Republik Di Ujung Gang

Rizky Ade Putra
Chapter #12

Pintu yang Tidak Lagi Terasa Tertutup

Pagi di Gang Petam berjalan seperti biasa, tetapi bagi Raka ada sesuatu yang terasa berbeda ketika ia melewati jalan yang sejak kemarin tidak lagi ia lihat hanya sebagai lubang di tengah gang. Ia masih harus mengurangi kecepatan ketika melewatinya. Genangan air masih menutup sebagian permukaan jalan. Lampu penerangan di ujung gang masih redup. Tidak ada perubahan yang bisa langsung dilihat warga. Namun sekarang Raka tahu bahwa di balik kondisi yang selama bertahun-tahun dianggap biasa itu ada pertanyaan yang bisa diajukan, ada kewenangan yang perlu diketahui, ada prosedur yang harus dipahami, dan ada pihak yang mungkin memang memiliki tanggung jawab. Ia tidak lagi merasa seperti seseorang yang hanya kebetulan tinggal di tempat itu. Ada perasaan aneh yang muncul sejak ia keluar dari kantor kelurahan kemarin. Bukan merasa menjadi orang penting. Justru sebaliknya, ia merasa semakin kecil karena menyadari betapa banyak hal yang selama ini tidak ia pahami. Tetapi untuk pertama kalinya, ketidaktahuan itu tidak membuatnya ingin menjauh. Ia justru ingin tahu lebih banyak. Pagi itu ia berhenti sebentar di depan Warung Ujung. Bu Ratih sedang menyusun botol minuman di dalam etalase ketika melihatnya. "Pagi, Rak. Tumben berhenti." Raka membuka helm. "Mau ngopi." Bu Ratih menatapnya dari atas sampai bawah. "Kemarin katanya mau ke kelurahan. Jadi?" Raka sedikit terkejut. "Kok Ibu tahu?" "Mukamu dari kemarin sudah kayak orang mau sidang." Raka tertawa. "Saya sudah ke sana." "Terus?" "Ternyata enggak semudah yang saya kira." Bu Ratih mengangguk sambil menuangkan kopi. "Memangnya kamu kira gimana?" Raka berpikir sebentar. "Saya kira kalau warga datang bilang jalan rusak, ya tinggal dicatat, terus diperbaiki." Bu Ratih menyerahkan gelas kepadanya. "Kalau semua urusan sesederhana itu, mungkin hidup juga enggak akan seribet sekarang." Raka tersenyum. Ia kemudian duduk di bangku yang biasa mereka tempati. Beberapa menit kemudian Damar datang dengan tas selempang dan laptop yang kembali menggantung di bahunya. Ia langsung duduk di samping Raka. "Gimana?" tanyanya. Raka mengangkat ponselnya. "Gue dapat beberapa informasi." Damar mengangguk. "Sudah gue duga." "Tapi belum jelas semuanya." "Makanya dicari lagi." Raka menyeruput kopi. "Gue mulai ngerti kenapa lu suka cari data." Damar tertawa. "Kenapa?" "Karena kalau cuma dengar satu jawaban, kita gampang mengira semuanya sudah selesai." Damar memandang Raka beberapa detik. "Nah, sekarang lu mulai ngomong kayak gue." Raka langsung menunjuknya. "Jangan bangga dulu. Gue masih lebih keren." Damar tertawa. Namun di balik candaan itu, keduanya sama-sama memahami bahwa sesuatu sedang berubah. Kemarin Raka datang sebagai warga yang ingin mengeluhkan jalan. Hari ini ia mulai belajar bahwa menjadi warga bukan hanya soal menyampaikan keluhan, melainkan juga memahami jawaban yang diberikan kepadanya.

