Pagi itu Jakarta diguyur hujan sejak subuh. Air yang turun tidak terlalu deras, tetapi cukup lama untuk membuat selokan di beberapa sudut kota mulai meluap. Di Gang Petam, genangan setinggi mata kaki sudah terbentuk di beberapa bagian jalan yang permukaannya yang pastinya lebih rendah. Anak-anak yang hendak berangkat sekolah melompat-lompat menghindari air sambil menggulung sedikit celana seragam mereka. Seorang ibu memegang tangan anaknya erat-erat agar tidak terpeleset, sementara seorang pedagang gorengan terlihat sibuk memindahkan gerobaknya ke tempat yang lebih tinggi. Pemandangan seperti itu bukan sesuatu yang langka. Hampir setiap musim hujan datang, warga sudah hafal bagian mana yang akan tergenang lebih dulu. Tidak sampai menjadi banjir besar, tetapi cukup untuk mengganggu aktivitas pagi.
Raka baru saja mengenakan jas hujannya ketika aplikasi di telepon genggamnya berbunyi. Pesanan pertama masuk lebih cepat daripada biasanya. Titik penjemputan berada tidak jauh dari sebuah kompleks perumahan di Jakarta Barat, sedangkan tujuan akhirnya menuju sebuah rumah sakit di Jakarta Pusat. Sesampainya di lokasi, seorang perempuan paruh baya bersama anak laki-lakinya yang berusia sekitar sepuluh tahun sudah menunggu di bawah kanopi minimarket. Anak itu mengenakan masker dan sesekali batuk pelan. Setelah memastikan keduanya sudah siap, Raka memulai perjalanan dengan hati-hati karena jalanan masih licin. Selama beberapa menit mereka hanya ditemani suara hujan yang memukul helm dan jas hujan.
Baru ketika lampu merah memaksa kendaraan berhenti, perempuan itu menghela napas panjang sambil berkata lirih kepada anaknya, "Sabar ya, Nak. Sebentar lagi sampai." Anak itu mengangguk pelan tanpa banyak bicara. Raka tidak berniat mencampuri urusan penumpangnya, tetapi perempuan itu sendiri akhirnya membuka percakapan. "Maaf ya, Mas, kalau jalannya agak buru-buru. Anak saya kontrol asma. Jadwalnya jam sembilan." Raka mengangguk sambil tersenyum. "Enggak apa-apa, Bu. Yang penting selamat."
Perempuan itu kemudian bercerita bahwa beberapa hari terakhir kualitas udara terasa lebih buruk sehingga anaknya lebih sering mengalami sesak napas. "Kalau udara lagi jelek begini, dia gampang batuk. Dokternya bilang memang harus lebih hati-hati." Raka hanya mendengarkan. Ia memang sering membaca berita tentang kualitas udara Jakarta yang beberapa kali masuk dalam kategori tidak sehat, tetapi baru kali itu ia melihat secara langsung bagaimana angka-angka dalam laporan kualitas udara berubah menjadi napas seorang anak yang terdengar berat.
Di tengah perjalanan, kemacetan mulai memanjang. Sebuah genangan air menutup hampir separuh badan jalan sehingga kendaraan harus bergantian melintas ke sisi yang tidak tergenang air. Beberapa pengendara motor memilih naik ke trotoar, sementara mobil-mobil berjalan nyaris merayap. Perempuan itu kembali memandang jam tangannya. Wajahnya mulai terlihat cemas. Raka berusaha mencari jalur alternatif yang masih memungkinkan dilalui. Untungnya mereka tiba di rumah sakit hanya terlambat beberapa menit.
Sebelum turun, perempuan itu berkata pelan, "Terima kasih ya, Mas. Semoga anak-anak di kota ini bisa bernapas lebih lega suatu hari nanti." Kalimat itu sederhana. Tidak terdengar seperti kritik. Tidak pula seperti keluhan. Hanya sebuah harapan yang lahir dari seorang ibu yang setiap bulan harus mengantar anaknya berobat.
Raka memperhatikan mereka berjalan memasuki gedung rumah sakit. Anak itu menggenggam erat tangan ibunya, sementara di belakang mereka antrean pasien lain sudah mulai memenuhi lobi. Untuk beberapa saat, Raka tidak langsung menerima pesanan berikutnya. Ia duduk di atas motornya sambil memandangi langit Jakarta yang masih berwarna kelabu.
