Beberapa hari setelah mereka mulai menyusun catatan dengan lebih teratur, kehidupan di Gang Petam kembali berjalan dengan cara yang hampir sama seperti sebelumnya. Warung Ujung tetap buka sejak pagi. Pak Hendra masih mendorong gerobak galonnya melewati rumah-rumah warga. Anak-anak berangkat sekolah sambil saling memanggil dari ujung gang. Raka masih menerima pesanan dari aplikasi dan menghabiskan sebagian besar harinya di atas motor. Farhan tetap berangkat ke proyek dengan tas kerja dan helm yang selalu dibawanya. Zahra kembali menghadapi murid-murid yang lebih sering memikirkan jam pulang daripada materi pelajaran. Alya tetap sibuk di puskesmas, sementara Damar semakin sering menghabiskan waktu di depan layar laptop, membaca informasi sebelum memutuskan apa yang layak ia jadikan bahan pembicaraan. Dari luar, tidak ada alasan untuk menganggap sesuatu telah berubah. Namun mereka sendiri mengetahui bahwa perubahan kecil sudah terjadi di kepala masing-masing. Persoalan tidak lagi datang, dibicarakan satu malam, lalu hilang bersama gelas-gelas kosong di atas meja Warung Ujung. Sekarang beberapa persoalan meninggalkan catatan. Ada yang masih menunggu jawaban. Ada yang membutuhkan informasi tambahan. Ada pula yang ternyata lebih rumit daripada dugaan mereka pada awalnya. Mereka tidak merasa telah menjadi ahli. Justru semakin banyak yang mereka pelajari, semakin jelas bahwa sebagian besar persoalan publik tidak memiliki jawaban yang bisa diselesaikan hanya dengan satu percakapan.
Pagi itu Damar sedang membuka kembali dokumen yang berisi daftar persoalan mereka ketika sebuah pesan masuk dari seseorang yang tidak terlalu ia kenal. Pesan itu datang melalui akun media sosialnya. Pengirimnya tidak meminta Damar membuat video atau membantu menyebarkan sesuatu. Ia hanya mengirim sebuah kalimat pendek. Bang, kalau mau bahas soal tanah, jangan cuma lihat orang yang sudah punya sertifikat. Damar membaca pesan itu dua kali. Di bawahnya terdapat beberapa kalimat tambahan. Orang tersebut menulis bahwa keluarganya pernah mengalami kesulitan mempertahankan lahan yang telah mereka tempati selama puluhan tahun. Tidak ada rincian lengkap. Tidak ada nama lokasi. Tidak ada tuduhan terhadap pihak tertentu. Hanya sebuah cerita singkat tentang keluarga yang tiba-tiba diminta membuktikan sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah mereka pikirkan perlu dibuktikan. Damar tidak langsung membalas. Ia menutup pesan tersebut, lalu kembali membukanya beberapa menit kemudian. Pengalaman selama beberapa bulan terakhir membuatnya berhati-hati terhadap cerita yang datang melalui internet. Sebuah pengalaman pribadi bisa benar-benar terjadi, tetapi belum tentu seluruh konteksnya diketahui oleh orang yang menceritakannya. Sebaliknya, fakta bahwa suatu cerita belum lengkap juga bukan alasan untuk langsung mengabaikannya. Ia akhirnya membalas singkat, menanyakan apakah orang tersebut bersedia menjelaskan lebih jauh tanpa harus menyebutkan informasi pribadi yang tidak ingin dibagikan.