Beberapa saat kemudian Farhan datang sebelum berangkat ke proyek. Ia duduk sebentar dan mendengarkan cerita Raka dari awal sampai akhir. Raka menjelaskan bahwa petugas kelurahan belum bisa langsung memastikan status ruas jalan yang mereka maksud dan perlu melakukan pengecekan lebih lanjut. Ia juga menjelaskan bahwa ternyata ada mekanisme yang harus dilalui jika warga ingin menyampaikan persoalan tersebut secara resmi. "Jadi lu sudah tahu siapa yang bertanggung jawab?" tanya Farhan. "Belum pasti." "Sudah tahu kapan diperbaiki?" "Belum." "Sudah tahu ada anggarannya?" "Belum." Farhan mengangguk. "Berarti kita baru sampai tahap tahu bahwa kita bisa bertanya." Raka menghela napas. "Dan ternyata itu saja sudah bikin kepala gue penuh." Damar tersenyum. "Justru itu yang penting. Kalau lu enggak tahu bisa bertanya, lu cuma punya dua pilihan: diam atau marah." Raka mengangguk pelan. Farhan kemudian berkata, "Tapi kita juga harus hati-hati. Jangan karena sekarang tahu ada prosedur, kita langsung menganggap kalau belum diperbaiki berarti ada orang yang sengaja membiarkan." Raka menoleh. "Kenapa?" "Karena kita belum punya informasinya." Farhan menatap lubang jalan yang terlihat dari depan warung. "Di proyek juga begitu. Kalau pekerjaan belum selesai, belum tentu karena orang malas. Bisa karena desain berubah, material belum datang, ada kendala teknis, ada masalah anggaran, atau memang ada kesalahan. Tapi semuanya harus diperiksa dulu." Damar mengangguk. "Itu yang dari dulu kita pelajari. Jangan lompat dari masalah langsung ke tuduhan." Raka mengangkat alis. "Berarti gue harus sabar?" "Iya." "Berat." Farhan tertawa. "Makanya namanya belajar." Raka bersandar di kursinya. "Gue baru sadar. Selama ini gue pikir kalau mau mengawasi pemerintah, tugas warga itu cari kesalahan." Damar menggeleng. "Bukan cuma cari kesalahan. Mengawasi itu juga berarti memastikan informasi benar, melihat apakah keputusan dijalankan, menilai hasilnya, dan bertanya ketika ada sesuatu yang enggak jelas." Farhan menambahkan, "Kalau ternyata pemerintah sudah bekerja dengan benar, ya kita juga harus bisa mengakuinya." Raka mengangguk. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi justru karena sederhana ia terasa penting. Mereka tidak sedang belajar menjadi orang yang selalu curiga kepada pemerintah. Mereka sedang belajar menjadi orang yang tidak menyerahkan pikirannya kepada siapa pun, termasuk kepada kemarahan mereka sendiri.

