Pagi di Gang Petam datang tanpa membawa perubahan besar. Jalan yang sejak beberapa hari terakhir menjadi perhatian Raka masih berada di tempat yang sama, lubangnya masih menganga di antara permukaan aspal yang retak, dan lampu penerangan di ujung gang masih menyala redup ketika matahari belum sepenuhnya muncul. Tidak ada petugas yang datang membawa papan pengumuman. Tidak ada kendaraan proyek yang berhenti di depan rumah warga. Tidak ada suara mesin yang menandakan perbaikan akan segera dimulai. Namun ada sesuatu yang berbeda dari cara lima sahabat itu menjalani pagi mereka. Pertanyaan yang sebelumnya hanya berputar di kepala kini mulai memiliki bentuk. Mereka tidak lagi sekadar berkata bahwa ada sesuatu yang salah. Mereka mulai mencoba mencatat apa yang salah, kapan terjadi, siapa yang terdampak, dan kepada siapa pertanyaan tersebut seharusnya diarahkan. Perubahan itu tidak terlihat oleh orang-orang yang lewat di Gang Petam, tetapi bagi mereka sendiri perubahan tersebut terasa cukup besar. Damar bahkan menyebutnya sebagai perbedaan antara merasa terganggu dan mulai memahami persoalan.
Pagi itu ia duduk di depan laptop sambil membuka kembali catatan yang beberapa minggu terakhir semakin penuh. Ada foto pasar yang tergenang, catatan tentang keluhan pedagang, beberapa informasi mengenai pelayanan kesehatan, tulisan tentang bantuan pendidikan yang belum sepenuhnya dipahami orang tua murid, serta foto jalan Gang Petam yang dikirim Raka. Ia membaca semuanya perlahan. Selama ini ia memang terbiasa mengumpulkan informasi untuk membuat konten. Tetapi kali ini ia tidak sedang mencari bahan video. Ia sedang mencoba melihat apakah persoalan-persoalan yang mereka temui memiliki pola yang sama. Ia membuka satu halaman kosong lalu menulis sebuah kalimat di bagian atas: Apa yang kita tahu, apa yang belum kita tahu, dan apa yang perlu kita cari tahu? Setelah menatap kalimat itu beberapa detik, ia tersenyum tipis. "Nah," gumamnya. "Sekarang baru mulai kelihatan." Dari dapur rumahnya, suara ayahnya terdengar memanggil, menanyakan apakah ia ingin sarapan. Damar menjawab sebentar lalu kembali menatap layar.
Ia sadar bahwa menjadi warga yang ingin mengawasi bukan berarti harus langsung mengetahui semua jawaban. Justru langkah pertama adalah mengakui bagian mana yang belum diketahui. Ia mengingat nasihat ayahnya beberapa waktu lalu: jangan pernah jatuh cinta pada kesimpulan sebelum jatuh cinta pada fakta. Kalimat itu semakin terasa penting sekarang. Raka sudah datang ke kelurahan dan mendapat penjelasan awal. Tetapi penjelasan awal bukanlah bukti bahwa seluruh persoalan sudah selesai. Damar tidak ingin mereka berubah menjadi kelompok yang datang dengan prasangka, lalu hanya mencari informasi yang membenarkan kemarahan mereka. Kalau mereka benar-benar ingin belajar mengawasi, mereka harus bersedia menerima jawaban yang mungkin tidak sesuai dengan dugaan awal mereka. Mereka juga harus siap mengakui jika ternyata sebagian persoalan memang muncul karena keterbatasan anggaran, prosedur yang panjang, kewenangan yang berbeda, atau masalah teknis yang tidak sesederhana yang terlihat dari luar. Tetapi jika memang ada kelalaian, ketidaksesuaian, atau pelayanan yang tidak berjalan sebagaimana mestinya, mereka juga tidak boleh pura-pura tidak melihatnya.
Damar menutup laptop sebentar lalu memeriksa ponselnya. Grup mereka sudah ramai sejak pagi. Raka mengirim pesan singkat, Hari ini gue coba cari tahu lagi soal jalan kemarin. Petugas bilang mungkin perlu data tambahan. Farhan membalas, Kalau perlu foto kondisi jalan dari beberapa titik, gue bisa bantu lihat mana yang paling jelas. Zahra menulis, Aku kemarin sudah bicara lagi dengan kepala sekolah. Orang tua Fikri datang. Ternyata mereka memang belum tahu informasi bantuannya. Alya menyusul beberapa menit kemudian, Aku juga sudah tanya bagian pelayanan. Ada mekanisme pengaduan kalau warga merasa pelayanan tidak sesuai. Damar membaca pesan-pesan itu satu per satu. Ia kemudian mengetik, Jangan buru-buru bikin kesimpulan. Kita kumpulkan dulu semuanya. Raka langsung membalas, Siap, Pak Wartawan. Damar tertawa. Ia tahu Raka sedang bercanda, tetapi ia juga tahu bahwa percakapan kecil itu menunjukkan sesuatu yang penting. Mereka mulai bekerja dengan cara yang berbeda. Tidak ada pembagian jabatan. Tidak ada ketua. Tidak ada struktur resmi. Mereka hanya mulai memahami bahwa pengalaman masing-masing bisa menjadi potongan informasi yang saling melengkapi.