Beberapa saat kemudian, jawaban datang. Percakapan mereka berlangsung cukup panjang, tetapi tetap penuh kehati-hatian. Damar mengetahui bahwa persoalan tanah yang dialami keluarga tersebut tidak sederhana. Ada dokumen lama. Ada batas wilayah yang berubah dalam pemahaman warga. Ada pihak yang mengaku memiliki dasar hukum berbeda. Ada keluarga yang merasa sudah tinggal dan mengelola tanah itu sejak generasi sebelumnya, tetapi tidak memiliki dokumen yang menurut mereka sekarang diminta untuk membuktikan hak tersebut. Damar tidak mencatat semuanya sebagai fakta yang sudah pasti. Ia hanya menulis beberapa kata di buku catatannya: Tanah. Kepemilikan. Penguasaan. Dokumen. Riwayat. Siapa yang memahami hukum? Siapa yang tidak? Setelah itu ia terdiam cukup lama. Selama ini, rumah selalu menjadi salah satu kata yang paling sering muncul dalam pembicaraan mereka. Rumah sebagai tempat pulang. Rumah sebagai tempat seseorang merasa aman. Namun bagaimana jika seseorang tinggal di sebuah tempat selama bertahun-tahun, membangun kehidupan di sana, membesarkan anak, menguburkan anggota keluarga di tanah yang sama, lalu suatu hari harus membuktikan bahwa tempat tersebut benar-benar menjadi bagian dari hidupnya?
Siang harinya, Damar membawa pertanyaan itu ke Warung Ujung. Ia datang lebih awal karena ingin bertemu Raka yang sedang beristirahat sebelum kembali menerima pesanan. Raka duduk sambil menghabiskan makan siangnya dengan terburu-buru. "Lu kalau makan sambil mikir gitu biasanya ada masalah," katanya ketika melihat Damar datang membawa buku catatan. Damar menarik kursi. "Belum tahu masalah atau bukan." "Nah, itu lebih bahaya. Kalau udah tahu masalah aja lu bisa tiga hari baca." Damar tertawa kecil. Ia kemudian menceritakan secara umum mengenai pesan yang diterimanya tanpa menyebut identitas pengirimnya. Raka mendengarkan sambil sesekali berhenti mengunyah. Ketika Damar selesai, ia menyandarkan tubuh ke kursi. "Jadi orang tinggal di situ dari lama, tapi suatu hari disuruh buktiin itu tanah dia?" "Kurang lebih begitu. Tapi gue belum tahu semua detailnya." "Terus kalau enggak punya surat?" "Nah. Itu yang gue belum ngerti. Karena bisa jadi ada banyak keadaan yang berbeda." Raka mengangguk perlahan. "Gue enggak pernah benar-benar mikirin beginian sebelumnya." Damar menatapnya. "Serius?" "Iya. Buat gue selama ini tanah ya tanah. Kalau ada rumah, ada yang tinggal, ya gue pikir semuanya jelas. Gue enggak pernah kepikiran kalau urusan tanah bisa sampai bikin orang bingung soal surat, kepemilikan, bahkan rumah yang mereka tempatin." Ia berhenti sejenak, lalu menatap jalan. "Sekarang gue jadi kepikiran. Kalau rumah orang aja bisa dipertanyakan, terus hidupnya mau gimana?"
Damar tidak langsung menjawab. Ia tahu pertanyaan Raka terdengar sederhana, tetapi justru karena itu terasa berat. Mereka sudah cukup lama berbicara tentang jalan, sekolah, pelayanan kesehatan, pekerjaan, dan anggaran. Namun persoalan tanah membawa mereka ke sesuatu yang lebih mendasar. Seseorang mungkin masih bisa mencari jalur lain ketika jalan menuju rumahnya rusak. Seorang anak mungkin dapat berusaha memperoleh bantuan ketika biaya pendidikan menjadi masalah. Seorang pasien dapat mencari mekanisme pengaduan ketika pelayanan tidak berjalan baik. Tetapi ketika tempat tinggal seseorang sendiri menjadi tidak pasti, seluruh kehidupan di sekitarnya bisa ikut berubah. Raka kemudian mengangkat bahu. "Tapi jangan lihat gue kayak gitu. Gue enggak punya jawaban." "Gue juga enggak." "Bagus." "Bagus apanya?" "Berarti kita konsisten." Damar tertawa. Bu Ratih yang mendengar percakapan mereka dari dalam warung menoleh. "Konsisten apanya?" Raka langsung menjawab, "Konsisten enggak ngerti, Bu." Bu Ratih menggeleng sambil tersenyum. "Kalau begitu jangan terlalu bangga."
