Republik Di Ujung Gang

Rizky Ade Putra
Chapter #8

Pertanyaan yang Tidak Lagi Sama

Keesokan paginya, Gang Petam kembali hidup seperti biasa. Anak-anak berangkat sekolah dengan seragam yang masih sedikit kebesaran, para pedagang membuka lapak sejak matahari belum tinggi, sementara suara knalpot motor para pekerja bersahut-sahutan memenuhi jalan sempit yang menghubungkan gang dengan Jalan Buran. Dari kejauhan, Jakarta tampak seperti kota yang tidak pernah benar-benar berhenti bergerak. Namun bagi lima sahabat itu, ada sesuatu yang telah berubah. Kehidupan di sekitar mereka memang masih sama, tetapi cara mereka memandangnya tidak lagi sama.

Damar duduk di depan laptop sejak pukul tujuh pagi. Di layar monitornya terbuka puluhan tab berisi laporan resmi, berita dari berbagai media, jurnal, hingga data statistik. Ia sengaja tidak langsung membuat video semalam. Pengalaman beberapa tahun menjadi kreator konten mengajarkannya bahwa informasi yang datang paling cepat belum tentu yang paling benar. Ia lebih memilih terlambat beberapa jam daripada menyampaikan sesuatu yang keliru kepada ratusan ribu orang yang menonton videonya. Di samping laptopnya, secangkir kopi hitam mulai dingin karena terlalu lama dibiarkan.

Ayahnya keluar dari kamar sambil tersenyum kecil melihat meja yang dipenuhi buku dan catatan. "Kalau orang lain bangun langsung buka media sosial, kamu malah buka laporan pemerintah." Damar ikut tertawa. "Kalau cuma lihat komentar, Yah, lima menit juga selesai. Tapi kalau mau tahu masalahnya, kadang satu hari pun belum cukup." Ayahnya mengangguk pelan. "Bagus. Jangan pernah jatuh cinta sama kesimpulan sebelum jatuh cinta sama fakta."

Kalimat itu membuat Damar berhenti mengetik.

Ia kembali membuka salah satu catatan yang dibuatnya malam sebelumnya.

Masalah terbesar masyarakat bukan hanya kekurangan informasi. Kadang justru kebanyakan informasi yang belum tentu benar.

Ia kemudian teringat pada pemikiran filsuf Yunani, Socrates, yang pernah mengatakan bahwa kebijaksanaan dimulai ketika seseorang menyadari bahwa dirinya belum mengetahui segalanya. Damar tersenyum sendiri. Menurutnya, seandainya Socrates hidup di zaman media sosial, mungkin kalimat itu akan semakin relevan. Terlalu banyak orang merasa paling tahu, padahal belum sempat memeriksa fakta.

Sementara itu, di sebuah proyek pembangunan di Jakarta Timur, Farhan sedang mengikuti rapat evaluasi mingguan. Di dalam ruangan sederhana yang dipenuhi gambar teknik dan jadwal pekerjaan, pimpinan proyek menjelaskan berbagai target yang harus diselesaikan sebelum akhir bulan. Setelah rapat hampir selesai, pembicaraan bergeser ke persoalan anggaran. Salah seorang staf mengeluhkan harga beberapa material yang kembali mengalami kenaikan.

"Kalau begini terus, biaya proyek ikut naik."

"Memang lagi banyak penyesuaian harga."

"Ya, tapi tetap saja berat."

Farhan mendengarkan tanpa menyela. Ia tahu dunia konstruksi sangat sensitif terhadap perubahan harga. Kenaikan semen, baja, aspal, bahan bakar, hingga biaya distribusi dapat memengaruhi seluruh perhitungan proyek. Di balik setiap angka dalam dokumen anggaran, ada begitu banyak faktor yang saling berkaitan. Itulah sebabnya ia semakin memahami bahwa mengelola negara jauh lebih rumit daripada sekadar membuat janji.

Usai rapat, Ujang kembali menghampirinya sambil membawa helm proyek. "Mas Farhan."

"Iya, Kang?"

"Kemarin anak saya rapornya bagus."

"Wah, selamat."

"Jadi sesuai janji..."

Farhan langsung tertawa.

"...hari ini saya yang traktir kopi."

"Alhamdulillah. Berarti saya enggak jadi keluar uang."

"Tenang, Mas. Tapi jangan pesan yang mahal."

"Kalau begitu saya pesan air putih saja."

Ujang menggeleng sambil tertawa terbahak-bahak. Beberapa pekerja lain ikut tertawa mendengar percakapan mereka. Di tengah suasana santai itu, seorang pekerja lain tiba-tiba berkata, "Saya sebenarnya enggak terlalu ngerti soal APBN, pajak, atau kebijakan. Yang saya tahu cuma satu. Kalau harga kebutuhan naik terus sementara pekerjaan makin susah, ya hidup kami ikut berat."

Tidak ada yang membantah.

Karena kalimat itu terlalu sederhana untuk diperdebatkan.

Farhan justru mengangguk pelan. "Makanya kita perlu tahu kenapa itu bisa terjadi. Bukan supaya bisa marah-marah terus, tapi supaya kita tahu apa yang harus diperbaiki."

Seorang pekerja lain tersenyum kecil. "Mas Farhan sekarang ngomongnya kayak dosen."

"Belum."

"Terus?"

"Cuma lagi belajar jadi warga negara yang baik."

Mereka kembali tertawa.

Namun di balik candaan itu, Farhan menyadari sesuatu.

Selama ini masyarakat sering kali hanya melihat hasil akhir sebuah kebijakan. Harga naik atau turun. Jalan bagus atau rusak. Sekolah nyaman atau tidak. Rumah sakit ramai atau sepi. Padahal sebelum semua itu terjadi, ada proses panjang yang jarang diketahui masyarakat. Ada perencanaan, penyusunan anggaran, pembahasan, pelaksanaan, pengawasan, hingga evaluasi. Ketika salah satu tahapan tersebut gagal berjalan dengan baik, dampaknya dapat dirasakan oleh jutaan orang.

Menjelang siang, video terbaru Damar akhirnya selesai diunggah.

Video itu tidak diawali dengan gambar politikus.

Tidak ada potongan pidato.

Tidak ada musik dramatis.

Yang pertama muncul justru sebuah meja makan sederhana.

Di atasnya hanya ada nasi, tempe, sayur bening, dan telur dadar.

Suara Damar kemudian terdengar pelan.

"Menurut kalian, di mana sebuah kebijakan pemerintah benar-benar berakhir?"

Layar kemudian memperlihatkan berbagai potongan gambar rumah-rumah sederhana, pedagang kaki lima, ruang kelas sekolah, puskesmas, proyek pembangunan, dan wajah-wajah masyarakat yang sedang menjalani aktivitas sehari-hari.

"Banyak orang mengira jawabannya ada di kantor kementerian, gedung DPR, atau balai kota. Padahal tidak. Pada akhirnya, semua kebijakan selalu berakhir di tempat yang sama. Di meja makan keluarga. Di dompet orang tua. Di ruang kelas anak-anak. Di rumah sakit. Di rumah-rumah kita."

Video itu tidak menyalahkan siapa pun.

Tidak memuji siapa pun.

Lihat selengkapnya