Republik Di Ujung Gang

Rizky Ade Putra
Chapter #16

Ketika Rumah Tidak Lagi Hanya Menjadi Tempat Pulang

Pagi setelah percakapan terakhir mereka di Warung Ujung, Gang Petam kembali berjalan dengan cara yang tidak memberikan tanda bahwa lima orang di dalamnya baru saja menghabiskan beberapa malam membicarakan persoalan tanah, kebakaran, informasi yang beredar terlalu cepat, dan tanggung jawab untuk tidak ikut menyebarkan sesuatu yang belum benar-benar mereka pahami. Anak-anak tetap berangkat sekolah sambil membawa tas yang tampak terlalu besar di punggung mereka. Motor-motor keluar dari gang satu per satu menuju Jalan Buran. Bu Ratih membuka pintu warung sambil menggeser beberapa kardus minuman ke samping. Pak Hendra sudah lebih dulu melewati rumah-rumah warga dengan gerobak galonnya. Dari salah satu rumah terdengar suara ibu yang memanggil anaknya berkali-kali karena belum juga berangkat, sementara dari rumah lain suara televisi pagi sudah mulai bercampur dengan bunyi sendok yang beradu dengan piring. Tidak ada yang berubah di permukaan. Tetapi bagi Damar, pagi itu terasa sedikit lebih ramai dari biasanya karena sebelum ia benar-benar selesai membuat kopi, ponselnya sudah kembali menerima beberapa pesan mengenai video-video yang semalam beredar. Sebagian orang mengirimkan tautan baru. Sebagian bertanya apakah informasi tertentu benar. Ada pula yang langsung meminta pendapatnya. Bang, ini bener enggak? Bang, lu udah lihat yang ini? Bang, kenapa enggak bahas? Damar membaca satu per satu tanpa langsung membalas. Beberapa bulan lalu, pertanyaan seperti itu mungkin akan membuatnya merasa tertantang. Ada sesuatu yang menyenangkan ketika orang menunggu pendapatmu. Rasanya seperti bukti bahwa apa yang kamu lakukan diperhatikan. Namun sekarang ia justru semakin sadar bahwa perhatian juga bisa berubah menjadi tekanan. Ketika orang mulai terbiasa mendengar pendapatmu, ada dorongan untuk selalu memiliki sesuatu untuk dikatakan, bahkan pada saat sebenarnya kamu belum cukup tahu. Ia membuka salah satu video yang dikirimkan kepadanya, memperhatikannya beberapa kali, lalu menutupnya kembali. Setelah itu ia membuka video lain yang menggunakan rekaman hampir sama, tetapi dengan keterangan yang berbeda. Damar menghela napas. "Nah, mulai lagi," gumamnya pelan.

Ayahnya yang sedang duduk di ruang depan menoleh ketika mendengar suara tersebut. "Mulai apa?" Damar membawa ponselnya sambil duduk di kursi tidak jauh dari sana. "Video yang sama dikasih cerita beda-beda." Ayahnya menerima ponsel yang disodorkan Damar, melihat beberapa detik, lalu mengembalikannya. "Yang satu benar, yang lain salah?" Damar menggeleng. "Belum tentu sesederhana itu. Bisa aja dua-duanya salah. Bisa juga videonya benar, tapi keterangannya yang enggak benar." Ayahnya mengangguk pelan. "Terus kamu mau bagaimana?" "Cari tahu dulu." "Lama?" Damar tertawa kecil. "Ya, bisa jadi." Ayahnya kembali memandang ke arah televisi yang sejak tadi menampilkan berita pagi. "Kadang memang lebih lama mengetahui daripada percaya." Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi Damar tidak langsung menjawab. Ia kembali melihat layar ponselnya. Selama ini ia terlalu sering menganggap kecepatan sebagai bagian dari pekerjaannya. Siapa yang lebih dulu mengunggah, siapa yang lebih dulu menjelaskan, siapa yang lebih dulu menangkap perhatian. Namun semakin ia mempelajari berbagai persoalan bersama teman-temannya, semakin ia memahami bahwa dalam beberapa keadaan, menjadi orang pertama justru tidak ada artinya jika yang pertama kali dibawa kepada orang lain adalah kesimpulan yang salah. Ia kemudian membuka catatan dan menulis beberapa hal yang ingin ia periksa. Bukan kesimpulan. Bukan opini. Hanya pertanyaan. Dari mana video ini berasal? Kapan direkam? Siapa yang pertama kali mengunggah? Apakah ada sumber lain yang menunjukkan kejadian yang sama? Setelah selesai menulis, ia berhenti beberapa saat. Ia teringat percakapan mereka malam sebelumnya, ketika Raka dengan nada setengah bercanda mengatakan bahwa kepedulian jangan sampai membuat seseorang merasa menjadi ahli dalam segala hal. Saat itu mereka semua tertawa. Namun pagi ini, kalimat tersebut terasa jauh lebih serius.