Menjelang siang, Raka kembali mendatangi kantor kelurahan. Kali ini ia tidak datang dengan perasaan gugup seperti sebelumnya. Ia sudah menyimpan foto-foto jalan di ponselnya, mencatat titik lokasi, dan menuliskan beberapa pertanyaan yang ingin ia pastikan. Ketika sampai di sana, suasana ruang pelayanan masih sama. Beberapa warga duduk menunggu. Seorang ibu memegang map berisi dokumen. Seorang bapak bertanya kepada petugas tentang surat yang harus dilengkapi. Printer di ruangan sebelah kembali mengeluarkan suara yang sama seperti hari sebelumnya. Raka sempat tersenyum sendiri. Ternyata tempat yang selama ini ia bayangkan sebagai sesuatu yang jauh memang tidak jauh. Hanya saja selama ini ia tidak pernah merasa perlu masuk. Ia kemudian mendekati petugas yang kemarin melayaninya. "Pak, saya yang kemarin tanya soal jalan Gang Petam." Petugas itu tampak mengingatnya. "Oh, iya. Yang jalan menuju Jalan Buran?" Raka mengangguk. "Iya, Pak. Saya sudah bawa foto tambahan. Saya juga mau memastikan beberapa hal." Ia membuka ponselnya lalu menunjukkan beberapa gambar. Petugas tersebut melihatnya satu per satu. Raka kemudian bertanya dengan lebih teratur daripada sebelumnya. "Kalau status jalannya sudah diketahui, saya bisa minta informasi soal tindak lanjutnya?" Petugas menjelaskan bahwa ada proses yang harus dilakukan dan tidak semua keputusan berada di tingkat kelurahan. Raka mendengarkan tanpa memotong. Kali ini ia tidak merasa kesal ketika mendengar kata "proses". Ia justru bertanya, "Kalau begitu, warga bisa tahu sampai tahap mana pengajuannya?" Petugas tersebut menjelaskan sebatas informasi yang memang dapat diberikan. Raka kemudian bertanya lagi, "Kalau warga mau menyampaikan keluhan secara resmi, jalurnya lewat mana?" Ia mencatat. "Kalau sudah disampaikan, apakah ada nomor atau tanda bahwa laporan itu diterima?" Ia mencatat lagi. Beberapa kali petugas menggunakan istilah administratif yang membuat Raka harus meminta penjelasan ulang. Anehnya, ia tidak merasa malu. Ia teringat percakapan mereka di Warung Ujung beberapa malam sebelumnya. Kalau tidak mengerti, tanya lagi. Kalau masih tidak mengerti, tanya lagi. Bukan karena ia ingin merepotkan petugas, melainkan karena ia menyadari bahwa informasi yang tidak dipahami tidak banyak berguna.
Setelah selesai, Raka berdiri dan mengucapkan terima kasih. Tidak ada perdebatan. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada kemenangan. Ia hanya membawa pulang beberapa informasi yang sebelumnya tidak ia miliki. Di luar kantor, ia berhenti di trotoar dan membuka catatan ponselnya. Ia membaca kembali semua yang ditulisnya. Ada satu kalimat yang membuatnya terdiam cukup lama: Pertanyaan pertama belum menghasilkan perbaikan, tetapi sudah menghasilkan informasi baru. Raka tersenyum kecil. Dulu ia mungkin menganggap hasil seperti itu tidak berarti apa-apa. Sekarang ia mulai mengerti bahwa perubahan tidak selalu muncul sebagai sesuatu yang bisa langsung dilihat. Kadang perubahan pertama hanya berupa seseorang yang akhirnya tahu harus bertanya kepada siapa.