Siang harinya, Damar mulai melakukan apa yang sejak malam sebelumnya ada di kepalanya. Ia membuka kembali catatan-catatan yang sudah dikumpulkannya dari berbagai persoalan yang mereka temui selama beberapa bulan terakhir. Ia menuliskan nama masalah, lokasi, siapa yang terdampak, informasi yang sudah mereka miliki, dan pertanyaan yang belum terjawab. Jalan rusak di Gang Petam. Banjir di pasar. Lampu jalan. Keluhan mengenai pelayanan kesehatan. Informasi bantuan pendidikan. Masalah pekerjaan yang dialami beberapa warga. Ia melihat daftar itu cukup lama. Semakin banyak ia menulis, semakin jelas bahwa mereka selama ini sering berhenti pada tahap mengetahui bahwa sesuatu bermasalah. Mereka jarang melangkah ke tahap berikutnya: mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Damar kemudian membuat satu kolom baru di sebelah kanan daftar tersebut dan menulis, Sumber informasi. Di bawahnya ia menulis lagi, Data pemerintah, dokumen resmi, keterangan warga, pengamatan langsung, berita, hasil wawancara. Ia berhenti sebentar sebelum menambahkan satu kolom lain, Yang belum diketahui. Ia tersenyum kecil. Ternyata daftar itu justru lebih panjang daripada daftar masalahnya. Saat Farhan menghubunginya melalui pesan, Damar menjawab bahwa ia sedang mencoba menyusun persoalan-persoalan mereka agar tidak bercampur antara fakta, pengalaman pribadi, dan dugaan. Farhan membalas singkat, Bagus. Jangan sampai kita merasa sudah tahu hanya karena sudah membaca beberapa berita. Damar membaca pesan itu lalu tersenyum. Ia tahu Farhan benar. Informasi yang banyak tidak otomatis membuat seseorang memahami sesuatu. Kadang terlalu banyak informasi justru membuat orang semakin mudah memilih informasi yang sesuai dengan apa yang ingin dipercayainya. Ia teringat beberapa perdebatan di media sosial yang pernah ia lihat. Orang-orang membawa potongan data untuk membenarkan pendapat masing-masing. Tidak sedikit yang bahkan tidak membaca sumber aslinya. Mereka hanya membaca judul, melihat angka, lalu menyimpulkan. Damar menutup laptop sebentar. Ia mulai memahami bahwa menjadi warga yang kritis ternyata bukan sekadar berani mempertanyakan pemerintah. Ia juga harus berani mempertanyakan dirinya sendiri. Apakah yang gue percaya memang benar? Dari mana informasi ini datang? Apa ada informasi lain yang belum gue lihat? Apakah gue sedang mencari kebenaran atau cuma mencari pembenaran? Pertanyaan terakhir membuatnya terdiam lebih lama. Ia tahu bahwa pertanyaan semacam itu tidak nyaman. Tetapi mungkin justru karena tidak nyaman, pertanyaan itu perlu terus dipelihara.

* * *

Sore itu Zahra datang ke sekolah bersama orang tua Fikri. Mereka duduk di ruang guru sambil mendengarkan penjelasan mengenai informasi bantuan pendidikan yang sebelumnya diterimanya dari kepala sekolah. Ayah Fikri terlihat berkali-kali mengangguk, sementara ibunya memegang beberapa lembar dokumen dengan hati-hati. "Jadi ini benar-benar bisa diajukan?" tanya ayah Fikri. Zahra mengangguk. "Bisa dicoba, Pak. Tapi nanti ada persyaratan yang harus dilengkapi." "Kalau kami enggak tahu, berarti selama ini bantuan ini ada tapi kami enggak pernah mengakses?" Zahra terdiam sebentar. "Kurang lebih begitu." Ayah Fikri menundukkan kepala. Tidak ada kemarahan dalam wajahnya. Hanya ada rasa heran yang bercampur lelah. "Saya kira kalau ada bantuan, nanti orang sekolah yang memberi tahu." Zahra memahami maksudnya. Sistem yang sudah menyediakan informasi belum tentu otomatis membuat semua orang mengetahui atau mampu mengaksesnya. Ia membantu memeriksa dokumen satu per satu, menjelaskan bagian yang belum dipahami, lalu mengingatkan bahwa mereka tetap perlu mengikuti prosedur yang berlaku. Tidak ada janji bahwa Fikri pasti mendapatkan bantuan. Zahra tidak mau memberi harapan yang belum tentu bisa diwujudkan. Tetapi setidaknya sekarang keluarga itu tahu bahwa ada sesuatu yang bisa mereka tanyakan dan proses yang bisa mereka ikuti. Ketika mereka selesai, Fikri berdiri di depan pintu sambil memandang Zahra. "Bu, berarti aku masih bisa sekolah?" Zahra tersenyum. "Kamu tetap harus berusaha. Kita coba cari jalan yang ada." Anak itu mengangguk. Setelah keluarga tersebut pulang, Zahra kembali ke ruang guru dan duduk sendirian. Ia memandangi lembar informasi di depannya. Ia kembali teringat sesuatu yang pernah mereka bicarakan di Warung Ujung: hak yang tersedia tidak selalu berarti hak itu benar-benar terasa oleh orang yang membutuhkannya. Ada informasi yang harus disampaikan. Ada prosedur yang harus dibuat bisa dipahami. Ada warga yang mungkin tidak tahu harus bertanya kepada siapa. Dan ada pula orang-orang yang sebenarnya memiliki hak tetapi terlalu takut atau terlalu lelah untuk menuntutnya. Zahra menyadari bahwa dalam banyak hal, pendidikan bukan hanya soal membuat anak memahami pelajaran. Pendidikan juga bisa membuat seseorang cukup percaya diri untuk berkata, "Saya ingin tahu apakah saya berhak mendapatkan ini." Dan mungkin kalimat sederhana itu merupakan salah satu bentuk awal dari keberanian menjadi warga.