Menjelang siang, sebuah pesan dari orang yang sebelumnya menghubunginya mengenai persoalan tanah kembali masuk. Damar membukanya dengan hati-hati. Orang itu tidak memberikan cerita yang jauh lebih lengkap daripada sebelumnya, tetapi mengirimkan satu kalimat yang membuat Damar membaca layar cukup lama. Yang bikin capek itu bukan cuma takut kehilangan tempat tinggal, Bang. Kadang kita bahkan enggak tahu harus tanya ke siapa. Damar menekan layar dengan ibu jarinya tanpa langsung membalas. Ia sudah dua kali mendengar inti persoalan yang hampir sama dari dua orang berbeda. Yang pertama melalui pesan. Yang kedua melalui cerita penumpang Raka. Situasinya berbeda, dokumennya berbeda, dan ia tahu bahwa tidak ada alasan untuk menganggap seluruh persoalan tanah sama. Tetapi ada satu hal yang perlahan muncul sebagai pola: ketika orang biasa menghadapi sesuatu yang berkaitan dengan dokumen, hukum, atau prosedur yang tidak mereka pahami, kesulitan pertama sering kali bukan menemukan jawaban. Kesulitan pertama adalah mengetahui pertanyaan apa yang harus diajukan dan kepada siapa. Damar membalas dengan hati-hati, mengatakan bahwa ia tidak ingin memberi nasihat hukum yang tidak ia pahami, tetapi ia ingin mencoba mencari informasi mengenai jalur-jalur umum yang mungkin dapat digunakan warga untuk memahami persoalan mereka. Setelah pesan itu terkirim, ia kembali membaca kalimat terakhir dari orang tersebut. Enggak tahu harus tanya ke siapa. Kalimat itu membuatnya kembali teringat pada beberapa bulan pertama ketika mereka mulai membicarakan jalan rusak di Gang Petam. Saat itu persoalannya jauh lebih sederhana. Setidaknya bagi mereka, jalan rusak bisa menjadi pintu untuk belajar tentang kelurahan, kewenangan, pengaduan, dan tindak lanjut. Tetapi persoalan tanah terasa seperti memasuki ruangan yang lebih besar. Ada sejarah. Ada dokumen. Ada aturan. Ada pihak-pihak dengan kepentingan berbeda. Ada kemungkinan bahwa seseorang merasa benar berdasarkan pengalaman hidupnya, sementara hukum memerlukan bukti yang tidak selalu mudah dimiliki oleh orang tersebut. Damar tidak ingin menyederhanakan semuanya menjadi satu cerita tentang orang baik dan orang jahat. Justru karena persoalan itu menyangkut tempat seseorang tinggal, ia merasa semakin tidak berhak untuk asal bicara.