Sore menjelang ketika mereka kembali berkomunikasi di grup. Raka mengirim foto catatannya. Damar membacanya cukup lama sebelum menjawab. Ini lebih berguna daripada cuma bilang jalan kita rusak. Raka mengetik, Gue baru sadar ternyata kalau mau komplain juga harus tahu caranya. Farhan menjawab, Dan kalau prosedurnya memang seperti itu, kita harus tahu apakah prosedurnya sudah dijalankan. Alya menambahkan, Berarti bukan cuma menuntut jawaban. Kita juga perlu memahami prosesnya. Zahra mengirim satu pesan terakhir, Dan memastikan proses itu tidak berhenti hanya karena warga tidak tahu harus bertanya lagi. Damar menatap layar ponselnya. Kalimat Zahra membuatnya berpikir. Mereka mulai memasuki tahap yang berbeda. Selama beberapa bulan pertama, mereka belajar melihat persoalan. Kemudian mereka belajar menghubungkan persoalan tersebut dengan kebijakan publik. Setelah itu mereka belajar bertanya. Sekarang mereka mulai memahami bahwa pertanyaan yang baik harus memiliki jejak. Harus ada catatan. Harus ada informasi yang bisa diperiksa kembali. Harus ada pembeda antara apa yang diketahui dan apa yang hanya diduga. Kalau mereka hanya mengandalkan ingatan dan emosi, pembicaraan mereka akan mudah berubah menjadi keluhan. Tetapi kalau mereka mulai menyimpan bukti, mencatat jawaban, dan membandingkan informasi, mereka memiliki sesuatu yang lebih kuat. Bukan kekuasaan. Bukan jabatan. Hanya pengetahuan yang disusun dengan hati-hati. Dan mungkin, untuk sementara, itu sudah cukup sebagai langkah pertama.
* * *
Sore itu, Zahra pulang lebih lambat dari biasanya. Setelah jam pelajaran selesai, ia masih harus menyelesaikan beberapa administrasi sekolah sebelum akhirnya dapat berbicara dengan orang tua Fikri. Ayah Fikri datang dengan pakaian kerja yang masih menyisakan debu di bagian lengan, sementara ibunya membawa map plastik yang berisi dokumen-dokumen keluarga. Mereka duduk di ruang guru dengan sikap sedikit canggung. Zahra memahami bahwa bagi sebagian orang tua, berbicara dengan guru tentang bantuan pendidikan bisa terasa seperti mengakui bahwa mereka sedang kesulitan. Karena itu ia berusaha menjelaskan tanpa membuat mereka merasa sedang dinilai. Ia menunjukkan informasi program yang sebelumnya hanya ditempel di papan pengumuman, menjelaskan persyaratan yang harus dipenuhi, dan membantu mereka memahami dokumen apa saja yang perlu disiapkan. Ayah Fikri berkali-kali mengangguk sambil membaca lembar informasi tersebut. "Saya sebenarnya pernah lihat pengumuman ini," katanya pelan. "Tapi saya kira cuma untuk orang yang sudah terdaftar." Zahra menggeleng. "Makanya saya ingin jelaskan. Kadang informasi yang tersedia belum tentu benar-benar dipahami." Perempuan di sampingnya menatap lembar itu cukup lama. "Kalau begini, kenapa enggak dijelaskan langsung ke orang tua?" Zahra terdiam. Pertanyaan tersebut sederhana, tetapi ia tahu jawabannya tidak sederhana. Sekolah memiliki keterbatasan waktu. Informasi sudah diumumkan. Guru memiliki banyak pekerjaan. Orang tua juga memiliki kesibukan dan tidak selalu datang ke sekolah. Tidak ada satu pihak yang bisa langsung disebut sebagai penyebab. Namun justru di situlah Zahra melihat persoalan yang lebih besar. Sebuah hak bisa saja tersedia secara resmi, tetapi belum tentu mudah diakses oleh semua orang. Ada perbedaan antara informasi yang diumumkan dan informasi yang sampai. Ada perbedaan antara program yang tersedia dan kemampuan warga untuk mengaksesnya.
Setelah orang tua Fikri pulang, Zahra kembali duduk di meja kerjanya. Ia memandangi papan pengumuman dari balik pintu ruang guru. Kertas-kertas masih tertempel rapi. Secara administratif, semuanya tampak sudah dilakukan. Tetapi hari itu ia melihat sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia perhatikan. Informasi tidak hanya harus ada. Informasi harus dapat dipahami oleh orang yang membutuhkan. Ia mengambil pulpen dan menulis catatan kecil untuk dibicarakan dalam rapat guru berikutnya. Bukan tentang menyalahkan siapa pun, melainkan tentang bagaimana informasi mengenai hak dan bantuan bisa disampaikan dengan cara yang lebih mudah dipahami orang tua. Ia kemudian teringat percakapan mereka di Warung Ujung. Mereka ingin belajar mengawasi negara, tetapi ternyata sebelum sampai pada tingkat kebijakan yang besar, mereka sudah menemukan masalah yang sama dalam lingkungan paling dekat. Ada aturan. Ada program. Ada pelaksana. Ada warga. Dan di antara semuanya terdapat jarak yang harus dijembatani. Zahra tersenyum kecil. Mungkin negara memang terasa paling nyata justru di tempat-tempat seperti ini.