* * *

Di puskesmas, Alya juga mulai memikirkan hal yang sama, tetapi dari sisi yang berbeda. Beberapa hari setelah percakapannya dengan pasien yang takut kehilangan pekerjaan karena harus menjaga anaknya, ia melihat antrean kembali memanjang. Seorang ibu duduk sambil menggendong anak kecil. Seorang lelaki tua menunggu di kursi dekat pintu. Beberapa pasien terlihat berkali-kali memeriksa jam karena harus segera kembali bekerja. Alya berbicara dengan salah seorang petugas mengenai keluhan warga yang selama ini sering muncul. Bukan untuk mencari siapa yang salah, melainkan untuk mengetahui apakah keluhan tersebut sudah pernah dicatat dan bagaimana biasanya ditindaklanjuti.

Ia baru menyadari bahwa banyak warga sebenarnya mengeluh secara informal. Mereka bicara kepada petugas, kepada tetangga, atau kepada keluarga. Tetapi keluhan yang tidak masuk ke jalur yang tepat bisa berhenti sebagai percakapan. Alya kemudian bertanya apakah ada mekanisme resmi yang dapat digunakan warga jika mereka ingin menyampaikan masalah pelayanan. Petugas menjelaskan secara umum mengenai jalur yang tersedia di tempat mereka bekerja. Alya mencatatnya. Ia tidak ingin menjanjikan bahwa semua keluhan akan langsung menghasilkan perubahan. Tetapi ia mulai memahami bahwa pengawasan terhadap pelayanan publik membutuhkan sesuatu yang lebih teratur daripada sekadar rasa kecewa. Jika warga hanya berkata, "Pelayanannya jelek," sulit bagi siapa pun untuk mengetahui bagian mana yang harus diperbaiki. Tetapi jika warga bisa menjelaskan apa yang terjadi, kapan terjadi, siapa yang terdampak, dan apa yang mereka harapkan, persoalan menjadi lebih mudah dibicarakan.

Saat jam kerja hampir selesai, Alya duduk sebentar di ruangannya dan membuka buku catatan yang beberapa hari lalu ia gunakan untuk menulis tentang kondisi sosial pasien. Ia menambahkan kalimat baru di bawah catatan lamanya: Mengobati akibat penting. Memahami sistem yang memengaruhi akibat itu juga penting. Ia tidak tahu apakah pemikiran tersebut akan membawa dirinya ke mana. Namun ia merasa bahwa sebagai dokter, ia tidak perlu menjadi ahli segala hal untuk peduli pada persoalan di luar ruang pemeriksaan. Ia hanya perlu bersedia melihat bahwa manusia yang datang kepadanya tidak pernah meninggalkan seluruh kehidupannya di depan pintu puskesmas.