Sore hari, ketika ia sedang membaca beberapa informasi dasar yang berhasil dikumpulkannya, Damar menerima pesan dari Raka. Lu lagi sibuk? Damar membalas, Kenapa? Tidak sampai satu menit kemudian, Raka mengirim pesan berikutnya. Ketemu cerita yang mirip lagi. Damar langsung berhenti membaca. Ia menatap layar beberapa detik sebelum membalas, Mirip yang kemarin? Raka menjawab, Beda kasus. Tapi ujungnya sama-sama bikin orang bingung harus mulai dari mana. Damar kemudian meminta Raka menceritakan secara singkat. Kali ini bukan seorang penumpang yang sedang menghadapi persoalan langsung mengenai rumah atau kepemilikan tanah. Raka sedang menunggu order ketika berbicara dengan salah satu pengemudi lain yang sedang membantu keluarganya mengurus dokumen lama yang selama bertahun-tahun tidak pernah diperbarui. Orang itu tidak sedang berhadapan dengan sengketa. Tidak ada ancaman langsung. Tidak ada pihak yang datang menuntut sesuatu. Justru karena itulah ceritanya membuat Damar semakin memperhatikan. Persoalannya baru terasa ketika keluarga tersebut mulai mencoba mengurus sesuatu dan mendapati bahwa mereka sendiri tidak benar-benar memahami dokumen apa yang mereka miliki, mana yang masih berlaku, apa yang harus diperbarui, berapa biaya yang seharusnya dikeluarkan, dan ke mana mereka harus datang untuk bertanya. Katanya takut salah ngurus malah tambah ribet, tulis Raka. Damar membaca pesan itu sambil memandangi catatan di hadapannya. Dua malam sebelumnya, mereka sudah membicarakan kemungkinan bahwa persoalan terbesar bagi banyak orang bukan selalu tidak adanya informasi, melainkan tidak mengetahui bagaimana cara memasuki informasi tersebut. Cerita baru dari Raka tidak menciptakan kesimpulan itu. Justru cerita tersebut seperti datang untuk menguatkannya. Persoalannya berbeda, orangnya berbeda, dan keadaan keluarganya pun berbeda. Namun di tengah semua perbedaan itu, ada kegelisahan yang terdengar serupa: orang-orang sering kali baru mulai mencari tahu ketika mereka sudah berada di depan persoalan, sementara sebelum itu tidak ada yang benar-benar membantu mereka memahami dari mana harus memulai. Damar membalas, Berarti bukan cuma orang yang sudah kena masalah besar. Raka langsung menjawab, Kayaknya iya. Kadang masalahnya belum kejadian, tapi orang udah takut duluan karena enggak ngerti jalurnya. Damar membaca kalimat itu sekali lagi. Kemudian ia mengetik, Ini malah makin bikin gue yakin kalau yang kita omongin kemarin belum selesai. Raka membalas, Sial. Berarti kita harus belajar lagi? Damar tersenyum sendiri. Selamat. Lu resmi masuk semester berikutnya. Raka langsung mengirim, Gue nyesel nongkrong sama kalian.

Namun candaan itu tidak menghilangkan kegelisahan yang tersisa. Damar menutup laptop ketika matahari mulai turun. Ia merasa ada sesuatu yang mulai berubah dalam cara mereka melihat persoalan. Dulu mereka mengira masalah hanya dimulai ketika sesuatu sudah rusak. Jalan berlubang. Pelayanan terganggu. Anak tidak bisa sekolah. Pasien tidak mendapatkan penjelasan. Sekarang mereka mulai melihat bahwa kadang persoalan sudah muncul jauh sebelum akibatnya terlihat. Ketika seseorang tidak memahami haknya, kebingungan itu mungkin belum terasa seperti masalah sampai suatu hari ia benar-benar membutuhkan jawaban. Ketika dokumen dibiarkan tanpa dipahami, orang mungkin baru menyadari pentingnya ketika ada sesuatu yang berubah. Ketika informasi hanya tersedia dalam bentuk yang sulit dimengerti, keberadaannya belum tentu berarti dapat benar-benar diakses oleh semua orang. Ia teringat Zahra yang pernah mengatakan bahwa informasi yang tersedia belum tentu sama dengan informasi yang bisa dipahami. Saat itu mereka membicarakan bantuan pendidikan. Kini kalimat yang sama terasa dapat digunakan untuk banyak hal lain. Damar kemudian membuka grup mereka dan menulis, Malam ini kalau jadi ngumpul, gue mau bahas satu hal. Bukan kasus tanah tertentu. Gue cuma mau tahu kenapa banyak orang biasa bingung harus mulai dari mana kalau berurusan sama sesuatu yang enggak mereka pahami. Alya membalas lebih dulu. Aku bisa datang agak malam. Zahra menulis, Aku jadi datang. Farhan membalas, Gue coba enggak telat. Raka mengirim pesan terakhir. Gue datang. Tapi kalau ujung-ujungnya disuruh baca undang-undang, gue pulang.