Sore hari, Farhan datang membawa cerita yang sama sekali berbeda, tetapi tanpa mereka sadari perlahan akan membawa percakapan ke arah yang lebih luas. Di proyek tempatnya bekerja, pembicaraan mengenai kondisi tanah dan perubahan lingkungan muncul dalam rapat teknis. Tidak ada kasus besar. Tidak ada situasi dramatis. Salah satu bagian pekerjaan hanya mengalami penyesuaian karena kondisi lapangan tidak sepenuhnya sama dengan data awal yang digunakan dalam perencanaan. Bagi Farhan, hal seperti itu bukan sesuatu yang aneh. Sebuah gambar kerja tidak selalu mampu menjelaskan seluruh keadaan yang akan ditemukan ketika pekerjaan benar-benar dimulai. Ada kondisi tanah. Ada saluran air. Ada bangunan lama. Ada aktivitas warga di sekitar lokasi. Karena itu, ia selalu merasa terganggu ketika orang berbicara tentang pembangunan seolah seluruh persoalan dapat diselesaikan hanya dengan satu keputusan dari atas. Ia datang ke Warung Ujung malam itu dengan kepala masih penuh oleh pembicaraan di proyek. Ketika Damar dan Raka mulai menceritakan soal pesan mengenai tanah, Farhan langsung terlihat lebih serius.
"Masalah tanah itu selalu kelihatan gampang dari luar," katanya. "Orang tinggal lihat peta, lihat garis, selesai. Padahal di lapangan belum tentu." Damar menatapnya. "Maksud lu?" Farhan mengambil gelas kopinya. "Gue enggak ngomong soal kasus tertentu. Tapi batas di dokumen, batas yang dipahami warga, kondisi fisik di lapangan, riwayat penggunaan tanah, semuanya bisa jadi beda. Makanya kalau ada konflik, gue rasa bahaya banget kalau kita langsung bilang pihak A pasti benar atau pihak B pasti salah tanpa ngerti dokumennya." Raka mengangguk. "Berarti lagi-lagi kita harus baca." "Iya." Farhan tersenyum kecil. "Dan kali ini mungkin lebih banyak bacanya." Raka langsung mengeluh. "Wah, enggak jadi warga kritis aja kali, ya." Damar tertawa. "Telat. Lu udah daftar." "Daftar kapan?" "Sejak lu bolak-balik ke kelurahan."
Malam itu Zahra dan Alya datang hampir bersamaan. Ketika pembicaraan tentang tanah kembali muncul, Zahra tidak langsung memberikan pendapat. Ia mendengarkan sampai Damar selesai menjelaskan apa yang ia ketahui. Setelah itu ia berkata pelan, "Yang paling aku takutkan kalau membahas persoalan seperti ini adalah kita terlalu sibuk mencari siapa yang salah sampai lupa ada orang yang hidupnya benar-benar bergantung pada hasilnya." Alya mengangguk. "Di pelayanan kesehatan juga kadang begitu. Orang melihat satu keputusan, lalu mengira semuanya cuma soal benar atau salah. Padahal kalau sudah menyangkut manusia, akibatnya bisa panjang." Raka memandang mereka. "Berarti kita enggak boleh ngomongin apa-apa, dong. Takut salah." "Bukan begitu," jawab Zahra. "Justru kita harus belajar bicara lebih hati-hati." Damar menambahkan, "Dan tahu bagian mana yang memang belum kita ketahuin."
Mereka kemudian membuka kembali dokumen yang sudah dibuat sebelumnya. Damar menambahkan satu baris baru di bagian bawah. Ia tidak menulis nama lokasi. Ia tidak menulis kesimpulan. Hanya beberapa kata: Persoalan tanah dan kepastian tempat tinggal — informasi awal dari pengalaman warga, perlu memahami dasar hukum, dokumen, riwayat, dan pihak yang berkaitan. Raka memperhatikan layar. "Kita bahkan belum tahu mau mulai dari mana." "Ya berarti mulai dari tahu apa yang belum kita tahu," jawab Damar. Kalimat itu membuat Raka terdiam beberapa detik. "Sial. Sekarang kalimat kayak gitu malah masuk akal." Alya tertawa kecil. Zahra menunduk sambil tersenyum. Farhan hanya menggeleng pelan.
