Republik Di Ujung Gang

Rizky Ade Putra
Chapter #11

Negara yang Mulai Terasa Dekat

Pagi di Gang Petam datang seperti biasanya, tetapi ada sesuatu yang perlahan berubah di dalam diri orang-orang yang tinggal di sana. Bukan perubahan yang bisa dilihat dari luar. Tidak ada bangunan baru, tidak ada jalan yang tiba-tiba menjadi mulus, tidak ada spanduk besar yang mengumumkan sesuatu. Gang itu masih sama. Lubang di tengah jalan masih dipenuhi air sisa hujan semalam. Warung Ujung masih membuka pintunya setengah badan ketika matahari belum sepenuhnya muncul. Pak Hendra masih mendorong gerobak galon melewati rumah-rumah warga, sementara suara anak-anak sekolah mulai terdengar dari ujung gang. Namun bagi lima sahabat yang beberapa bulan terakhir perlahan belajar menghubungkan kehidupan sehari-hari dengan keputusan-keputusan yang dibuat oleh negara, pagi itu terasa sedikit berbeda. Mereka tidak lagi hanya melihat jalan sebagai jalan, sekolah sebagai sekolah, puskesmas sebagai tempat berobat, pasar sebagai tempat membeli kebutuhan, atau pekerjaan sebagai urusan masing-masing. Ada sesuatu yang kini selalu mengikuti pandangan mereka: pertanyaan tentang siapa yang menentukan semua itu, bagaimana keputusan dibuat, dan mengapa hasilnya kadang begitu jauh dari harapan orang-orang yang menjalani kehidupan di bawahnya. Pertanyaan-pertanyaan itu belum menghasilkan jawaban. Justru sebaliknya, semakin banyak mereka bertanya, semakin luas dunia yang mereka sadari belum mereka pahami.

Farhan menjadi orang pertama yang keluar rumah pagi itu. Ia sudah mengenakan kemeja kerja dan membawa tas yang berisi laptop serta beberapa dokumen proyek. Sebelum berangkat, ia sempat berdiri di depan rumah sambil memperhatikan jalan. Seorang ibu mengantar anaknya dengan sepeda motor. Seorang bapak berjalan sambil membawa kantong plastik berisi sarapan. Dua anak SMP tertawa sambil berusaha menghindari genangan. Semuanya terlihat biasa. Namun Farhan kini mulai terbiasa memperhatikan hal-hal yang sebelumnya luput dari pandangannya. Ia melihat seorang ibu yang harus mengurangi kecepatan karena jalan rusak. Ia melihat seorang anak yang memilih berjalan di pinggir karena takut sepatunya kotor. Ia melihat seorang pedagang kecil harus memarkir gerobaknya sedikit lebih jauh karena sebagian badan jalan tertutup genangan. Dulu semua itu hanya menjadi pemandangan. Sekarang setiap pemandangan seperti membawa pertanyaan sendiri. Farhan menarik napas pelan lalu berjalan menuju Warung Ujung. Bu Ratih sudah berdiri di depan etalase ketika melihatnya datang. "Pagi, Han. Kopi?" Farhan mengangguk. "Satu, Bu." Bu Ratih mengambil sachet kopi dari rak. "Kamu sekarang sering bengong di depan jalan." Farhan tersenyum kecil. "Lagi mikir." "Jangan terlalu banyak mikir. Nanti enggak jadi berangkat kerja." Farhan tertawa pelan. "Saya justru mikir karena mau berangkat kerja." Bu Ratih menatapnya sebentar, lalu tersenyum. "Wah, sudah mulai ngomong susah sekarang." Farhan belum sempat menjawab ketika Raka muncul dari tikungan dengan motornya. Ia berhenti di depan warung, membuka helm, lalu menghela napas panjang. "Pagi." Bu Ratih menoleh. "Pagi. Mukamu kenapa?" "Enggak kenapa-kenapa." "Berarti kurang tidur." "Bukan." "Kurang uang?" Raka terdiam. "Nah, itu baru benar." Farhan tertawa. Raka kemudian duduk di sebelahnya sambil memesan kopi. Beberapa detik mereka hanya diam. Tidak seperti biasanya, Raka tidak langsung memulai cerita tentang penumpang, jalan macet, atau pelanggan yang salah memasukkan alamat. Ia justru memandang ke arah jalan. Farhan memperhatikannya sebentar. "Lu kenapa?" Raka mengangkat bahu. "Enggak tahu." "Aneh." "Kenapa?" "Biasanya jam segini lu udah ngomel." Raka tersenyum tipis. "Gue lagi mikir sesuatu." "Apa?" Raka menunjuk jalan di depan mereka. "Gue sekarang kalau lihat jalan rusak, lampu merah mati, atau orang antre panjang di rumah sakit, rasanya pengin tahu siapa yang bertanggung jawab." Farhan mengangguk pelan. "Itu bagus." "Bagus apanya? Gue sendiri enggak tahu harus mulai dari mana." Farhan terdiam. Ia memahami perasaan itu. Mereka telah sampai pada titik ketika ketidaktahuan tidak lagi terasa nyaman. Dulu tidak tahu membuat mereka bisa menjalani hari tanpa beban. Sekarang tidak tahu justru membuat mereka gelisah.

