian mengejar teman-temannya sebelum bel masuk berbunyi, sebagian lagi duduk di teras kelas sambil membuka bekal atau mengobrol tentang pertandingan sepak bola semalam. Zahra berdiri di depan ruang guru sambil memperhatikan mereka satu per satu. Ada sesuatu yang selalu membuatnya tersenyum setiap kali melihat anak-anak datang ke sekolah. Mereka membawa harapan yang begitu sederhana. Sebagian ingin menjadi dokter, sebagian ingin menjadi polisi, ada yang bercita-cita menjadi guru, bahkan ada yang dengan polos mengatakan ingin menjadi pembuat konten terkenal seperti yang sering mereka lihat di internet. Tidak ada satu pun dari mereka yang pagi itu memikirkan politik. Mereka hanya ingin belajar, bermain, dan pulang membawa cerita untuk keluarganya.
Bel pertama baru saja berbunyi ketika seorang guru kelas berlari tergesa-gesa menuju ruang guru. Wajahnya terlihat panik. "Bu Zahra... boleh minta tolong sebentar?" Zahra segera berdiri. "Ada apa, Bu?" Guru itu menarik napas pendek sebelum menjawab, "Beberapa anak tiba-tiba muntah di kelas." Zahra langsung berjalan cepat menuju ruang kelas yang dimaksud. Baru beberapa langkah, terdengar suara guru lain memanggil dari arah koridor. "Di kelas lima juga ada yang mengeluh sakit perut."