Percakapan kemudian bergerak ke persoalan lain. Damar menunjukkan beberapa komentar dari video yang sebelumnya ia unggah. Banyak orang mulai mengirim pengalaman mereka sendiri. Sebagian bercerita tentang sulitnya memperoleh informasi. Sebagian tentang pelayanan yang lambat. Ada pula yang mengeluhkan persoalan lingkungan. Salah satu komentar menarik perhatian Farhan. Orang itu menulis bahwa selama beberapa tahun terakhir, keluarganya sering mengalami gangguan pernapasan ketika asap dari kebakaran lahan menyebar ke wilayah tempat mereka tinggal. Komentar itu tidak menyebut lokasi secara rinci, tetapi kata asap membuat Alya langsung mengangkat kepala. "Kalau asapnya sampai parah, dampaknya bukan cuma bikin enggak nyaman," katanya. "Anak-anak, lansia, orang yang punya masalah pernapasan, bisa lebih terdampak." Damar menatap layar. "Ini dari Kalimantan, katanya." Alya tidak langsung menanggapi. Ia hanya meminta Damar menunjukkan seluruh komentar agar konteksnya jelas. Setelah membacanya, ia berkata, "Kalau nanti kita bahas, jangan cuma berhenti di foto langit merah atau gambar kebakaran. Orang biasanya lihat kebakaran sebagai peristiwa. Padahal setelah apinya padam, dampaknya ke manusia belum tentu langsung selesai."
Kata-kata Alya membuat suasana meja berubah. Selama ini mereka sudah belajar bahwa sebuah persoalan tidak selalu berakhir ketika sesuatu yang terlihat di permukaan selesai. Jalan yang diperbaiki belum tentu menjawab seluruh pertanyaan tentang prosesnya. Program bantuan yang tersedia belum tentu berarti semua orang yang membutuhkan sudah dapat mengaksesnya. Begitu pula dengan kebakaran. Api mungkin menjadi bagian yang paling mudah dilihat, tetapi kehidupan setelahnya bisa membawa persoalan yang jauh lebih panjang. Damar kemudian menambahkan satu catatan lain ke dalam dokumen mereka. Lingkungan dan kebakaran — dampak pada kesehatan, pekerjaan, pendidikan, transportasi, dan kehidupan warga. Jangan hanya melihat peristiwanya. Cari tahu apa yang terjadi sebelum dan sesudahnya.
Tidak ada yang menyadari bahwa malam itu daftar mereka kembali bertambah. Mereka tidak sedang memilih kasus mana yang paling besar atau paling penting. Mereka hanya mulai melihat bahwa persoalan yang sebelumnya terasa terpisah ternyata memiliki hubungan dengan sesuatu yang sama: kehidupan manusia yang harus terus berjalan ketika sistem, kebijakan, lingkungan, atau keputusan di sekitarnya berubah. Di luar Warung Ujung, Gang Petam tetap seperti biasa. Sebuah motor berhenti untuk membeli rokok. Seorang anak berlari membawa uang receh untuk membeli mi instan. Dari rumah di seberang terdengar suara televisi yang menyiarkan berita malam. Lima sahabat itu duduk di meja yang sama, tetapi kali ini peta persoalan di hadapan mereka terasa semakin luas.
Dan semakin luas peta itu, semakin mereka sadar bahwa republik yang selama ini mulai mereka pelajari ternyata tidak hanya berada di kantor kelurahan, sekolah, puskesmas, atau jalan kecil di depan rumah mereka.
Ada republik yang hidup di tanah yang diperebutkan.
Ada republik yang ikut menghirup asap ketika hutan terbakar.
Ada republik yang harus tetap berjalan ketika rumah seseorang tidak lagi terasa pasti.
Dan mereka baru saja mulai melihat arahnya.