Damar datang beberapa menit kemudian dengan kamera yang menggantung di leher dan sebuah map tipis di tangan. Ia duduk tanpa banyak bicara, memesan teh hangat, lalu membuka map tersebut. Raka melirik. "Apaan?" "Catatan." "Tentang?" Damar mengeluarkan beberapa lembar hasil cetakan. "Pasar yang kemarin gue datangi." Farhan menatapnya. "Yang banjir?" "Iya." Damar meletakkan lembar pertama di meja. "Gue cari tahu sedikit. Ternyata masalahnya bukan cuma saluran mampet." Raka mengernyit. "Terus?" "Ada saluran yang enggak nyambung. Ada bagian yang dangkal. Ada sampah. Ada juga wilayah yang mengalami perubahan penggunaan lahan. Pedagang cuma lihat air masuk ke kios. Pemerintah mungkin lihatnya sebagai persoalan drainase. Tapi kalau dibongkar lagi, ternyata ada banyak hal di belakangnya." Raka menyeruput kopi. "Jadi makin dicari makin ribet?" "Bukan ribet. Kompleks." "Sama aja." Damar tertawa. "Enggak sama." Farhan ikut melihat dokumen itu. "Lu dapat dari mana?" "Beberapa sumber. Ada data pemerintah, berita lama, sama wawancara pedagang." Ia berhenti sebentar. "Gue juga nemu sesuatu yang menarik." "Apa?" tanya Raka. Damar menatap mereka berdua. "Kita sering marah karena sebuah masalah tidak selesai. Tapi jarang sekali kita bertanya apakah masalah itu pernah benar-benar didiagnosis dengan benar." Farhan mengangguk pelan. Kalimat itu mengingatkannya pada pekerjaannya. Dalam konstruksi, memperbaiki kerusakan tanpa mengetahui penyebabnya hanya akan membuat masalah kembali muncul. Ia menatap dokumen di depan mereka. "Berarti selama ini kita mungkin terlalu sering melihat hasil akhirnya." Damar mengangguk. "Nah. Jalan rusak. Banjir. Sekolah kekurangan fasilitas. Puskesmas penuh. Harga naik. Semua kelihatan sebagai masalah yang berdiri sendiri. Padahal mungkin ada keputusan-keputusan di belakangnya." Raka menggaruk kepala. "Berarti politik itu memang lebih ribet daripada yang gue kira." Damar tersenyum. "Politik memang ribet. Tapi bukan berarti kita boleh enggak peduli." Farhan mengangkat gelas kopinya. "Dan bukan berarti kita harus jadi ahli politik dulu baru boleh bertanya."

