Republik Di Ujung Gang

Rizky Ade Putra
Chapter #17

Orang-Orang yang Tidak Tahu Harus Mulai dari Mana

Beberapa hari setelah percakapan terakhir mereka tentang rumah, Gang Petam kembali memberikan alasan sederhana bagi lima orang itu untuk menyadari bahwa persoalan besar tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang ia muncul dalam bentuk seseorang yang berdiri cukup lama di depan sebuah kantor sambil memegang map. Kadang dalam bentuk pesan pendek yang dikirim berkali-kali karena pengirimnya tidak tahu kepada siapa lagi harus bertanya. Kadang hanya berupa kalimat yang terdengar biasa, tetapi setelah didengar dengan sungguh-sungguh, ternyata menyimpan kebingungan yang jauh lebih besar daripada yang terlihat di permukaan. Pagi itu Damar sedang duduk di depan rumah sambil membuka kembali beberapa catatan lama ketika ponselnya bergetar. Pesan tersebut bukan berasal dari orang yang sebelumnya bercerita kepadanya mengenai persoalan tanah. Nama pengirimnya pun tidak ia kenal. Orang itu hanya mengatakan bahwa ia mendapatkan nomor Damar dari seseorang yang pernah melihat kontennya dan ingin bertanya apakah Damar tahu tempat yang bisa didatangi untuk mencari informasi mengenai dokumen rumah keluarganya. Damar membaca pesan itu dua kali sebelum menjawab. Beberapa bulan lalu mungkin ia akan langsung membuka mesin pencarian, menemukan beberapa istilah, lalu mencoba menjelaskan semuanya dengan bahasa yang terdengar meyakinkan. Namun sekarang ia sudah cukup sering belajar bahwa persoalan yang berkaitan dengan rumah, tanah, dokumen, dan hak seseorang tidak bisa diperlakukan seperti pertanyaan sederhana yang jawabannya tinggal dicari dalam satu halaman. Ia membalas dengan hati-hati, Saya belum tentu tahu jalur yang tepat untuk persoalan Anda. Kalau Anda mau, coba ceritakan secara umum dulu masalahnya, tanpa mengirim data pribadi atau dokumen penting. Tidak lama kemudian jawaban datang. Ceritanya ternyata tidak sama dengan dua cerita sebelumnya. Tidak ada ancaman langsung. Tidak ada konflik terbuka. Tidak ada seseorang yang datang membawa surat dan meminta keluarga tersebut pergi. Yang ada justru kebingungan yang sudah berlangsung lama. Orang tua pengirim pesan telah tinggal di rumah itu bertahun-tahun. Ada beberapa dokumen lama yang tersimpan, tetapi keluarga tersebut sendiri tidak benar-benar memahami dokumen mana yang masih penting, mana yang perlu diperbarui, dan apa yang sebenarnya harus dilakukan jika suatu hari mereka membutuhkan kejelasan mengenai status administrasinya. Damar membaca semuanya sambil perlahan menyadari sesuatu yang membuatnya kembali membuka buku catatan. Tiga cerita. Tiga keadaan berbeda. Tetapi lagi-lagi ada sesuatu yang sama: orang-orang itu tidak selalu datang karena sudah terjadi bencana. Kadang mereka datang karena tidak ingin menunggu sampai semuanya terlambat, hanya saja mereka tidak tahu langkah pertama yang harus dilakukan.