* * *
Beberapa hari kemudian, sebuah berita tentang kebakaran hutan dan lahan kembali ramai dibicarakan. Damar tidak langsung membuat konten. Ia sudah terlalu sering melihat bagaimana sebuah peristiwa besar dapat berubah menjadi perlombaan untuk menjadi orang pertama yang berbicara. Pagi itu, ia justru membuka berbagai sumber informasi sambil membuat daftar pertanyaan. Seberapa luas dampaknya? Wilayah mana yang terdampak? Apa penyebab yang sudah diketahui dan apa yang masih dalam penyelidikan? Bagaimana kondisi kesehatan warga? Apakah sekolah terganggu? Bagaimana kehidupan pekerja yang harus tetap berada di luar ruangan? Ia sengaja tidak menulis kalimat kesimpulan di bagian atas catatannya. Ia hanya menulis: Jangan jadikan tragedi sebagai latar belakang konten.
Kalimat itu muncul setelah ia membaca kembali beberapa pesan dari pengikutnya. Ada yang mengirim foto langit yang tertutup asap. Ada yang bercerita bahwa keluarganya harus membatasi aktivitas di luar rumah. Ada pula yang marah dan langsung menyebut nama pihak-pihak tertentu. Damar memahami kemarahan tersebut, tetapi ia tidak ingin meminjam kemarahan orang lain untuk membuat kesimpulan yang belum dapat ia buktikan. Ia mengingat aturan yang mereka buat sendiri di Warung Ujung: jangan langsung unggah kalau belum mencari tahu. Jangan menyebut nama jika belum jelas. Jangan mengubah cerita seseorang menjadi tuduhan tanpa bukti. Namun berhati-hati juga tidak berarti diam. Damar mulai melihat bahwa kesulitan terbesar justru berada di antara dua sikap yang sama-sama mudah dilakukan: berbicara terlalu cepat atau tidak mau berbicara sama sekali.
Siang itu, ia menemui Alya di luar jam kerjanya. Mereka duduk di sebuah kedai kecil tidak jauh dari puskesmas karena Alya belum sempat pulang. Damar membawa catatan. Alya membawa bekal yang belum sempat dimakan. "Lu ngajak gue ngobrol soal asap pas gue lagi makan?" tanya Alya sambil membuka tutup kotak makanannya. "Timing gue jelek." "Sangat." Damar tertawa. Setelah Alya mulai makan, mereka berbicara tentang dampak kesehatan secara umum tanpa mencoba menyederhanakan persoalan. Alya menjelaskan bahwa ketika kualitas udara memburuk, kelompok tertentu dapat mengalami risiko yang lebih besar. Namun ia juga mengingatkan bahwa dampak suatu bencana atau gangguan lingkungan tidak berhenti pada pemeriksaan kesehatan. Ada keluarga yang penghasilannya terganggu. Ada anak-anak yang aktivitasnya berubah. Ada orang yang harus tetap bekerja meskipun kondisi lingkungan tidak ideal karena mereka tidak memiliki pilihan lain. "Makanya kalau lu bikin sesuatu," kata Alya, "jangan cuma tanya berapa titik apinya. Tanyakan juga siapa yang harus tetap hidup di tengah akibatnya."
Damar menulis kalimat itu. "Gue boleh pakai?" "Jangan mentah-mentah." "Peliiiit." Alya tertawa. "Lu kan kreator. Kreatif sedikit." Namun setelah bercanda, wajah Alya kembali serius. Ia mengatakan bahwa salah satu masalah ketika sebuah peristiwa besar terjadi adalah perhatian publik sering bergerak terlalu cepat. Hari ini semua orang membicarakannya. Beberapa hari kemudian muncul isu lain dan perhatian berpindah. Padahal orang-orang yang terdampak masih harus menjalani kehidupan yang sama. Anak yang batuk mungkin masih harus belajar. Orang tua masih harus bekerja. Fasilitas kesehatan tetap menerima pasien. Warga tetap harus mencari cara untuk melanjutkan hidup. "Mungkin itu juga bagian dari pengawasan," kata Damar. "Bukan cuma memperhatikan saat masalahnya lagi viral." Alya mengangguk. "Justru pertanyaannya sering lebih penting setelah orang lain berhenti bertanya."