Damar menatap layar sambil tersenyum. Gang Petam belum mengetahui bahwa malam nanti lima orang yang sama akan kembali duduk di meja yang sama dan membawa pertanyaan yang semakin jauh dari persoalan awal mereka. Tidak ada seorang pun yang memiliki jawaban lengkap. Tidak ada yang datang sebagai ahli. Tetapi ada sesuatu yang perlahan menjadi kebiasaan. Setiap kali mereka menemukan sebuah persoalan, mereka mulai mencoba melihat bukan hanya apa yang terjadi ketika semuanya sudah terlambat, melainkan apa yang membuat seseorang tidak mampu mencegah atau memahami persoalan itu sejak awal. Dan tanpa mereka sadari, pertanyaan mengenai tanah perlahan mulai membawa mereka ke pertanyaan yang lebih besar. Jika sebuah rumah dapat menjadi tempat seseorang hidup selama puluhan tahun, tetapi orang tersebut tidak pernah benar-benar memahami apa yang harus dilakukan untuk melindungi tempat itu ketika persoalan datang, lalu seberapa banyak orang lain yang sebenarnya hidup dengan ketidakpastian serupa tanpa menyadarinya?

* * *

Malam itu Warung Ujung tidak terlalu ramai ketika Damar datang. Beberapa kursi plastik masih kosong. Bu Ratih sedang menghitung uang receh di dekat etalase sambil sesekali melayani pembeli yang datang membeli rokok atau minuman. Raka sudah lebih dulu duduk dengan helm di atas meja dan wajah yang terlihat seperti orang yang sebenarnya belum sepenuhnya rela hadir. Ketika melihat Damar datang membawa tas laptop, ia langsung mengangkat satu tangan. "Nah, datang juga ketua panitia remedial." Damar menarik kursi di depannya. "Lu datang atas kemauan sendiri." "Itu karena gue enggak punya kegiatan lain." "Beda tipis sama kemauan sendiri." Raka menggeleng. "Pokoknya malam ini kalau pembahasannya sampai ada kata pasal, gue pulang." Damar baru saja hendak menjawab ketika Bu Ratih datang membawa dua gelas minuman. "Kalian ini belum mulai sudah ribut." Raka menoleh. "Bu, saya dari awal enggak mau datang sebenarnya." Bu Ratih meletakkan gelas di meja. "Bagus. Berarti nanti pulangnya enggak usah bayar." Raka langsung duduk tegak. "Saya berubah pikiran. Saya sangat ingin hadir." Damar tertawa kecil. "Cepat juga prinsipnya berubah." "Ekonomi, Dam. Jangan campur sama politik."

Farhan datang beberapa menit kemudian dan langsung duduk tanpa banyak bicara. Wajahnya terlihat lelah, tetapi ketika Damar mulai menjelaskan mengapa ia mengajak mereka membahas persoalan tanah sekali lagi, ia tetap mendengarkan dengan serius. Damar tidak menceritakan seluruh isi pesan yang diterimanya. Ia hanya menjelaskan pola yang menurutnya mulai muncul. Ada orang yang tidak tahu harus mengurus dokumen ke mana. Ada yang tidak memahami perbedaan antara berbagai istilah yang mereka dengar. Ada yang baru mencari tahu setelah masalah muncul. Ada pula yang bahkan tidak tahu siapa yang seharusnya ditanya. Farhan mengangguk sambil menyandarkan tubuh ke kursi. "Sebetulnya itu bukan cuma soal tanah." Raka menatapnya. "Nah, mulai. Berarti kita melebar lagi." Farhan tersenyum kecil. "Maksud gue, di pekerjaan juga sama. Orang kadang mengira kalau dokumen itu ada, berarti semua orang otomatis ngerti isinya. Padahal belum tentu. Ada gambar, laporan, spesifikasi, perubahan, macam-macam. Orang yang tiap hari kerja di bidang itu saja kadang harus tanya lagi. Apalagi kalau seseorang yang enggak pernah berurusan tiba-tiba disuruh ngerti semuanya." Damar menatapnya. "Jadi menurut lu masalahnya bukan cuma informasi?" "Bisa jadi cara informasi itu sampai ke orang." Raka mengangkat alis. "Bedanya?" Farhan mengambil gelasnya. "Misalnya lu punya seribu halaman aturan. Informasinya ada. Tapi kalau orang yang butuh enggak tahu halaman mana yang harus dibaca, ya buat dia sama aja kayak enggak ada."