Percakapan mereka berhenti ketika seorang bapak yang sejak tadi duduk di meja sebelah tiba-tiba ikut menoleh. Usianya sekitar lima puluh tahun, mengenakan kemeja lengan pendek dan celana kain. Ia tampaknya sudah cukup lama mendengarkan pembicaraan mereka. "Maaf kalau ikut dengar," katanya. "Tapi saya setuju sama yang tadi." Damar tersenyum sopan. "Enggak apa-apa, Pak." Bapak itu melanjutkan sambil memandang jalan, "Saya dulu juga enggak pernah terlalu peduli. Yang penting kerja, anak sekolah, cicilan selesai. Kalau ada berita politik, paling saya lihat sebentar. Tapi beberapa tahun terakhir saya mulai merasa keputusan pemerintah itu semakin masuk ke kehidupan sehari-hari." Raka langsung menoleh. "Contohnya, Pak?" "Anak saya kuliah. Biayanya naik. Tempat kerja saya pernah mengurangi jam kerja. Harga kebutuhan rumah berubah. Saya mulai sadar ternyata banyak hal yang saya kira urusan pribadi sebenarnya tidak sepenuhnya pribadi." Ia tersenyum kecil. "Tapi saya juga bingung. Kalau saya mau mengawasi pemerintah, saya harus mulai dari mana?" Tidak ada yang langsung menjawab. Pertanyaan itu terasa seperti pertanyaan yang selama ini juga mereka miliki. Damar akhirnya berkata, "Mungkin dari hal paling sederhana, Pak. Jangan langsung percaya. Jangan langsung curiga juga. Cari tahu." Bapak itu mengangguk. "Cari tahu apa?" "Siapa yang punya kewenangan. Apa aturannya. Uangnya dari mana. Programnya apa. Targetnya siapa. Hasilnya bagaimana. Kalau ada masalah, lihat datanya. Kalau ada yang salah, tanyakan." Bapak tersebut tersenyum. "Berarti warga juga harus belajar." "Iya," jawab Damar. "Kalau kita menyerahkan semua urusan kepada orang lain tanpa pernah mau memahami, kita juga sulit meminta pertanggungjawaban ketika sesuatu tidak berjalan baik." Bapak itu mengangguk pelan lalu menghabiskan kopinya. "Berarti menjadi warga negara itu ternyata capek juga." Raka langsung menyahut, "Pak, hidup jadi warga negara memang enggak ada tombol skip." Mereka semua tertawa. Tetapi setelah tawa itu mereda, kalimat tersebut tertinggal di antara mereka lebih lama daripada yang mereka sadari.

Farhan akhirnya berdiri karena harus berangkat kerja. Sebelum memasang helm, ia kembali melihat jalan di depan Warung Ujung. Untuk pertama kalinya ia tidak merasa bahwa semua persoalan itu harus segera mereka selesaikan. Ia justru mulai memahami bahwa ada tahap yang lebih awal dan lebih penting: belajar mengenali persoalan. Selama ini mereka mengira kesadaran politik berarti mengetahui siapa presiden, siapa anggota DPR, atau siapa yang sedang berdebat di televisi. Sekarang pengertian itu perlahan bergeser. Kesadaran politik ternyata juga berarti mengetahui bahwa jalan yang rusak bukan sekadar lubang, bahwa sekolah yang kekurangan fasilitas bukan sekadar masalah guru, bahwa puskesmas yang penuh bukan sekadar soal banyak pasien, bahwa harga kebutuhan pokok bukan sekadar keluhan ibu-ibu pasar, dan bahwa pekerjaan yang sulit bukan semata-mata karena seseorang kurang berusaha. Semua itu bisa memiliki hubungan dengan keputusan publik, anggaran, regulasi, pelayanan, tata kelola, kondisi ekonomi, bahkan pilihan-pilihan yang dibuat jauh dari tempat mereka tinggal. Negara tidak selalu datang dalam bentuk pidato. Kadang ia datang dalam bentuk sesuatu yang sangat sederhana: seorang ibu yang menghitung uang belanja, seorang anak yang menunggu sekolah selesai, seorang pekerja yang takut kontraknya tidak diperpanjang, atau seorang pengemudi yang kehilangan waktu berjam-jam di jalan. Farhan memasang helmnya dan berkata pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun, "Mungkin yang selama ini kita sebut kehidupan sehari-hari itu memang sebenarnya tempat negara bekerja." Damar mengangguk. Raka mengangkat alis. "Gue enggak ngerti kalimat lu, Han." Farhan tersenyum. "Nanti gue jelasin." Raka tertawa. "Nah, itu baru bikin gue takut." Mereka berpisah seperti biasa. Farhan menuju proyek, Raka menyalakan aplikasi, Damar kembali memeriksa catatannya. Gang Petam kembali dipenuhi aktivitas pagi. Tetapi hari itu, untuk pertama kalinya, mereka tersebut tidak lagi hanya melihat republik sebagai sesuatu yang jauh di balik gedung-gedung pemerintahan. Mereka mulai melihatnya di jalan yang mereka lewati, di rumah yang mereka tinggali, di pekerjaan yang mereka jalani, dan terutama di kehidupan orang-orang yang setiap hari berjalan melewati mereka tanpa pernah masuk berita. Dan tanpa mereka sadari, pertanyaan berikutnya sudah menunggu di depan mata: jika mereka sekarang mulai memahami bahwa negara hadir dalam kehidupan mereka, lalu sejauh mana sebenarnya mereka sebagai warga memiliki hak untuk mengetahui, bertanya, dan ikut mengawasi apa yang dilakukan negara atas nama mereka?