Di tempat lain, Alya mengalami percakapan yang tidak jauh berbeda. Seorang pasien yang beberapa kali datang ke puskesmas akhirnya bertanya tentang mekanisme pengaduan pelayanan. Alya tidak langsung menjawab karena ia tidak ingin memberikan informasi yang belum ia pastikan. Ia kemudian meminta pasien tersebut menunggu sebentar dan mencari tahu kepada petugas yang memang menangani bagian tersebut. Setelah memperoleh penjelasan, Alya kembali kepada pasien. "Kalau ada pelayanan yang menurut Ibu tidak sesuai, ada jalur pengaduannya. Tapi sebaiknya Ibu catat tanggal, jenis pelayanan, dan apa yang terjadi supaya laporan yang disampaikan jelas." Perempuan itu mengangguk. "Berarti enggak harus marah dulu?" Alya tersenyum. "Enggak. Yang penting masalahnya dijelaskan." Pasien itu tampak berpikir. "Kalau nanti enggak ditanggapi?" Alya menjawab hati-hati, "Kalau sudah disampaikan sesuai jalur dan belum ada tindak lanjut, Ibu bisa menanyakan kembali statusnya. Yang penting jangan berhenti hanya karena sekali bertanya belum dijawab." Setelah pasien tersebut pergi, Alya duduk beberapa saat sambil menatap meja kerjanya. Ia merasa percakapan itu sederhana, tetapi penting. Selama ini ia sering melihat dua hal ekstrem. Ada orang yang menerima semua pelayanan tanpa pernah bertanya meski mengalami masalah, dan ada pula yang langsung marah tanpa memberi kesempatan kepada petugas untuk menjelaskan. Padahal di antara keduanya terdapat sesuatu yang lebih sehat: warga yang mengetahui haknya, memahami batas kewenangannya, menyampaikan keluhan dengan jelas, dan bersedia mendengarkan penjelasan. Sebaliknya, lembaga pelayanan juga harus bersedia mendengar, menjelaskan, dan memperbaiki jika memang ditemukan kekurangan. Alya kemudian membuka grup mereka. Ia menulis, Aku makin yakin kalau pengawasan itu bukan berarti cari kesalahan. Kadang justru memastikan masalahnya benar-benar sampai ke tempat yang bisa memperbaikinya. Damar membalas, Itu penting. Farhan menambahkan, Kalau begitu pengawasan juga butuh kesabaran. Raka langsung menyahut, Nah, bagian ini yang berat. Zahra mengirim emoji tertawa. Alya tersenyum membaca percakapan itu. Mereka masih sama seperti dulu. Masih saling mengejek. Masih bercanda. Tetapi di balik candaan itu, cara mereka memandang kehidupan telah berubah.
Malamnya, mereka kembali berkumpul di Warung Ujung. Tidak ada pertemuan resmi. Tidak ada agenda yang ditulis di papan. Bu Ratih bahkan tidak tahu bahwa malam itu mereka membawa catatan masing-masing. Ia hanya menyiapkan minuman seperti biasa. "Lima orang, lima gelas. Jangan ada yang bilang saya enggak perhatian," katanya sambil meletakkan gelas di meja. Raka tertawa. "Ibu kalau buka kantor pemerintahan, saya mau daftar." Bu Ratih langsung mengangkat alis. "Kenapa?" "Pelayanannya cepat." "Saya juga punya syarat." "Apa?" "Bayar dulu." Mereka semua tertawa. Setelah suasana mereda, Damar mengeluarkan laptopnya. "Oke. Gue mau lihat apa yang sudah kita punya." Raka menatapnya. "Kita punya apa?" "Informasi." Damar membuka dokumen yang sudah ia buat. Di sana terdapat beberapa kolom: persoalan, pengalaman warga, pihak yang berkaitan, informasi yang sudah diketahui, informasi yang belum diketahui, serta tindak lanjut. Farhan memperhatikan tabel tersebut. "Lu bikin ini sejak kapan?" "Tadi sore." Raka menggeser kursinya mendekat. "Coba lihat." Damar menunjuk baris pertama. "Jalan Gang Petam. Kita tahu kondisinya. Kita sudah tahu harus bertanya ke mana. Tapi kita belum tahu status akhirnya dan kapan tindak lanjutnya." Ia berpindah ke baris berikutnya. "Lampu jalan. Kita tahu masalahnya, tapi belum jelas