Ia menuliskan kalimat itu di halaman kosong, lalu berhenti cukup lama setelah selesai. Tidak tahu langkah pertama. Kalimat tersebut terasa terlalu dekat dengan semua hal yang sudah mereka pelajari sejak awal. Jalan rusak di Gang Petam dulu bukan hanya soal lubang di jalan, tetapi soal siapa yang bertanggung jawab dan bagaimana warga mengetahui jalur untuk bertanya. Bantuan pendidikan bukan hanya soal ada atau tidak adanya program, tetapi soal apakah keluarga mengetahui informasi dan mampu mengaksesnya. Pelayanan kesehatan bukan hanya soal petunjuk yang ditempel di dinding, tetapi apakah seseorang yang sedang panik benar-benar memahami apa yang harus dilakukan. Sekarang persoalan rumah dan dokumen membawa mereka kembali ke tempat yang sama, hanya dengan bentuk yang lebih rumit. Damar baru saja hendak menutup buku ketika ayahnya keluar dari rumah membawa gelas kopi dan melihat wajah anaknya yang sejak tadi terlalu serius untuk ukuran pagi hari. "Kalau muka lu begitu, biasanya ada masalah baru," katanya sambil duduk di kursi sebelah. Damar tersenyum tipis. "Bukan masalah baru juga. Lebih kayak pertanyaan lama datang lagi pakai baju beda." Ayahnya mengernyit. "Itu bahasa orang yang kebanyakan nongkrong sama teman-teman lu." "Bisa jadi." Damar lalu menceritakan secara umum mengenai pesan yang baru diterimanya tanpa menyebut identitas pengirimnya. Ayahnya mendengarkan sampai selesai, lalu mengangguk perlahan. "Orang memang sering takut bertanya kalau urusannya sudah kedengaran rumit." Damar menoleh. "Kenapa?" "Karena takut kelihatan bodoh. Takut salah ngomong. Takut nanti malah tambah ribet." Damar terdiam. "Tapi kalau enggak bertanya, ya enggak tahu." Ayahnya tertawa kecil. "Itu gampang buat orang yang sudah biasa bertanya." Kalimat tersebut membuat Damar kembali menatap catatannya. Ia tidak pernah benar-benar memikirkan bahwa kemampuan untuk bertanya juga mungkin bukan sesuatu yang dimiliki semua orang dengan cara yang sama. Ada orang yang tumbuh dalam lingkungan yang membuatnya terbiasa datang ke kantor dan meminta penjelasan. Ada yang terbiasa membaca dokumen. Ada yang mengenal seseorang yang bisa dimintai bantuan. Ada pula yang sejak awal merasa bahwa kantor, formulir, istilah, dan prosedur adalah sesuatu yang lebih baik dijauhi selama belum benar-benar terpaksa. "Jadi menurut Ayah orang-orang itu harus gimana?" tanyanya kemudian. Ayahnya mengangkat bahu. "Kalau gue tahu semua jawabannya, dari dulu gue sudah buka kantor konsultasi di depan rumah." Damar tertawa. "Tapi serius." Ayahnya memandang jalan di depan mereka. "Kadang orang enggak butuh orang lain langsung menyelesaikan masalahnya. Kadang dia cuma butuh ada yang bilang, 'Mulainya dari sini.'"

Kalimat itu tinggal cukup lama di kepala Damar sampai siang hari. Ia tidak langsung mengirim pesan ke grup. Ia sengaja menunggu beberapa jam karena tidak ingin setiap hal baru otomatis berubah menjadi bahan diskusi lima orang. Namun ketika ia akhirnya bertemu Raka di Warung Ujung menjelang sore, pembicaraan itu muncul dengan sendirinya. Raka sedang duduk sambil makan terlambat, wajahnya terlihat lelah setelah beberapa kali menerima dan membatalkan pesanan yang menurutnya terlalu jauh untuk tarif yang tidak sepadan. Ketika melihat Damar datang membawa buku catatan, ia langsung menunjuk tas tersebut. "Jangan bilang lagi-lagi ada orang cerita masalah tanah." Damar menarik kursi. "Kalau gue bilang bukan masalah tanah?" Raka berhenti mengunyah. "Nah, itu malah bikin gue takut. Biasanya kalau lu bilang bukan, ternyata lebih ribet." Damar tersenyum lalu menjelaskan tentang pesan yang diterimanya. Raka mendengarkan tanpa terlalu banyak memotong, sesuatu yang sekarang semakin sering terjadi ketika pembicaraan mereka menyentuh persoalan yang benar-benar menyangkut kehidupan orang lain. Setelah Damar selesai, Raka menyandarkan tubuhnya ke kursi dan berkata, "Jadi sebenarnya orang itu belum kena masalah besar, tapi dia enggak ngerti apa yang harus dilakukan supaya nanti kalau ada apa-apa dia enggak bingung?" Damar mengangguk. "Kurang lebih begitu." "Terus lu jawab apa?" "Belum banyak. Gue enggak mau sok ngerti." Raka menunjuknya dengan sendok. "Nah, ini perkembangan karakter yang gue dukung." "Terima kasih atas evaluasinya." "Sama-sama. Gue saksi sejarah." Mereka tertawa sebentar, tetapi setelah itu Raka kembali serius. "Tapi gue ngerti sih." Damar menoleh. "Apa?" Raka menghela napas. "Waktu dulu pertama kali gue mau ke kelurahan, gue juga bingung. Bukan karena gue enggak bisa jalan ke sana. Gue cuma enggak tahu begitu sampai, gue harus ngomong apa." Damar mengangguk pelan. Ia teringat bagaimana perubahan Raka memang dimulai dari langkah-langkah yang sangat sederhana. "Terus lu tetap datang." "Karena kalian nyebelin." "Bagus. Berarti kita berhasil." Raka menggeleng. "Bukan itu maksud gue. Gue datang karena akhirnya gue sadar kalau gue enggak harus sudah tahu semuanya sebelum mulai. Gue datang justru buat tahu." Damar memandangnya beberapa detik. Raka langsung menyadari tatapan itu dan mengangkat tangan. "Jangan lihat gue kayak baru dapat wahyu." "Gue cuma lagi kaget lu bisa ngomong bagus." "Nah, itu baru teman."