* * *

Siang itu, Alya baru saja selesai memeriksa seorang pasien ketika seorang perawat memanggilnya dari ruang tunggu. "Dok, ada ibu yang dari tadi mau ketemu. Katanya penting." Alya mengangguk lalu berjalan menuju ruang tunggu yang hampir selalu penuh. Di antara kursi-kursi yang berjajar, seorang perempuan berusia sekitar empat puluh tahun duduk sambil memeluk map plastik transparan. Wajahnya terlihat lelah. Di sampingnya seorang anak laki-laki berseragam sekolah duduk menunduk sambil sesekali batuk. Alya mengenali mereka setelah beberapa detik. "Ibu yang minggu lalu, ya?" Perempuan itu tersenyum kecil. "Iya, Dok." Alya mempersilakan mereka masuk. Setelah anaknya duduk di kursi pemeriksaan, Alya mulai bertanya tentang kondisinya. Batuknya belum sepenuhnya hilang, tetapi tidak ada tanda yang mengkhawatirkan. Setelah menjelaskan obat dan beberapa hal yang perlu diperhatikan, Alya hendak menutup berkas ketika perempuan itu tiba-tiba berkata, "Dok, saya boleh tanya sesuatu?" Alya mengangguk. "Boleh." Perempuan itu menarik napas panjang. "Kalau anak saya sakit terus begini, saya harus bagaimana? Saya sudah beberapa kali izin kerja. Bos saya bilang kalau terlalu sering tidak masuk, saya bisa diganti." Alya terdiam. Pertanyaan itu bukan lagi pertanyaan medis. Tidak ada dosis obat yang bisa menjawabnya. Tidak ada hasil laboratorium yang bisa menyelesaikannya. "Ibu sudah punya jaminan kesehatan?" tanya Alya. Perempuan itu mengangguk. "Ada." "Bagus. Tapi masalahnya bukan biaya berobat, ya?" Perempuan itu tersenyum getir. "Bukan. Kalau saya ke sini, saya kehilangan upah." Kalimat itu membuat Alya kembali diam. Ia sudah mendengar cerita serupa berkali-kali, tetapi semakin ia memahaminya, semakin ia sadar bahwa persoalan kesehatan tidak pernah berdiri sendirian. Ada pekerjaan di belakangnya. Ada pendapatan. Ada aturan ketenagakerjaan. Ada perlindungan sosial. Ada transportasi. Ada pendidikan. Bahkan ada kondisi rumah tempat seseorang tinggal. Seseorang bisa memiliki akses berobat, tetapi tetap kesulitan menjadi sehat jika hidupnya memaksa memilih antara bekerja atau menjaga keluarganya. Alya menatap anak kecil di hadapannya lalu berkata pelan, "Ibu, yang Ibu alami bukan berarti Ibu kurang berusaha. Kadang masalah seseorang memang jauh lebih besar daripada kemampuan satu orang untuk menyelesaikannya." Perempuan itu mengangguk, meski mungkin belum sepenuhnya mengerti maksud Alya. Setelah mereka pergi, Alya berdiri beberapa saat di depan pintu ruang pemeriksaan. Ia teringat pemikiran Paul Farmer yang pernah ia baca: kesehatan seseorang sering kali dipengaruhi oleh keadaan sosial tempat ia hidup. Dulu kalimat itu terasa seperti teori akademik. Sekarang ia melihatnya dalam bentuk seorang ibu yang takut kehilangan pekerjaan hanya karena anaknya sakit. Alya akhirnya kembali ke mejanya dan membuka buku catatan. Ia menulis satu kalimat pendek di halaman kosong: Kalau kesehatan dipengaruhi oleh kehidupan masyarakat, maka memperbaiki kesehatan juga berarti memperbaiki keadaan yang membuat orang sakit. Ia berhenti menulis. Untuk pertama kalinya ia mulai bertanya apakah pekerjaannya sebagai dokter benar-benar cukup jika ia hanya mengobati orang yang datang kepadanya, sementara akar masalah mereka terus berada di luar ruang pemeriksaan.