mekanisme pengaduannya sampai tahap mana." Kemudian ia menunjuk catatan Zahra. "Bantuan pendidikan. Programnya ada. Tapi akses informasi ke orang tua masih jadi persoalan." Lalu catatan Alya. "Pelayanan kesehatan. Jalur pengaduan ada. Tapi kita belum punya gambaran apakah warga benar-benar tahu jalurnya dan apakah keluhan mereka ditindaklanjuti." Raka memandangi layar. "Ternyata kalau ditulis begini, semuanya kelihatan beda." Farhan mengangguk. "Karena sekarang kita enggak cuma melihat masalah. Kita melihat sistem di belakangnya." Damar tersenyum. "Tapi jangan terlalu cepat merasa sudah paham. Ini baru permulaan." Zahra menyandarkan tubuh ke kursi. "Aku justru suka bagian itu." "Bagian mana?" tanya Raka. "Kita belum tahu semuanya." Raka tertawa. "Lu kok malah senang?" Zahra menjawab tenang, "Karena kalau kita merasa sudah tahu semuanya, kita berhenti bertanya." Damar mengangguk. Kalimat itu sejalan dengan apa yang sejak lama mereka pelajari. Pengetahuan bukan akhir dari pertanyaan. Pengetahuan yang baik justru membuat pertanyaan menjadi lebih tajam.
Farhan kemudian membuka map proyek yang dibawanya. "Gue juga punya sesuatu." Raka langsung menatapnya. "Apa? Jangan bilang kita sekarang rapat beneran." Farhan tertawa kecil. "Bukan. Di proyek tadi ada pembahasan soal penyesuaian harga material dan perubahan biaya. Gue jadi kepikiran sama apa yang selama ini kita omongin." Ia menjelaskan bahwa dalam sebuah proyek, angka anggaran tidak berdiri sendiri. Ada harga material, tenaga kerja, distribusi, jadwal, spesifikasi teknis, dan berbagai faktor lain yang memengaruhi. Ketika satu bagian berubah, bagian lain bisa ikut terdampak. Namun ia juga menekankan bahwa kerumitan tidak boleh dijadikan alasan untuk menolak pertanyaan. Justru karena prosesnya rumit, masyarakat perlu mendapatkan penjelasan yang masuk akal. "Kalau kita enggak ngerti kenapa biaya berubah, kita bisa salah menilai. Tapi kalau kita enggak boleh bertanya sama sekali karena katanya rumit, itu juga enggak benar." Damar mengangguk. "Nah, ini penting." Raka menatap mereka satu per satu. "Berarti sekarang kita punya masalah baru." "Apa?" tanya Alya. Raka menghela napas. "Kita harus belajar baca dokumen." Semua tertawa. Bu Ratih yang sedang menuangkan air panas dari kejauhan menoleh. "Dari tadi saya dengar kalian ngomong dokumen. Jangan sampai kopi saya nanti juga harus pakai dokumen." Raka tertawa paling keras. Damar menutup laptop sebentar. "Bu, kalau kopi Ibu salah bikin, kita harus minta audit." Bu Ratih menunjuk mereka dengan sendok. "Audit kepala kalian."
Tawa kembali pecah di meja itu. Namun setelah tawa berhenti, Damar membuka laptopnya lagi. "Serius. Kalau kita mau lanjut, kita perlu belajar sedikit. Bukan supaya jadi ahli. Tapi supaya enggak gampang dibohongi." Farhan mengangguk. "Dan supaya enggak gampang menuduh." Alya menambahkan, "Dua-duanya sama penting." Zahra menatap catatan di depannya. "Berarti kita harus belajar membaca sebelum belajar mengawasi." Damar tersenyum. "Mungkin begitu."
Malam semakin larut ketika pembicaraan mereka perlahan berubah dari daftar persoalan menjadi satu kesadaran baru. Mereka mulai memahami bahwa partisipasi warga tidak selalu berupa tindakan besar. Kadang partisipasi dimulai dari membaca pengumuman di sekolah. Kadang dari bertanya kepada petugas pelayanan. Kadang dari mencatat kondisi jalan. Kadang dari meminta penjelasan tentang program yang menggunakan uang publik. Kadang dari mendengarkan pengalaman orang lain tanpa buru-buru menghakimi. Dan kadang, partisipasi bahkan berarti mengakui bahwa kita belum cukup tahu untuk menyimpulkan sesuatu.