Pagi itu, Gang Petam diselimuti udara yang lebih sejuk daripada biasanya. Hujan semalaman membuat dedaunan di depan rumah warga tampak lebih hijau, sementara sisa air masih menggenang di beberapa bagian jalan yang belum sepenuhnya rata. Dari kejauhan terdengar suara azan Subuh yang baru saja usai, disusul bunyi pintu-pintu rumah yang mulai terbuka. Seorang bapak menuntun sepeda tuanya menuju jalan besar untuk berangkat bekerja, seorang ibu menyapu halaman sambil sesekali menyapa tetangga yang lewat, dan aroma bawang putih yang ditumis mulai keluar dari dapur-dapur sederhana. Gang itu tidak pernah benar-benar ramai pada jam seperti ini. Namun justru dalam kesunyian pagi itulah kehidupan perlahan memulai putarannya. Setiap rumah memiliki tujuan masing-masing. Ada yang sedang mengejar nafkah, ada yang mengejar pendidikan, ada pula yang sekadar berharap hari ini berjalan sedikit lebih baik daripada kemarin.
Di rumah Farhan, suasana pagi selalu memiliki irama yang hampir sama. Ibunya sibuk menyiapkan bekal untuk adiknya, sementara ayahnya sedang memeriksa ban sepeda motor yang mulai terlihat tipis. Farhan baru saja keluar dari kamar ketika melihat ayahnya mengusap permukaan ban sambil menggeleng pelan. "Kayaknya bulan ini harus ganti ban," katanya tanpa menoleh. Ibunya yang sedang membungkus nasi langsung menyahut, "Kalau belum terlalu parah, bulan depan saja, Pak." Ayah Farhan tersenyum kecil. "Iya, cuma takutnya keburu licin kalau hujan."
Farhan ikut jongkok memperhatikan ban motor itu. Alurnya memang sudah mulai menipis. Ia memahami alasan ayahnya menunda. Di banyak keluarga, keputusan membeli sesuatu sering kali bukan karena barang itu belum dibutuhkan, melainkan karena ada kebutuhan lain yang lebih mendesak. Rumah tangga selalu dipenuhi pilihan-pilihan kecil seperti itu. Memperbaiki atap atau membayar uang sekolah. Mengganti ban motor atau membeli obat. Membeli pakaian baru atau menabung untuk biaya kuliah anak. Tidak semua keputusan terasa berat ketika dilihat dari luar. Namun bagi mereka yang menjalaninya setiap hari, setiap rupiah hampir selalu memiliki tujuan.
Dalam perjalanan menuju proyek, Farhan kembali memikirkan percakapan pagi tadi. Lampu lalu lintas di persimpangan besar membuat antrean kendaraan mengular cukup panjang. Di sebelah kirinya, seorang pengemudi ojek daring sedang memeriksa ponselnya sambil sesekali mengusap wajah yang dipenuhi keringat. Di depan, sebuah truk pengangkut material berjalan pelan karena kelebihan muatan. Tidak jauh dari sana, beberapa pekerja kebersihan menyapu trotoar yang mulai dipenuhi daun-daun basah. Semua orang tampak sibuk dengan urusannya sendiri. Namun tanpa mereka sadari, aktivitas yang mereka lakukan setiap hari sebenarnya saling terhubung melalui sesuatu yang lebih besar.
Farhan teringat pada pemikiran Adam Smith yang sering dikenal melalui konsep division of labour atau pembagian kerja. Banyak orang hanya mengenal namanya sebagai bapak ekonomi modern, padahal salah satu gagasannya yang paling sederhana justru menjelaskan mengapa masyarakat dapat berkembang. Tidak ada seorang pun yang membuat semua kebutuhannya sendiri. Petani menanam padi. Sopir mengantarkan barang. Guru mengajar. Dokter mengobati pasien. Tukang bangunan mendirikan rumah. Masing-masing mengerjakan bagian yang berbeda agar kehidupan bersama dapat berjalan. Farhan tersenyum sendiri. Dulu ia menghafal teori itu hanya untuk lulus ujian kuliah. Kini ia melihatnya setiap hari di jalanan Jakarta.
Sesampainya di proyek, pekerjaan sudah dimulai sejak pukul tujuh. Suara mesin pemotong besi bersahutan dengan bunyi palu yang memukul bekisting. Beberapa pekerja sedang memindahkan besi tulangan, sementara yang lain memeriksa hasil pengecoran semalam. Farhan baru saja mengenakan helm proyek ketika seorang mandor menghampirinya sambil membawa beberapa lembar dokumen. "Mas Farhan, ada perubahan jadwal pengiriman baja. Katanya kapal yang bawa barang terlambat sandar." Farhan menerima berkas itu lalu membaca sekilas. "Alasannya?" Mandor itu mengangkat bahu. "Cuaca sama antrean di pelabuhan."