Pada sore hari, Zahra mengalami sesuatu yang berbeda. Setelah kegiatan belajar selesai, kepala sekolah memanggilnya ke ruang guru. Di atas meja terdapat beberapa lembar surat yang baru diterima sekolah. Zahra membacanya perlahan. Ada informasi mengenai bantuan pendidikan, program beasiswa, serta pendataan siswa yang dianggap membutuhkan dukungan. Kepala sekolah menghela napas sambil berkata, "Masalahnya, Zahra, programnya ada. Tapi orang tua murid banyak yang enggak tahu cara mengaksesnya." Zahra mengangkat wajah. "Kenapa?" "Informasinya sudah ada. Sudah diumumkan. Tapi pengumumannya cuma ditempel di papan." Zahra memandang lembar pengumuman itu. Ia langsung teringat Fikri, murid yang setiap pagi datang ke rumahnya untuk belajar. Anak itu sebenarnya pintar dan sangat tekun, tetapi keluarganya hidup pas-pasan. Ayahnya bekerja serabutan, ibunya menerima jahitan dari tetangga. Bagi keluarga seperti itu, bantuan pendidikan bukan sesuatu yang kecil. Bantuan itu bisa berarti buku baru, ongkos sekolah, seragam, atau sekadar membuat orang tua tidak perlu memilih antara membayar kebutuhan rumah dan biaya pendidikan anak. "Kalau orang tua enggak tahu, berarti programnya percuma?" tanya Zahra. Kepala sekolah menggeleng. "Enggak selalu. Tapi bantuan yang tidak sampai kepada orang yang membutuhkan tetap menjadi masalah." Zahra mengangguk. Ia memandangi surat tersebut cukup lama. Ia tiba-tiba memahami sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan: kebijakan yang baik di atas kertas belum tentu menjadi kebijakan yang terasa baik di kehidupan nyata. Ada jarak antara keputusan dan pelaksanaan. Ada jarak antara informasi dan pemahaman. Ada jarak antara hak yang tersedia dan kemampuan seseorang untuk mengakses hak tersebut. Dan di dalam jarak itulah sering kali orang-orang yang paling membutuhkan justru tertinggal. Ketika Zahra pulang sore itu, ia tidak langsung menuju rumah. Ia mampir ke rumah Fikri dan menemukan anak itu sedang duduk di lantai sambil mengerjakan pekerjaan rumah. "Fikri," katanya, "besok kamu bawa ibu atau bapakmu ke sekolah, ya." Fikri langsung mengangkat wajah. "Kenapa, Bu?" Zahra tersenyum. "Ada sesuatu yang mau Ibu jelaskan." "Tentang lomba?" "Bukan." "Tentang matematika?" "Bukan juga." Fikri mengernyit. "Terus apa?" Zahra tertawa kecil. "Tentang sesuatu yang mungkin bisa membantu kamu tetap sekolah." Anak itu tidak menjawab. Ia hanya memandang Zahra dengan mata yang tiba-tiba menjadi lebih serius. Di ruangan kecil itu, Zahra kembali merasakan bahwa pendidikan bukan sekadar mengajarkan seseorang membaca buku. Kadang pendidikan berarti mengajarkan seseorang mengetahui bahwa ia memiliki hak.