Kalimat itu membuat Damar berhenti sejenak. Ia baru hendak menanggapi ketika Zahra datang sambil membawa tas kain di bahunya. Ia meminta maaf karena sedikit terlambat, lalu duduk setelah Bu Ratih datang membawakan minuman. Damar kembali menjelaskan topik pembicaraan mereka. Zahra mendengarkan sampai selesai. Setelah itu ia mengangguk pelan. "Aku sering lihat hal seperti itu di sekolah." Raka langsung menoleh. "Tanah juga?" Zahra tertawa kecil. "Bukan. Informasi." Ia menjelaskan bahwa tidak semua orang tua murid memiliki waktu, kebiasaan, atau kemampuan yang sama untuk mencari dan memahami informasi. Ada yang aktif bertanya. Ada yang langsung membuka internet. Ada yang mengenal guru dan tahu harus menghubungi siapa. Tetapi ada juga yang tidak terbiasa melakukan semua itu. Sebagian merasa malu karena takut dianggap tidak mengerti. Sebagian terlalu sibuk bekerja. Sebagian lain bahkan tidak tahu bahwa ada sesuatu yang sebenarnya bisa mereka tanyakan. "Kadang kita terlalu cepat bilang, 'Kan informasinya sudah ada,'" kata Zahra. "Padahal pertanyaannya bukan cuma ada atau enggak. Sampai atau enggak? Dipahami atau enggak? Orang tahu harus bertanya ke siapa atau enggak?" Raka mengangguk perlahan. "Berarti kalau gue enggak tahu, bukan berarti gue doang yang males cari tahu." "Bisa jadi iya," jawab Zahra santai. "Tapi enggak selalu." Semua tertawa.

Alya datang ketika pembicaraan mulai semakin serius. Ia terlihat lelah, tetapi setelah duduk dan mendengar ringkasan dari Damar, ia justru langsung menghubungkannya dengan sesuatu yang sering ia lihat di tempat kerjanya. "Di layanan kesehatan juga begitu," katanya. "Kadang orang datang sudah bingung duluan. Dia enggak tahu prosedurnya bagaimana, harus ke meja mana, dokumen apa yang dibawa, atau sebenarnya dia bisa menyampaikan keluhan ke mana kalau ada masalah." Raka memandang Alya. "Tapi kan biasanya ada petunjuk." Alya mengangguk. "Ada. Tapi coba bayangkan orang yang datang sambil bawa anak sakit, belum makan, panik, mungkin enggak terbiasa membaca informasi yang banyak. Kita enggak bisa menganggap semua orang punya kondisi yang sama saat menerima informasi." Zahra langsung menambahkan, "Sama seperti orang tua murid." Farhan mengangguk. "Dan sama seperti warga yang harus mengurus sesuatu untuk pertama kali." Damar membuka laptop. "Berarti masalahnya bisa lebih besar dari yang gue pikir. Kita selama ini sering bilang orang harus lebih aktif cari tahu." Raka menatapnya. "Emang salah?" "Enggak. Tapi mungkin kita juga harus tanya apakah sistemnya membuat orang lebih mudah cari tahu atau justru bikin orang menyerah sebelum mulai."

Untuk beberapa saat tidak ada yang langsung menjawab. Kalimat tersebut membuat meja mereka kembali tenang. Di luar warung, seorang anak kecil berlari sambil membawa uang dan meminta Bu Ratih mengambilkan minuman dingin. Seorang pengendara berhenti sebentar, membeli sebungkus rokok, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Kehidupan di Gang Petam berjalan dengan cara yang sama seperti setiap malam. Namun lima orang di meja kecil itu mulai menyadari bahwa persoalan yang mereka bicarakan tidak selalu terlihat dalam bentuk jalan rusak atau bangunan yang terbengkalai. Ada persoalan yang bentuknya jauh lebih sulit dilihat karena tidak meninggalkan lubang di jalan atau antrean panjang di depan pintu. Ketidaktahuan bisa hidup diam-diam. Seseorang mungkin tidak tahu bahwa ada hak yang dapat ia gunakan. Tidak tahu ke mana harus mengadu. Tidak tahu bagaimana memahami dokumen. Tidak tahu perbedaan antara informasi yang resmi dan informasi yang hanya beredar dari mulut ke mulut. Dan selama semuanya masih berjalan normal, ketidaktahuan itu mungkin tidak terasa penting. Sampai suatu hari seseorang benar-benar membutuhkan jawaban.