Mereka masih tertawa ketika seorang laki-laki yang tampak berusia sekitar lima puluhan datang ke warung dan berdiri cukup lama di dekat etalase sambil berbicara dengan Bu Ratih. Damar dan Raka tidak memperhatikan isi pembicaraan itu pada awalnya. Namun beberapa menit kemudian laki-laki tersebut duduk di meja lain dengan wajah yang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat. Bu Ratih datang membawa minumannya, lalu tanpa sengaja berkata cukup keras, "Kalau memang belum jelas, jangan cuma didengar dari satu orang, Pak. Cari tempat yang benar buat nanya." Laki-laki itu mengangguk. "Nah, masalahnya itu, Bu. Tempat yang benar itu yang mana?" Damar dan Raka saling memandang. Mereka tidak ikut campur. Tidak ada alasan untuk langsung menganggap percakapan tersebut berkaitan dengan apa yang sedang mereka bicarakan. Tetapi kalimat itu terasa terlalu familiar. Setelah beberapa saat, laki-laki tersebut menyelesaikan minumannya dan pergi. Raka baru berbicara setelah orang itu keluar dari warung. "Gue mulai curiga hidup sengaja ngejar-ngejar kita." Damar tertawa kecil. "Atau mungkin dari dulu orang memang banyak bingung, cuma sekarang lu baru dengerin." Raka terdiam. "Sial." "Kenapa?" "Itu lebih masuk akal." Bu Ratih yang sedang merapikan meja menoleh kepada mereka. "Kalian jangan mulai lagi." Raka langsung menjawab, "Kami enggak mulai, Bu. Dunia yang mulai." Bu Ratih memandangnya datar. "Dunia enggak pernah minta kalian bikin rapat." Damar tersenyum. "Tenang, Bu. Hari ini enggak ada rapat." Bu Ratih mengangkat alis. "Bagus." Raka langsung menambahkan, "Paling diskusi." Bu Ratih mengambil lap meja dan melemparkannya ke mereka. Raka langsung tertawa sambil mengangkat kedua tangan.

Namun ketika Damar pulang sore itu, ia membawa satu pertanyaan yang semakin sulit ia lepaskan. Selama ini mereka telah belajar bahwa warga bisa bertanya, mengadu, mengawasi, dan berpartisipasi. Tetapi mungkin masih ada satu tahap yang belum cukup mereka pahami. Sebelum seseorang dapat melakukan semua itu, orang tersebut harus terlebih dahulu percaya bahwa ia berhak untuk memulai. Harus ada keyakinan bahwa datang dan bertanya bukan tindakan memalukan. Bahwa tidak memahami sesuatu bukan berarti tidak boleh mencari penjelasan. Bahwa seseorang tidak harus menjadi ahli sebelum berbicara mengenai persoalan yang memengaruhi hidupnya. Damar membuka grup mereka malam itu dan hanya menulis satu kalimat. Menurut kalian, kenapa orang kadang lebih milih bingung sendirian daripada mulai nanya? Tidak ada penjelasan tambahan. Tidak ada tautan. Tidak ada ajakan berkumpul. Alya menjadi orang pertama yang membalas. Karena kadang orang pernah bertanya dan merasa tidak didengarkan. Zahra menulis beberapa menit kemudian. Atau pernah dibuat merasa bodoh karena tidak tahu. Farhan menyusul. Atau prosedurnya terlalu banyak sehingga pertanyaan pertama saja sudah terasa seperti pekerjaan. Raka mengirim pesan terakhir. Atau karena dia takut ujung-ujungnya malah ketahuan ada masalah lain yang lebih besar. Damar membaca empat jawaban itu cukup lama. Mereka semua berbeda. Tidak ada yang otomatis paling benar. Tetapi untuk pertama kalinya, ia merasa Chapter kehidupan mereka berikutnya mungkin tidak lagi dimulai dari mencari jawaban terhadap sebuah persoalan. Mungkin mereka harus lebih dulu belajar memahami apa yang membuat seseorang bahkan tidak berani memulai pertanyaan.