Malam itu, kelima sahabat kembali berkumpul di Warung Ujung. Kali ini Damar datang membawa laptop yang sudah terbuka. Raka membawa catatan dari kelurahan. Zahra membawa salinan informasi pendidikan. Alya membawa catatan kecil mengenai jalur pengaduan pelayanan yang tadi ia tanyakan. Farhan datang paling akhir setelah menyelesaikan pekerjaannya di proyek. Ia duduk sambil melepaskan napas panjang. "Kita kayak mau rapat RT," katanya. Raka langsung menjawab, "Jangan hina rapat RT. Ini lebih susah." Mereka tertawa. Bu Ratih meletakkan lima gelas minuman di meja lalu berjalan kembali ke belakang warung. Damar kemudian membuka percakapan. "Gue kepikiran sesuatu." Raka langsung menghela napas. "Kalau lu bilang 'nah', gue pulang." Damar tertawa. "Bukan." Ia menunjuk catatan di laptop. "Kita selama ini sudah mulai bertanya. Tapi gue rasa ada satu hal yang belum kita pahami." Farhan menatap layar. "Apa?" "Batas antara hak warga untuk tahu dan cara warga meminta tahu." Raka mengernyit. "Bukannya sama?" "Enggak persis." Damar menjelaskan pelan. "Kita punya hak untuk bertanya tentang urusan publik yang memang berkaitan dengan kepentingan kita. Tapi itu bukan berarti kita boleh meminta apa saja tanpa memperhatikan aturan, privasi, atau informasi yang memang tidak bisa dibuka sembarangan." Alya mengangguk. "Berarti menjadi warga juga ada tanggung jawabnya." "Iya," jawab Damar. Zahra menambahkan, "Dan kalau kita menerima informasi, kita juga bertanggung jawab menggunakannya dengan benar." Raka memandang catatan di tangannya. "Jadi kalau gue dapat jawaban dari kelurahan, gue enggak boleh langsung sebar ke grup warga sebelum gue ngerti?" "Menurut gue jangan," kata Damar. "Baca dulu. Pastikan konteksnya benar." Farhan ikut menyahut, "Apalagi kalau informasinya menyangkut orang tertentu." Raka mengangguk. "Berarti bukan cuma pemerintah yang harus transparan. Warga juga harus bertanggung jawab saat memakai informasi." Damar tersenyum. "Nah." Raka langsung menunjuknya. "Tuh kan!" Semua tertawa. Tetapi setelah tawa itu mereda, mereka kembali serius. Mereka mulai memahami bahwa hak untuk mengetahui bukan senjata untuk menyerang siapa pun. Hak itu justru menjadi alat agar hubungan antara warga dan negara tidak dibangun atas dasar ketakutan, prasangka, atau ketidaktahuan.

Farhan kemudian mengeluarkan sebuah map tipis dari tas kerjanya. "Gue juga mau cerita sesuatu." Empat pasang mata langsung tertuju kepadanya. "Di proyek, gue tadi ngobrol sama salah satu orang yang lebih senior. Gue tanya soal beberapa dokumen teknis yang selama ini gue lihat. Gue baru sadar ada banyak hal yang memang bisa dipahami kalau kita mau bertanya, tapi ada juga hal yang enggak boleh gue asal ambil atau sebar karena berkaitan dengan pekerjaan." Damar mengangguk. "Itu contoh bagus." "Gue juga sadar satu hal," lanjut Farhan. "Dulu gue pikir orang yang paling pintar itu orang yang bisa menjawab semua pertanyaan. Sekarang gue mulai mikir orang yang cukup pintar justru tahu pertanyaan mana yang harus diajukan, kepada siapa, dan kapan dia harus bilang, 'Gue belum tahu.'" Alya tersenyum. "Itu juga berlaku di dunia medis." Zahra mengangguk. "Di pendidikan juga." Raka mengangkat gelasnya. "Di ojek juga." Damar tertawa. "Apa hubungannya?" "Kalau penumpang nanya jalan, gue enggak tahu, ya gue bilang enggak tahu. Daripada nyasar." Mereka kembali tertawa.

Lihat selengkapnya