Malamnya, kelima sahabat itu kembali bertemu di Warung Ujung. Namun kali ini suasananya tidak seramai biasanya. Raka baru pulang setelah seharian mengantar penumpang. Damar membawa laptop. Farhan duduk dengan secangkir kopi. Alya datang agak terlambat karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaan di puskesmas, sementara Zahra membawa map berisi beberapa lembar informasi pendidikan. Mereka saling menceritakan pengalaman masing-masing. Raka menjadi orang pertama yang bicara setelah mendengar cerita Alya. "Berarti orang sakit bisa bukan cuma karena penyakit, ya?" Alya mengangguk. "Kadang karena keadaan hidup." Raka mengusap dagunya. "Gue jadi ingat penumpang gue. Ada ibu yang pernah cerita anaknya enggak sekolah karena harus bantu jualan." Zahra langsung menatapnya. "Kenapa berhenti sekolah?" "Katanya enggak punya biaya." Zahra menarik napas. "Bisa jadi bukan cuma soal biaya." Raka menoleh. "Maksud lu?" "Transportasi. Jarak. Dokumen. Informasi bantuan. Kondisi keluarga. Banyak hal." Damar yang sejak tadi mengetik akhirnya menutup laptopnya. "Itulah masalahnya. Kita sering melihat satu masalah dari satu sisi." Farhan menyandarkan tubuhnya. "Jalan rusak kita lihat sebagai jalan. Pasar banjir kita lihat sebagai drainase. Anak putus sekolah kita lihat sebagai biaya. Pasien sulit berobat kita lihat sebagai rumah sakit." Ia berhenti sebentar. "Padahal semuanya punya banyak lapisan." Raka mengangguk perlahan. "Berarti kalau mau memahami negara, kita harus belajar melihat lapisan-lapisan itu." Damar tersenyum. "Nah." Raka menunjuknya. "Jangan bilang 'nah' doang. Jelasin." Damar tertawa. "Maksud gue, negara itu bukan mesin yang kalau rusak tinggal dibawa ke bengkel. Negara terdiri dari manusia, lembaga, aturan, anggaran, kepentingan, dan keputusan. Semuanya saling berhubungan." Alya menatap kopi di depannya. "Dan orang biasa sering cuma melihat akibatnya." Zahra menambahkan pelan, "Karena prosesnya jauh dari kehidupan mereka." Damar menggeleng. "Sebenarnya prosesnya tidak selalu jauh. Kita saja yang tidak pernah mencari tahu." Raka tertawa kecil. "Jadi masalahnya kita malas?" "Bukan malas. Bisa jadi karena dari dulu kita diajarkan untuk melihat politik sebagai sesuatu yang kotor dan rumit. Akhirnya orang memilih menjauh." Farhan menatap Damar. "Padahal kalau orang baik menjauh karena politik dianggap kotor, ruang itu tetap akan diisi orang lain." Kalimat tersebut membuat mereka semua diam. Farhan sendiri tampak seperti baru menyadari apa yang baru saja ia katakan. Ia kemudian tersenyum kecil. "Gue enggak tahu siapa yang pertama ngomong begitu." Damar tertawa. "Enggak perlu tahu siapa. Yang penting lu ngerti maksudnya." Raka mengangkat gelas kopinya. "Gue baru sadar. Dulu kita pikir politik itu debat di televisi." Alya menatapnya. "Sekarang?" Raka mengarahkan pandangannya ke jalan di depan warung. "Sekarang gue pikir politik itu alasan kenapa jalan yang gue lewati bisa begini, kenapa orang bisa antre berjam-jam di rumah sakit, kenapa ada anak yang kesulitan sekolah, dan kenapa harga barang di warung bisa bikin ibu-ibu pusing." Ia berhenti sebentar lalu menambahkan dengan nada bercanda, "Jadi politik ternyata nyebelin karena ada di mana-mana." Mereka tertawa. Tetapi kali ini tawa mereka terasa berbeda. Mereka tidak sedang menertawakan politik. Mereka sedang menertawakan kesadaran baru bahwa sesuatu yang selama ini mereka hindari ternyata sudah lama duduk bersama mereka di bangku Warung Ujung.