* * *

Malam berikutnya, lima orang itu akhirnya kembali berkumpul di Warung Ujung meskipun sejak awal tidak ada yang secara resmi mengatakan bahwa pertemuan tersebut diperlukan. Damar datang membawa buku catatan, tetapi tidak membawa laptop. Raka langsung memperhatikan hal itu ketika ia duduk. "Nah, akhirnya ada perkembangan. Lu sekarang bisa diskusi tanpa layar." Damar menarik kursi. "Jangan senang dulu. Baterai laptop gue habis." Raka mengangguk puas. "Berarti teknologi berhasil menyelamatkan kita." Alya datang tidak lama kemudian dan langsung duduk sambil menghela napas panjang. Zahra menyusul beberapa menit setelahnya, sementara Farhan datang paling akhir dengan wajah seseorang yang baru selesai melewati hari kerja yang terlalu panjang. Bu Ratih meletakkan minuman di meja mereka dan memandang lima orang itu satu per satu. "Saya enggak mau tahu malam ini bahas apa. Yang penting jangan sampai warung saya jadi kantor lagi." Raka langsung menjawab, "Tenang, Bu. Kantor enggak punya gorengan begini." Bu Ratih mendengus. "Kantor juga mungkin lebih tenang." Setelah Bu Ratih kembali ke dalam, Damar membuka pembicaraan dengan menceritakan pesan yang diterimanya dan percakapannya dengan Raka sore sebelumnya. Ia tidak membawa cerita itu sebagai kasus yang harus mereka pecahkan. Justru ia berkali-kali menekankan bahwa mereka tidak mengetahui cukup banyak untuk memberi arahan kepada orang tersebut. "Yang gue pikirin bukan kasusnya," katanya sambil memutar gelas perlahan di atas meja. "Gue kepikiran kenapa banyak orang baru mulai cari tahu setelah takut. Kenapa enggak dari awal?" Farhan menatapnya. "Karena dari awal belum ada alasan yang cukup kuat." Zahra menggeleng pelan. "Enggak selalu. Kadang orang tahu sesuatu itu penting, tapi tetap enggak mulai." Alya mengangguk. "Karena tahu penting dan mampu melakukannya itu beda." Raka langsung menunjuk Alya. "Nah. Ini yang gue maksud waktu kemarin. Kalau gue tahu olahraga itu penting, bukan berarti gue langsung jadi atlet." Alya tertawa kecil. "Contohmu buruk, tapi maksudnya benar." Damar memandang mereka. "Berarti kita ngomongin kemampuan juga?" Farhan mengangguk. "Kemampuan, waktu, akses, pengalaman. Banyak hal."