Farhan mengangguk pelan. Keterlambatan beberapa hari mungkin terdengar sepele. Namun di dunia konstruksi, satu material yang datang terlambat dapat membuat pekerjaan lain ikut tertunda. Jadwal bergeser. Biaya bertambah. Target berubah. Ia kemudian teringat pada sebuah pelajaran ketika kuliah mengenai rantai pasok atau supply chain. Banyak orang menganggap barang selalu tersedia begitu saja di toko atau di proyek. Padahal sebelum sebuah batang besi tiba di lokasi pembangunan, ia telah melewati perjalanan yang panjang. Diproduksi di pabrik, dikirim ke pelabuhan, dipindahkan ke kapal, dibawa ke gudang, lalu diangkut menggunakan truk hingga akhirnya sampai ke tangan pekerja. Ketika satu mata rantai terganggu, seluruh sistem ikut merasakannya.
Ia juga teringat pada pemikiran W. Edwards Deming, seorang tokoh yang berpengaruh dalam dunia manajemen mutu. Deming pernah menekankan bahwa sebagian besar masalah dalam sebuah sistem bukan semata-mata disebabkan oleh individu, melainkan oleh sistem itu sendiri. Kalimat itu terasa sederhana, tetapi maknanya luas. Ketika pelayanan publik terlambat, distribusi barang terhambat, atau sebuah proyek molor, belum tentu penyebabnya adalah satu orang yang lalai. Bisa jadi ada rangkaian proses yang memang belum bekerja sebagaimana mestinya. Karena itulah memperbaiki sistem sering kali lebih penting daripada sekadar mencari kambing hitam.
Menjelang siang, Farhan dan beberapa pekerja beristirahat di bawah tenda sederhana. Ujang kembali duduk di sampingnya sambil membuka bekal dari rumah. "Mas Farhan," katanya sambil menyodorkan sepotong ikan goreng, "istri saya tadi pagi nelepon." Farhan tersenyum. "Anaknya senang habis bagi rapor?" Ujang mengangguk bangga. "Senang. Tapi sekarang malah minta masuk les bahasa Inggris." Farhan tertawa kecil. "Terus Bapak jawab apa?" Ujang ikut tertawa sebelum menarik napas panjang. "Saya bilang, nanti Ayah usahain."
Kalimat itu terdengar begitu biasa.
Namun Farhan tahu, dua kata Ayah usahain sering kali merupakan janji yang paling berat diucapkan oleh banyak orang tua.
Ujang melanjutkan sambil memandangi pekerja lain yang sedang makan. "Kadang saya mikir, Mas. Orang tua itu lucu ya. Waktu anak minta mainan, kita mikir. Waktu anak minta sekolah yang lebih bagus, kita juga mikir. Tapi ujung-ujungnya tetap diusahain."
Farhan hanya mengangguk.
Ia kembali teringat pada tema yang selama ini tanpa sadar terus mereka temukan di setiap sudut kehidupan.
Negara memang berbicara tentang anggaran, kebijakan, dan pembangunan. Namun semua itu pada akhirnya selalu bermuara pada rumah-rumah sederhana yang setiap malam dipenuhi orang tua yang diam-diam sedang menghitung pengeluaran, menyusun harapan, dan berusaha memastikan anak-anak mereka masih bisa bermimpi lebih tinggi daripada generasi sebelumnya.
Sementara itu, di sisi lain Jakarta, Zahra baru selesai mengikuti rapat guru. Di ruang kelas yang mulai sepi, ia berdiri memandangi bangku-bangku murid yang kini kosong. Cahaya matahari masuk melalui jendela, menerangi papan tulis yang belum sempat dihapus seluruhnya. Di atas salah satu meja masih tertinggal sebuah gambar rumah yang dibuat menggunakan pensil warna. Atapnya merah. Di sampingnya ada pohon mangga, seekor kucing, dan empat orang yang sedang bergandengan tangan. Di bawah gambar itu tertulis dengan huruf yang belum begitu rapi, "Rumahku tempat paling aman."
Zahra mengangkat kertas itu perlahan. Entah mengapa, ia kembali teringat ucapan seorang ibu beberapa hari lalu ketika anaknya dirawat akibat dugaan keracunan makanan. "Saya cuma ingin anak saya pulang dalam keadaan sehat."