Damar kemudian membuka laptopnya kembali dan memutar sebuah dokumen yang sejak siang ia pelajari. "Gue mau nunjukin sesuatu," katanya. Di layar muncul sebuah tabel sederhana berisi beberapa persoalan yang mereka temui beberapa bulan terakhir. Jalan rusak. Banjir pasar. Lampu lalu lintas mati. Puskesmas penuh. Anak terancam putus sekolah. Harga kebutuhan rumah tangga. Masalah pekerjaan. Raka melihat daftar itu lalu bersiul kecil. "Banyak juga." "Dan ini baru yang kita lihat sendiri." Damar memperbesar layar. "Kalau kita mau memahami kenapa semuanya terjadi, kita enggak bisa cuma bertanya siapa yang salah. Kita juga harus bertanya siapa yang punya kewenangan, bagaimana keputusan dibuat, uangnya dari mana, siapa yang mengawasi, dan apa yang terjadi setelah kebijakan dijalankan." Farhan mengangguk. "Berarti kita perlu belajar struktur." "Iya." Raka menghela napas panjang. "Gue benci kalau lu mulai ngomong begini. Berarti gue harus belajar." Zahra tersenyum. "Memangnya kenapa?" "Karena terakhir kali gue belajar serius itu waktu ujian SIM." Alya tertawa. "Dan hasilnya?" "Lulus." "Sekali?" Raka terdiam. "Enggak penting." Tawa kembali memenuhi Warung Ujung. Bu Ratih yang sedang membersihkan meja ikut tersenyum dari kejauhan. Ia tidak benar-benar memahami semua yang sedang mereka bicarakan, tetapi ia tahu satu hal: lima anak muda yang dulu hanya datang ke warung untuk menghabiskan malam sekarang mulai membicarakan hal-hal yang selama ini bahkan tidak pernah mereka pikirkan.

Malam semakin larut. Damar menutup laptop. Farhan berdiri dan memasukkan tangan ke saku celananya. Sebelum mereka pulang, Zahra tiba-tiba berkata, "Kita jangan sampai terlalu jauh membicarakan negara sampai lupa rumah sendiri." Raka menoleh. "Maksudnya?" Zahra tersenyum kecil. "Tadi siang saya lihat Fikri. Anak itu bukan angka dalam data pendidikan. Dia anak yang punya ibu, punya ayah, punya rumah, punya rasa takut, punya cita-cita. Kalau kita mau bicara soal negara, jangan sampai kita lupa bahwa semua kebijakan pada akhirnya menyentuh rumah-rumah seperti rumahnya." Alya mengangguk perlahan. "Itu yang saya rasakan juga." Damar memandang mereka satu per satu. "Mungkin itu yang sering hilang dalam pembicaraan politik." "Apa?" tanya Farhan. Damar menjawab pelan, "Manusianya." Tidak ada yang menyela. Mereka memandang gang yang mulai sepi. Rumah-rumah di kiri kanan jalan berdiri dengan lampu teras yang berbeda-beda. Ada rumah yang masih terang karena anaknya belajar. Ada rumah yang sudah gelap karena penghuninya tidur lebih awal. Ada rumah tempat seorang ibu mungkin sedang menghitung uang belanja untuk besok. Ada rumah tempat seorang ayah mungkin masih memikirkan pekerjaan. Ada rumah tempat seorang anak mungkin sedang bermimpi menjadi dokter, guru, insinyur, atau entah apapun itu. Semua rumah itu terlihat sederhana. Namun tiba-tiba mereka terasa jauh lebih besar daripada sebelumnya.