Raka yang sejak tadi lebih banyak mendengarkan akhirnya menatap Damar. "Tapi kalau kita ngomongin semua orang harus dikasih tahu semuanya, ya enggak mungkin juga." Damar mengangguk. "Iya. Kita juga enggak mungkin ngerti semuanya." "Nah." Raka menyandarkan tubuh. "Berarti batasnya di mana?" Farhan menjawab sebelum Damar sempat berbicara. "Mungkin bukan semua orang harus tahu semua hal. Tapi orang harus punya kesempatan yang masuk akal buat tahu hal yang penting buat hidupnya." Alya mengangguk. "Dan tahu ke mana harus mencari kalau belum tahu." Zahra menambahkan, "Serta enggak dibuat merasa bodoh hanya karena bertanya." Raka memandang satu per satu teman-temannya. "Kalau begitu negara juga harus bisa ditanya dengan bahasa manusia, dong." Tidak ada yang tertawa kali ini. Kalimat Raka terdengar terlalu sederhana, tetapi justru karena itu semuanya terasa masuk akal. Damar menatap layar laptopnya. Selama ini mereka banyak belajar tentang prosedur. Tentang kewenangan. Tentang jalur pengaduan. Tentang pihak yang memiliki tanggung jawab. Namun belum pernah benar-benar mereka bahas bahwa mengetahui jalur bukan berarti semua orang mampu memasuki jalur tersebut dengan mudah. Seseorang mungkin tahu bahwa ada tempat untuk mengadu, tetapi takut datang karena tidak memahami bahasa yang akan digunakan. Seseorang mungkin menemukan formulir, tetapi tidak mengerti apa yang harus diisi. Seseorang mungkin mengetahui nomor yang bisa dihubungi, tetapi merasa persoalannya terlalu kecil untuk disampaikan. Damar menulis beberapa kata baru di catatannya: Informasi bukan hanya soal tersedia. Akses bukan hanya soal pintu terbuka.

"Lu nulis apaan?" tanya Raka. Damar membacakan kalimat itu. Raka mengangguk, lalu menunjuk laptop. "Bagus. Tapi jangan dijadiin caption sok pinter." "Gue belum bilang mau bikin konten." "Tetap gue ingetin." Alya tertawa kecil. "Raka sekarang tugasnya mengawasi Damar." "Iya," jawab Raka. "Karena kalau dia lepas, nanti semua masalah jadi tiga puluh detik." Damar menatapnya dengan wajah pura-pura tersinggung. "Konten gue enggak semuanya tiga puluh detik." "Ada yang satu menit." Farhan sampai tertawa. Bu Ratih yang sedang mendengar sebagian percakapan mereka dari dalam warung ikut menyela, "Kalau sudah selesai mengawasi negara, bayar minumannya." Raka langsung menunjuk Damar. "Nah, ini contoh pelayanan publik yang tegas." Bu Ratih menatapnya datar. "Ini bukan pelayanan publik." "Lebih cepat malah." "Karena kalau enggak bayar, saya tahu rumahmu."

Tawa mereka pecah dan suasana kembali ringan. Namun setelah itu Damar menutup laptopnya tanpa menyimpan terlalu banyak kesimpulan. Malam itu mereka tidak mencoba menjawab bagaimana seluruh sistem seharusnya diperbaiki. Mereka bahkan belum sepenuhnya tahu apakah persoalan yang mereka lihat merupakan masalah yang sama di berbagai tempat. Tetapi setidaknya mereka menemukan satu pertanyaan baru yang tidak bisa lagi diabaikan. Selama ini mereka terlalu sering menilai masyarakat dari hasil akhirnya. Mengapa tidak mengurus? Mengapa tidak bertanya? Mengapa tidak mengadu? Mengapa tidak mencari tahu? Kini mereka mulai menyadari bahwa sebelum mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu, mungkin ada pertanyaan lain yang lebih dulu harus diajukan. Apakah orang tahu harus mulai dari mana? Apakah ia memiliki waktu? Apakah informasi dapat dipahami? Apakah tempat bertanya terasa cukup terbuka? Dan ketika seseorang tidak berhasil melewati semua itu, apakah kesalahan selalu sepenuhnya berada pada dirinya?