Kalimat itu masih melekat kuat di kepalanya. Ia kemudian menyadari sesuatu. Selama ini orang sering mengukur keberhasilan negara melalui angka-angka pertumbuhan ekonomi, panjang jalan tol, jumlah investasi, atau besarnya anggaran. Semua itu memang penting. Namun bagi seorang ibu, ukuran keberhasilan yang paling sederhana mungkin hanyalah satu: apakah sore nanti anaknya bisa pulang ke rumah dalam keadaan sehat, tersenyum, lalu menceritakan bagaimana harinya di sekolah.
Dan mungkin, pikir Zahra, di situlah sesungguhnya arti dari tema yang selama ini tanpa sadar sedang mereka pelajari bersama. Republik ini pada akhirnya selalu kembali ke tempat yang sama. Ke rumah.
Karena setiap kebijakan, setiap pembangunan, setiap rupiah pajak, dan setiap keputusan yang dibuat atas nama rakyat... pada akhirnya akan diuji oleh satu pertanyaan yang sangat sederhana.
Apakah malam ini lebih banyak rumah yang bisa tidur dengan tenang daripada kemarin?
* * *
Sore itu langit Jakarta kembali berwarna keemasan. Matahari mulai turun perlahan di balik deretan gedung-gedung tinggi, memantulkan cahaya jingga ke jendela-jendela rumah yang memenuhi Gang Petam. Anak-anak berlarian pulang sambil membawa tas sekolah yang tampak lebih besar daripada tubuh mereka. Di depan musala, beberapa bapak sedang duduk berbincang sambil menunggu waktu salat Asar. Aroma gorengan dari warung Bu Ratih mulai memenuhi udara, bercampur dengan bau tanah yang masih lembap setelah hujan semalam. Dari kejauhan terdengar suara kereta yang melintas, seolah mengingatkan bahwa di luar gang kecil itu, Jakarta masih terus bergerak dengan segala kesibukannya. Namun bagi orang-orang yang tinggal di Gang Petam, sore selalu menjadi waktu ketika rumah kembali menemukan penghuninya.
Di Puskesmas tempat Alya bekerja, suasana justru masih cukup ramai. Ruang tunggu dipenuhi warga yang datang dengan berbagai keluhan. Ada balita yang sedang demam, seorang ibu hamil yang menunggu pemeriksaan rutin, seorang kakek yang hendak mengambil obat tekanan darah, hingga seorang pengemudi ojek daring yang datang karena tangannya terkilir setelah terjatuh di jalan. Alya berjalan dari satu ruang ke ruang lain sambil sesekali memeriksa berkas pasien. Baginya, setiap hari hampir selalu menghadirkan cerita yang berbeda. Namun semakin lama ia bekerja, semakin ia menyadari bahwa penyakit yang datang ke puskesmas sering kali bukan hanya persoalan kesehatan. Banyak di antaranya berakar dari persoalan yang jauh lebih luas.
Menjelang pukul empat sore, seorang perempuan paruh baya masuk ke ruang pemeriksaan bersama anak laki-lakinya yang berusia sekitar delapan tahun. Anak itu tampak kurus dan terus batuk sejak duduk di ruang tunggu. Setelah melakukan pemeriksaan awal, Alya mendapati bahwa kondisinya tidak mengkhawatirkan, tetapi ia melihat sesuatu yang menarik perhatian. Berat badan anak itu berada di bawah kisaran yang seharusnya untuk usianya.
Alya kemudian bertanya dengan suara lembut, "Belakangan makannya bagaimana, Bu?"
Perempuan itu tampak ragu-ragu sebelum menjawab. "Sebenarnya makannya mau, Bu. Cuma... ya begitu."
"Begitu bagaimana?"
Ia tersenyum kaku. "Kadang lauknya enggak selalu ada."
Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi bagi Alya. Alya tidak langsung berbicara lagi. Ia tahu, tidak semua jawaban membutuhkan pertanyaan lanjutan. Ada kalanya diam justru lebih menghormati seseorang yang sedang berusaha menjaga harga dirinya.
Setelah beberapa saat, perempuan itu kembali berkata pelan, "Suami saya baru dua bulan terakhir kerjanya enggak tentu. Kadang dapat panggilan bangunan, kadang seminggu enggak ada."
Alya mengangguk pelan sambil mencatat hasil pemeriksaan.
Ia kemudian menjelaskan langkah-langkah yang perlu dilakukan, memberikan edukasi mengenai pola makan, serta mengarahkan keluarga tersebut kepada program layanan yang memang dapat mereka akses melalui puskesmas dan instansi terkait. Ia tidak memberikan janji-janji yang tidak bisa dipenuhi. Namun setidaknya, ia ingin memastikan keluarga itu mengetahui hak-hak yang memang tersedia bagi mereka.