Ia tiba-tiba teringat pada sebuah tulisan yang pernah dibacanya beberapa bulan lalu. Seorang ekonom peraih Nobel, Amartya Sen, pernah menjelaskan bahwa pembangunan seharusnya memperluas kemampuan manusia untuk menjalani hidup yang sehat, aman, dan bermartabat. Waktu pertama kali membaca kalimat itu, Raka menganggapnya terlalu akademis. Kini ia mulai memahami maksudnya. Bagi seorang ibu yang baru saja turun dari motornya, pembangunan mungkin sesederhana udara yang tidak membuat anaknya sesak napas.
* * *
Di sisi lain kota, Alya baru saja menyelesaikan pemeriksaan seorang lansia di puskesmas tempatnya bekerja. Ruang tunggu pagi itu sudah penuh. Sebagian besar pasien datang dengan penyakit yang tidak asing lagi: tekanan darah tinggi, diabetes, infeksi saluran pernapasan, dan keluhan lambung. Namun beberapa tahun terakhir, ada satu pola yang semakin sering ia temui. Semakin banyak anak muda yang datang dengan keluhan yang dulu lebih sering dialami orang berusia jauh lebih tua.
Seorang laki-laki berusia dua puluh delapan tahun duduk di hadapannya sambil memegang hasil pemeriksaan laboratorium. Alya membaca lembar tersebut perlahan. Kolesterol tinggi. Gula darah mulai meningkat. Berat badan berlebih. Setelah menjelaskan hasil pemeriksaan, ia bertanya pelan, "Mas biasanya kerja apa?"
"Admin gudang, Bu."
"Jam kerjanya bagaimana?"
"Gantian. Kadang siang, kadang malam."
"Olahraga?"
Lelaki itu tersenyum malu. "Jarang."
"Makan?"
"Kalau lagi kerja malam... ya yang penting kenyang."
Alya mengangguk pelan. Ia sudah terlalu sering mendengar jawaban seperti itu.
Setelah pasien tersebut keluar, seorang perawat yang sedang merapikan berkas berkata lirih, "Sekarang umur belum tiga puluh juga sudah banyak yang darah tinggi."
Alya mengembuskan napas pelan. "Kadang kita mengira kesehatan cuma urusan rumah sakit."
"Padahal?"
"Padahal banyak penyakit dimulai jauh sebelum seseorang masuk rumah sakit."
Perawat itu menoleh.
Alya melanjutkan, "Cara kota dibangun, kualitas udara, makanan yang mudah didapat, jam kerja, ruang terbuka untuk olahraga, pendidikan kesehatan, semuanya ikut memengaruhi."
Perawat itu mengangguk pelan. "Berarti kesehatan juga urusan banyak sektor ya, Bu."
"Iya. Dokter bisa mengobati orang yang sakit. Tapi masyarakat yang sehat tidak hanya dibentuk oleh dokter."
Kalimat itu mengingatkan Alya pada seorang ahli kesehatan masyarakat yang sangat ia kagumi, Sir Michael Marmot. Dalam berbagai penelitiannya mengenai social determinants of health, Marmot menjelaskan bahwa kesehatan seseorang tidak hanya ditentukan oleh pelayanan medis, tetapi juga oleh pendidikan, pekerjaan, pendapatan, lingkungan tempat tinggal, hingga kualitas kebijakan publik. Dulu teori itu hanya ia hafalkan ketika kuliah. Kini, hampir setiap hari ia melihat buktinya di ruang praktik.
Menjelang siang, seorang ibu datang membawa balita yang tampak kurus. Setelah pemeriksaan selesai, Alya berbincang cukup lama mengenai pola makan, sanitasi, dan kondisi rumah mereka. Ia tidak menghakimi. Ia tahu banyak keluarga sebenarnya ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka, tetapi sering kali pilihan mereka dibatasi oleh keadaan.
Saat ibu itu berpamitan, Alya memandang pintu ruang pemeriksaan cukup lama.
Ia kembali menyadari satu hal.
Tidak semua masalah kesehatan bisa diselesaikan dengan resep obat. Kadang yang dibutuhkan adalah air bersih. Kadang pekerjaan yang lebih layak. Kadang lingkungan yang lebih sehat. Kadang pendidikan yang lebih baik. Dan semua itu, cepat atau lambat, selalu bersinggungan dengan keputusan-keputusan yang dibuat jauh di luar ruang pemeriksaan.