Zahra kemudian bercerita bahwa di sekolah ia semakin sering melihat orang tua murid menghadapi persoalan yang sebenarnya sederhana bagi orang yang setiap hari bekerja di lingkungan pendidikan, tetapi terasa membingungkan bagi keluarga yang tidak terbiasa. "Kadang ada informasi yang menurut sekolah sudah jelas," katanya. "Tanggalnya tertulis, syaratnya tertulis, prosedurnya tertulis. Tapi ternyata orang tua tetap datang dan bertanya." Raka langsung berkata, "Terus guru kesel?" Zahra tersenyum. "Kadang ada yang kesel." "Nah." Zahra melanjutkan, "Padahal kalau dipikir-pikir, mungkin orang itu datang justru karena dia enggak mau salah." Damar mengangguk. Zahra menjelaskan bahwa setelah beberapa kali berbicara dengan keluarga murid, ia semakin sadar bahwa informasi tertulis tidak pernah datang ke semua orang dengan kondisi yang sama. Ada yang membacanya sambil santai di rumah. Ada yang baru melihatnya ketika sedang istirahat kerja. Ada yang membaca sambil menjaga anak kecil. Ada yang ponselnya dipakai bergantian dengan anggota keluarga lain. Ada yang tidak terbiasa dengan istilah tertentu. Ada pula yang membaca seluruh informasi tetapi masih tidak yakin apakah ia memahaminya dengan benar. "Kadang pertanyaan orang itu bukan karena dia enggak membaca," kata Zahra. "Justru karena dia sudah membaca tapi takut salah mengerti." Farhan mengangguk pelan. "Di kerjaan juga begitu. Orang sering mengira kalau sudah dikirim dalam bentuk dokumen, berarti masalah komunikasi selesai. Padahal dokumen itu baru dikirim. Belum tentu dipahami." Raka memandangnya. "Jadi semua kerjaan lu selama ini sia-sia?" Farhan menatapnya datar. "Terima kasih atas kontribusinya." Alya tertawa.

Alya kemudian membawa pembicaraan itu ke pengalaman yang ia lihat dalam pelayanan kesehatan. Ia tidak menceritakan identitas siapa pun, hanya mengatakan bahwa ada banyak orang datang dengan kecemasan yang sebenarnya sudah lebih besar daripada informasi yang mereka terima. "Kadang mereka sudah dikasih penjelasan," katanya. "Tapi karena panik, yang masuk ke kepala cuma setengah. Setelah itu pulang, bingung lagi." Damar menoleh. "Terus?" "Terus kalau kita langsung bilang, 'Kan tadi sudah dijelaskan,' itu enggak menyelesaikan apa-apa." Zahra mengangguk. "Karena orang menerima informasi dalam keadaan yang berbeda." Alya tersenyum tipis. "Iya. Orang yang tenang bisa membaca lima poin. Orang yang takut mungkin cuma ingat satu kata." Kalimat itu membuat suasana meja sedikit lebih diam. Raka yang sejak tadi memainkan sedotan akhirnya berkata, "Berarti selama ini kita sering terlalu gampang menilai orang dari apa yang dia lakukan setelah dikasih informasi." Damar mengangguk. "Mungkin." "Kayak, 'Kan sudah dikasih tahu, kenapa masih salah?'" tambah Raka. Farhan menyandarkan tubuh. "Padahal bisa ada banyak tahap antara diberi tahu dan benar-benar mampu bertindak berdasarkan informasi itu." Damar langsung menulis kalimat tersebut di bukunya. Raka melihat gerakan itu dan berkata, "Nah, mulai lagi." Damar tersenyum. "Ini bagus." "Iya, tapi jangan nanti malam-malam lu upload, 'Teman-teman, gue baru sadar...' terus semua orang disuruh mikir." Zahra tertawa. "Raka trauma sama konten Damar." "Bukan trauma. Gue cuma pengawas."

Untuk beberapa saat mereka membiarkan pembicaraan bergerak tanpa arah yang terlalu jelas. Tidak ada satu orang pun yang mencoba membuat kesimpulan besar. Justru semakin lama mereka berbicara, semakin banyak kemungkinan yang muncul. Orang tidak bertanya karena malu. Karena pernah mendapatkan jawaban yang buruk. Karena tidak punya waktu. Karena tidak tahu harus mulai dari siapa. Karena bahasa yang digunakan terlalu rumit. Karena merasa masalahnya terlalu kecil. Karena takut masalahnya justru membesar. Karena tidak percaya akan ada yang benar-benar membantu. Karena selama ini semua orang di sekitarnya juga memilih diam. Damar memandangi catatannya yang semakin penuh. "Kalau begini, kita enggak akan pernah punya satu jawaban." Farhan langsung menjawab, "Memang harus punya?" Damar menoleh. Farhan melanjutkan, "Masalahnya kan bukan mencari alasan paling benar kenapa semua orang diam. Kita cuma mulai sadar kalau diam itu sendiri bisa punya banyak sebab." Alya mengangguk. "Dan kalau kita mau membantu orang memahami sesuatu, kita enggak bisa pakai satu cara untuk semua orang." Zahra menambahkan, "Karena orang yang bingung itu bukan satu jenis manusia." Raka mengangkat tangan. "Saya sebagai manusia bingung mendukung pernyataan itu." Semua tertawa.