Ketika mereka mulai bersiap pulang, Zahra berhenti sebentar di depan warung dan memandang deretan rumah yang lampunya masih menyala. Gang Petam pada malam hari selalu memberinya perasaan yang sulit dijelaskan. Rumah-rumah berdiri rapat. Sebagian pintunya tertutup. Sebagian masih terbuka. Dari balik masing-masing rumah, kehidupan yang berbeda sedang berlangsung. Ada orang yang sedang menghitung uang belanja. Ada anak yang mengerjakan pekerjaan rumah. Ada seseorang yang mungkin sedang menunggu anggota keluarganya pulang. Ada orang tua yang memikirkan biaya sekolah. Ada pekerja yang sedang menghitung apakah penghasilannya cukup sampai akhir bulan. Dari luar, semua rumah tampak sederhana. Namun di dalamnya, ada persoalan yang mungkin tidak diketahui oleh rumah di sebelahnya. Zahra teringat kembali pembicaraan mereka. Rumah bukan hanya tempat seseorang pulang ketika hari selesai. Rumah adalah tempat semua akibat dari keputusan, kebijakan, keberhasilan, dan kegagalan pada akhirnya ikut masuk. Ketika harga berubah, orang menghitung ulang belanja di rumah. Ketika layanan kesehatan sulit diakses, keluarga yang menunggu di rumah ikut cemas. Ketika seorang anak tidak bisa melanjutkan sekolah, rumah menjadi tempat pertama yang merasakan akibatnya. Dan jika tempat tinggal seseorang sendiri mulai tidak pasti, rumah tidak lagi sekadar menerima dampak dari persoalan. Rumah itu sendiri berubah menjadi pusat persoalan. Zahra tidak mengatakan semua itu malam itu. Ia hanya berjalan bersama teman-temannya menuju persimpangan kecil sambil mendengarkan Raka kembali mengeluh karena besok harus bekerja lebih pagi. Tetapi di dalam kepalanya, satu pemikiran terus tinggal. Mungkin republik memang terlalu besar untuk dipahami sekaligus. Namun setiap orang mengenal sesuatu yang lebih kecil dan lebih dekat. Rumah.

* * *

Dua hari kemudian, Zahra sedang membereskan buku-buku murid setelah jam pelajaran selesai ketika salah seorang guru menghampirinya sambil membawa beberapa lembar kertas. Tidak ada kejadian besar. Tidak ada persoalan yang langsung terlihat seperti sesuatu yang berkaitan dengan apa yang selama ini ia bicarakan bersama teman-temannya. Guru tersebut hanya bertanya apakah Zahra tahu nomor kontak salah satu orang tua murid karena ada formulir yang belum dikembalikan. Zahra memeriksa catatan, lalu mengatakan bahwa nomor yang tercantum sepertinya sudah tidak aktif. Mereka mencoba menghubungi nomor lain yang dimiliki sekolah, tetapi tidak ada jawaban. Setelah beberapa menit, guru itu menghela napas. "Kadang susah ya kalau informasi sudah dikirim tapi enggak balik." Zahra mengangguk. "Orang tuanya kerja mungkin." "Bisa jadi." Guru tersebut meletakkan kertas di atas meja. "Padahal ini penting." Zahra melihat formulir itu. Ia tidak langsung mengatakan apa pun, tetapi percakapan dua malam sebelumnya kembali muncul di kepalanya. Informasi sudah dikirim. Itu benar. Tetapi apakah sudah sampai? Belum tentu. Apakah sudah dibaca? Belum tentu. Apakah orang tua memahami bahwa formulir tersebut penting? Belum tentu. Dan jika tidak ada balasan, apakah kesimpulan pertama yang paling tepat adalah bahwa orang tersebut tidak peduli? Zahra mulai merasa semakin tidak nyaman dengan cara mudah manusia menilai sesuatu dari apa yang terlihat di permukaan.