Di luar puskesmas, hujan mulai reda. Matahari perlahan muncul di balik awan, memantulkan cahaya ke jalanan yang masih basah. Kota kembali bergerak seperti biasa.
Namun tanpa disadari banyak orang, negara mulai mengetuk pintu kehidupan mereka dengan cara yang jauh lebih halus daripada pidato, baliho, atau kampanye.
Ia hadir melalui udara yang dihirup seorang anak.
Melalui kemacetan yang memperlambat perjalanan menuju rumah sakit. Melalui ruang tunggu puskesmas yang setiap hari semakin penuh. Dan melalui pertanyaan-pertanyaan sederhana yang kini semakin sering muncul di kepala Raka dan Alya.
Mungkin selama ini negara memang tidak pernah benar-benar jauh dari kehidupan mereka.
Mungkin... merekalah yang baru mulai belajar melihatnya.
* * *
Menjelang sore, langit Jakarta kembali dipenuhi awan kelabu. Hujan memang sudah berhenti sejak siang, tetapi jalanan masih menyisakan genangan di beberapa titik. Di sebuah halte bus yang tidak jauh dari pusat kota, orang-orang berdiri berdesakan menunggu kendaraan datang. Sebagian memandangi layar telepon genggam, sebagian lagi hanya memandangi arus kendaraan yang berjalan pelan. Di antara mereka, Damar berdiri sambil membawa tas selempang dan sebuah buku catatan kecil yang kini hampir selalu menemaninya ke mana pun pergi. Hari itu ia sengaja tidak menentukan tujuan liputan. Ia hanya ingin berjalan, mendengar, dan melihat. Sejak beberapa bulan terakhir ia menyadari bahwa cerita-cerita paling penting sering kali tidak ditemukan ketika seseorang mencarinya, melainkan ketika seseorang cukup sabar untuk mendengarkannya.
Tidak jauh dari halte, sebuah taman kota tampak ramai oleh warga yang memanfaatkan sore untuk berolahraga. Anak-anak berlarian mengejar gelembung sabun, pasangan lansia berjalan pelan mengelilingi jalur pejalan kaki, sementara beberapa remaja duduk di bangku taman mengerjakan tugas sekolah. Damar memperhatikan suasana itu cukup lama. Baginya, taman bukan hanya ruang hijau. Ia adalah salah satu ukuran sederhana tentang bagaimana sebuah kota memperlakukan warganya. Ketika masih kuliah, ia pernah membaca tulisan Jane Jacobs, seorang pemikir perkotaan asal Amerika Serikat yang berpendapat bahwa kota yang baik bukan hanya dipenuhi bangunan megah, melainkan kota yang membuat warganya mau berjalan kaki, saling bertemu, dan merasa aman menggunakan ruang publik. Dulu teori itu terasa jauh dari kehidupannya. Kini, ketika melihat seorang ayah mengajari anaknya bersepeda tanpa khawatir diserempet kendaraan, ia mulai memahami maksudnya.
Di salah satu bangku taman duduk seorang lelaki berusia sekitar enam puluh lima tahun. Rambutnya sudah memutih, tetapi posturnya masih tegap. Di sampingnya terdapat tas kerja yang tampak sudah cukup tua. Damar yang kebetulan duduk tidak jauh darinya sempat mengangguk sopan. Lelaki itu membalas senyum, lalu berkata lebih dulu, "Sekarang taman begini lebih ramai ya."
"Iya, Pak," jawab Damar sambil menutup buku catatannya. "Bapak sering ke sini?"
"Hampir setiap sore."
"Olahraga?"
"Kadang. Kadang cuma duduk."
Mereka tertawa kecil.
Lelaki itu kemudian memandang anak-anak yang sedang bermain sebelum melanjutkan, "Dulu waktu saya masih muda, tempat seperti ini enggak banyak. Kalau anak-anak mau main, ya main di jalan."
Damar mengangguk.
"Bagus kalau sekarang ruang terbuka mulai bertambah. Kota itu jangan isinya cuma gedung."
Percakapan mereka mengalir begitu saja. Damar baru mengetahui bahwa lelaki tersebut adalah pensiunan pegawai Dinas Pertamanan. Puluhan tahun ia bekerja mengurus pohon, taman, dan jalur hijau di Jakarta.
"Banyak orang menganggap taman itu enggak penting," katanya sambil tersenyum tipis. "Padahal coba bayangkan kalau kota ini enggak punya pohon sama sekali."