Malamnya, mereka kembali ke Warung Ujung. Kali ini Damar membawa dua topik sekaligus: kebakaran dan persoalan tanah. Raka langsung menatapnya dengan wajah tidak percaya. "Gue kira malam ini kita nongkrong biasa." "Ini nongkrong biasa." "Kalau nongkrong biasa sekarang ada dua topik nasional?" Farhan tertawa kecil. "Lu yang bilang kita sudah telanjur daftar." Raka menunjuk Damar. "Ini gara-gara dia."
Damar membuka laptop, tetapi kali ini tidak menampilkan tabel panjang. Ia hanya memperlihatkan dua halaman kosong dengan pertanyaan sederhana. Pada halaman pertama tertulis: Apa yang sebenarnya ingin kita pahami tentang kebakaran? Pada halaman kedua: Apa yang sebenarnya ingin kita pahami tentang tanah? Zahra memperhatikan keduanya cukup lama. "Bagus," katanya. "Kita mulai dari pertanyaan, bukan dari jawaban." Raka menghela napas. "Kalian makin hari makin senang sama pertanyaan." "Karena jawaban gampang dicari kalau pertanyaannya salah," jawab Zahra. "Lah, gimana?" "Maksudku, kalau kita dari awal cuma bertanya siapa yang salah, mungkin kita tidak melihat hal lain yang juga penting." Farhan mengangguk. "Misalnya?" "Misalnya siapa yang terdampak, bagaimana prosesnya berjalan, siapa yang punya kewenangan, apa yang sudah dilakukan, apa yang belum, dan apa yang membuat persoalan itu terus terjadi."
Raka mengangguk pelan. Selama ini, persoalan kebakaran hutan dan kabut asap hanya ia kenal sebagai sesuatu yang datang melalui berita, potongan video, atau unggahan yang sesekali muncul di ponselnya. Ia tidak pernah mengalami sendiri bagaimana rasanya tinggal di daerah yang udaranya berubah karena asap, dan ia juga tidak ingin berpura-pura memahami sesuatu yang belum pernah dialaminya. Namun justru karena itu, pembicaraan mereka membuatnya merasa ada bagian yang selama ini terlalu mudah untik ia abaikan. "Gue enggak tahu persis rasanya hidup di sana," katanya. "Tapi kalau tiap tahun ada berita soal asap, berarti yang ngalamin pasti bukan cuma orang-orang yang muncul sebentar di televisi." Damar menatapnya sambil menunggu. Raka melanjutkan, "Kadang kita lihat berita, terus beberapa menit kemudian pindah ke berita lain. Padahal buat orang yang tinggal di tempat itu, mereka enggak bisa pindah begitu aja." Kalimat itu membuat Damar berhenti mengetik. Ia memandang layar laptopnya beberapa saat sebelum akhirnya menutup salah satu catatan yang baru saja dibuat. "Iya," katanya. "Berarti kita juga harus hati-hati. Jangan sampai cuma karena mau ngerti masalahnya, kita malah ngomong seolah-olah kita tahu pengalaman orang." Zahra tersenyum kecil. "Itu juga bagian dari belajar," katanya. "Tahu batas antara mencoba memahami dan merasa sudah memahami." Damar mengangguk. Perubahan cara berpikirnya tidak membuatnya selalu benar, tetapi setidaknya sekarang ia memiliki teman-teman yang berani mengingatkannya ketika ia mulai melangkah terlalu jauh.