Farhan akhirnya berkata, "Kalau begitu, mungkin kita enggak sedang belajar tentang politik." Raka mengernyit. "Terus?" Farhan memandang deretan rumah itu. "Kita sedang belajar tentang rumah kita sendiri." Mereka terdiam. Tidak ada yang langsung menjawab. Sebab untuk pertama kalinya, mereka memahami bahwa negara yang selama ini terasa begitu besar ternyata tidak pernah benar-benar berdiri jauh dari mereka. Negara itu hadir di ruang kelas, di puskesmas, di jalan yang rusak, di pasar, di tempat kerja, di dompet, dan di meja makan. Republik tidak hanya memiliki gedung-gedung pemerintahan. Republik juga memiliki rumah-rumah kecil yang setiap malam menutup pintunya setelah seharian berjuang mempertahankan kehidupan. Dan mungkin, sebelum seseorang bertanya apakah negaranya baik-baik saja, ia harus terlebih dahulu berani melihat rumah-rumah yang menjadi alasan negara itu ada.

* * *

Mereka akhirnya berdiri dari bangku panjang di depan Warung Ujung. Raka memasukkan ponselnya ke saku jaket, Damar menutup laptop dan memasukkannya ke dalam tas, Farhan meraih tas kerja yang sejak tadi diletakkan di samping kakinya, sementara Alya dan Zahra masing-masing merapikan barang bawaan mereka. Bu Ratih sudah mulai mematikan sebagian lampu warung. Gang Petam tidak benar-benar gelap karena cahaya dari teras rumah warga masih menyebar ke jalan, tetapi suasananya sudah jauh lebih tenang dibanding beberapa jam sebelumnya. Lima sahabat itu berjalan keluar dari warung hampir bersamaan, lalu berhenti di persimpangan kecil tempat jalan mereka mulai bercabang menuju rumah masing-masing. Tidak ada yang langsung pergi. Pembicaraan mereka rupanya belum benar-benar selesai. Raka berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke saku jaket, kemudian berkata, "Gue kepikiran satu hal." Damar menoleh. "Apa?" Raka mengangguk ke arah jalan. "Besok gue mau nanya ke kelurahan soal lampu jalan sama jalan gang." Farhan mengangkat alis. "Serius?" "Iya." "Lu tahu mau nanya apa?" Raka tertawa pendek. "Nah, itu masalahnya. Gue enggak tahu." Damar tersenyum. "Enggak apa-apa. Justru datang untuk tahu." Raka memandangnya beberapa detik. "Kalau gue datang terus mereka bilang, 'Bapak siapa? Ini bukan urusan bapak,' gimana?" Alya langsung menjawab, "Kamu warga di sini." Raka mengangguk. "Itu jawaban yang paling gampang." "Memang," kata Alya. "Tapi bukan berarti tidak penting." Zahra ikut menambahkan, "Kita terlalu sering mengira bahwa untuk bertanya kepada pemerintah kita harus punya jabatan, punya koneksi, atau tahu istilah-istilah yang rumit lainnya. Padahal sebagai warga, bertanya tentang pelayanan yang kita gunakan itu hal yang wajar." Raka tersenyum tipis. "Kalau mereka jawabnya pakai bahasa kantor yang enggak gue ngerti?" Farhan tertawa. "Tanya lagi." "Kalau masih enggak ngerti?" "Tanya lagi." "Kalau mereka kesel?" Damar menyahut, "Tetap sopan." Raka mengangguk-angguk. "Jadi kesimpulannya gue harus sopan sambil enggak ngerti." Mereka semua tertawa.

Lihat selengkapnya