Sore itu ia memutuskan untuk mampir ke rumah salah satu murid yang keluarganya memang beberapa kali sulit dihubungi. Ia tidak datang untuk membahas persoalan negara atau memberikan pelajaran tentang hak warga. Ia hanya membawa formulir dan ingin memastikan bahwa keluarga tersebut mengetahui apa yang harus dilakukan. Rumah itu tidak jauh dari sekolah, berada di sebuah lingkungan yang lebih padat daripada Gang Petam. Ketika akhirnya orang tua murid tersebut membuka pintu, Zahra baru mengetahui bahwa selama beberapa hari terakhir ponsel mereka rusak dan belum sempat diperbaiki. Beberapa informasi yang dikirim sekolah tidak terbaca. Formulir yang dibawa Zahra diterima dengan wajah sedikit cemas. Sang ibu membaca bagian pertama, lalu berhenti. "Bu, ini harus diisi semua?" Zahra mendekat dan menjelaskan satu per satu bagian yang diperlukan. Tidak ada yang rumit bagi Zahra. Namun ketika ia melihat perempuan itu mengangguk setelah memahami penjelasannya, Zahra kembali merasa bahwa sesuatu yang mudah bagi satu orang bisa menjadi rumit bagi orang lain bukan karena orang tersebut kurang peduli, melainkan karena ia tidak memiliki akses pada penjelasan yang sama.

Dalam perjalanan pulang, Zahra membuka grup mereka dan menulis, Aku tadi kepikiran lagi soal pembicaraan kita. Informasi itu kadang enggak sampai bukan karena orangnya enggak peduli. Kadang memang ada hal kecil yang membuat orang putus dari informasinya. Alya membalas, Iya. Di tempatku juga sering begitu. Farhan menulis, Makanya kalau sistem cuma mengandalkan asumsi bahwa semua orang bisa mengikuti prosedur dengan cara yang sama, pasti ada yang tertinggal. Raka muncul beberapa menit kemudian. Kalian serius amat dari sore. Zahra membalas, Kamu lagi apa? Raka mengirim foto helmnya yang sedang tergeletak di atas motor. Lagi nunggu order. Hidup gue lebih sederhana. Tidak sampai satu menit, Damar membalas, Sampai ketemu orang yang cerita masalah tanah lagi. Raka langsung mengirim, Jangan didoain begitu, goblok. Zahra tersenyum membaca percakapan itu. Mereka memang masih sama. Tidak ada yang tiba-tiba berubah menjadi orang paling bijak hanya karena selama beberapa bulan terakhir mereka belajar memahami berbagai persoalan. Raka tetap mudah mengeluh. Damar tetap terlalu tertarik pada informasi baru. Farhan masih sering melihat segala sesuatu melalui proses dan detail yang kadang membuat orang lain kelelahan mendengarnya. Alya tetap paling cepat mengingatkan dampak persoalan terhadap manusia. Zahra sendiri masih sering membawa pulang pertanyaan dari sekolah. Mereka tidak berubah menjadi lima orang yang selalu serius. Justru mungkin karena itu mereka masih bisa terus duduk di meja yang sama.

Malam berikutnya mereka kembali berkumpul, tetapi kali ini tidak ada laptop di atas meja sejak awal. Damar datang tanpa tas besar. Farhan datang setelah makan malam. Alya membawa minuman sendiri karena mengatakan bahwa hari itu ia sudah terlalu banyak minum kopi. Raka menjadi orang pertama yang hadir dan mengumumkan kepada semua orang bahwa ia datang hanya untuk nongkrong biasa. "Hari ini enggak ada diskusi," katanya sambil duduk. "Gue larang." Damar menarik kursi. "Lu punya kewenangan apa?" "Warga." "Enggak cukup." "Nah, kemarin kalian bilang warga boleh nanya." Zahra tertawa. "Boleh. Tapi bukan berarti semua pertanyaanmu harus dikabulkan." Raka mengangguk dengan wajah serius. "Berarti sistem ini tidak transparan." Alya tertawa sampai menundukkan kepala. Bahkan Bu Ratih yang sedang menaruh gorengan di etalase ikut tersenyum sambil berkata, "Yang transparan cuma dompet kalian. Sudah kelihatan kosong dari sini."

Lihat selengkapnya