Pembicaraan mengenai tanah berjalan lebih panjang. Farhan mengatakan bahwa mereka perlu membedakan banyak hal yang selama ini mungkin tercampur dalam percakapan umum: kepemilikan, penguasaan, penggunaan, izin, sertifikat, riwayat, dan batas wilayah. "Kalau semua itu kita campur jadi satu, kita bakal bingung sendiri," katanya. Raka mengangkat tangan seperti murid di kelas Zahra. "Pak, pertanyaan." Farhan menatapnya. "Apa?" "Jadi kalau ada orang tinggal di tanah puluhan tahun, itu belum tentu otomatis berarti dia punya secara hukum?" Farhan mengangguk hati-hati. "Bisa jadi ada keadaan yang berbeda-beda. Makanya kita enggak bisa langsung menyimpulkan dari satu cerita." Raka menoleh kepada Zahra. "Bu Guru, nilai saya?" Zahra tersenyum. "Masih remedial." Semua tertawa.
Setelah tawa berhenti, Zahra mulai berbicara tentang apa yang membuat persoalan seperti itu terasa dekat baginya. Di sekolah, ia melihat betapa pentingnya sebuah alamat dalam kehidupan seorang anak. Alamat diperlukan untuk berbagai urusan administrasi. Rumah bukan hanya tempat tidur. Rumah terhubung dengan sekolah, pekerjaan, lingkungan sosial, dan rasa aman. Jika sebuah keluarga harus pindah secara tiba-tiba, anak-anak bisa menjadi pihak yang ikut menerima akibat tanpa benar-benar memahami apa yang sedang terjadi. "Makanya kalau kita bicara soal tanah, aku enggak bisa cuma membayangkan peta," katanya. "Aku bayangin juga murid yang mungkin besok harus pindah sekolah." Alya menambahkan, "Atau orang tua yang kehilangan akses ke layanan yang selama ini dekat dengan tempat tinggalnya." Farhan mengangguk. "Dan pekerja yang harus mencari cara baru untuk berangkat kerja." Raka menatap mereka. "Ujung-ujungnya balik ke hidup sehari-hari lagi." Damar menatapnya. "Memang dari awal kita belajar negara dari situ."
Mereka tidak membuat keputusan untuk mengejar kasus tertentu. Mereka juga tidak membentuk rencana besar. Namun malam itu mereka sepakat pada satu hal: kalau sebuah persoalan mulai masuk ke pembicaraan mereka, mereka tidak boleh memperlakukannya sebagai bahan untuk memenangkan perdebatan. Mereka harus memahami sebanyak mungkin sebelum menentukan sikap. Jika tidak mengetahui sesuatu, mereka harus mengatakan tidak tahu. Jika ada informasi yang saling bertentangan, mereka harus mencari sumber lain. Jika sebuah cerita berasal dari seseorang yang sedang mengalami kesulitan, mereka harus berhati-hati agar keinginan untuk memahami tidak berubah menjadi tindakan yang justru membahayakan orang tersebut.
Bu Ratih yang sejak tadi mendengarkan sebagian percakapan sambil membereskan barang akhirnya datang membawa sepiring gorengan. "Ini." Raka menatap piring tersebut. "Gratis?" "Enggak." "Terus kenapa ditaruh?" "Biar kalian enggak kelaparan mikirin negara." Mereka tertawa. Raka langsung mengambil satu gorengan. "Nah, ini baru kebijakan publik yang saya dukung." "Bayar." "Kok langsung?" "Karena dukungan tidak menghapus kewajiban." Farhan sampai menundukkan kepala sambil tertawa.
Malam semakin larut ketika televisi kecil di sudut warung menayangkan berita dari berbagai daerah. Ada laporan tentang banjir. Ada perdebatan politik. Ada perkembangan harga kebutuhan pokok. Lalu muncul potongan berita mengenai gangguan keamanan dan ketegangan di Aceh. Informasi yang ditampilkan masih terbatas. Beberapa pihak memberikan keterangan berbeda. Situasinya belum sepenuhnya jelas. Damar yang sedang memasukkan laptop ke tas kembali berhenti. Raka menatap layar. "Ini apalagi?" Zahra tidak langsung menjawab. Alya hanya memandang televisi dengan wajah serius. Farhan mengambil ponselnya, membaca beberapa informasi, lalu berkata, "Kalau datanya belum jelas, jangan ngomong dulu." Damar mengangguk.