Bu Ratih datang membawa sepiring gorengan tambahan dan meletakkannya di tengah meja. "Ini terakhir. Habis itu saya mau tutup bagian dapur." Raka langsung mengambil satu. "Bu, saya suka cara Ibu menjalankan negara." Bu Ratih menatapnya. "Jangan mulai." "Saya cuma bilang sistem distribusi gorengan di sini jelas." Damar tertawa. Bu Ratih kemudian memandang catatan di depan mereka. "Kalian bahas apa sebenarnya?" Untuk beberapa detik tidak ada yang menjawab. Damar akhirnya berkata, "Kenapa orang kadang bingung tapi enggak tahu harus tanya ke siapa." Bu Ratih berhenti sejenak. "Ya karena yang ditanya juga kadang bingung." Mereka semua tertawa, tetapi setelah itu Bu Ratih melanjutkan dengan nada lebih tenang. "Serius. Kalian pikir orang yang duduk di balik meja selalu tahu semua jawaban? Belum tentu. Kadang warga datang ke satu tempat, disuruh ke tempat lain. Sampai tempat lain, disuruh balik lagi. Lama-lama orang capek." Farhan langsung memperhatikan. "Ibu pernah begitu?" Bu Ratih mengangkat bahu. "Pernah urus sesuatu. Sudah lama. Enggak penting ceritanya. Yang saya ingat bukan masalahnya. Yang saya ingat, saya pulang tiga kali karena setiap datang ada syarat baru yang baru dikasih tahu." Raka langsung berkata, "Nah, itu juga. Kenapa enggak dari awal semua syaratnya dikasih tahu?" Bu Ratih menatapnya. "Kalau semua orang bisa menjawab pertanyaan itu, mungkin hidup saya lebih tenang." Setelah itu ia kembali ke dalam warung, meninggalkan lima orang yang kini kembali diam.

Damar perlahan menutup bukunya. Ada sesuatu yang berbeda dari pembicaraan malam itu. Selama ini mereka sering bergerak dari sebuah persoalan menuju pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab. Malam ini mereka justru mulai melihat perjalanan seseorang sebelum ia bahkan sampai pada pihak yang bertanggung jawab. Seorang warga mungkin sudah kalah sebelum sampai ke pintu pertama karena tidak tahu pintu mana yang harus dicari. Ia mungkin menyerah setelah mendapat jawaban yang berbeda dari dua tempat. Ia mungkin pulang karena merasa terlalu malu untuk kembali bertanya. Ia mungkin memilih diam bukan karena tidak peduli, melainkan karena seluruh proses untuk memahami sesuatu terasa terlalu mahal dalam bentuk waktu, tenaga, rasa takut, dan ketidakpastian. "Gue baru sadar satu hal," kata Damar akhirnya. Raka langsung menghela napas. "Gue tahu. Ini pasti satu hal yang sebenarnya tujuh." Damar mengabaikannya. "Kita sering bilang warga harus aktif. Tapi aktif itu juga butuh jalan." Tidak ada yang tertawa. Zahra memandang jalan di depan warung. Alya memegang gelasnya dengan kedua tangan. Farhan mengangguk pelan. Raka sendiri terlihat berpikir lebih lama daripada biasanya sebelum akhirnya berkata, "Dan kalau jalannya bikin orang muter-muter terus, jangan heran kalau banyak yang berhenti di tengah."

Ketika mereka pulang malam itu, tidak ada keputusan bahwa mereka akan melakukan sesuatu. Tidak ada rencana membuat kegiatan. Tidak ada proyek baru. Mereka masih terlalu berhati-hati untuk menganggap bahwa setiap kesadaran harus segera berubah menjadi tindakan besar. Tetapi Damar membawa pulang catatan yang berbeda dari biasanya. Di halaman terakhir, ia menulis satu kalimat yang tidak berbentuk kesimpulan. Sebelum bertanya apakah warga cukup peduli, mungkin kita harus melihat apakah mereka tahu bahwa mereka boleh memulai dari pertanyaan sederhana. Ia menatap kalimat itu sebelum tidur dan kembali teringat pada ayahnya. Kadang orang tidak membutuhkan seseorang yang menyelesaikan seluruh masalahnya. Kadang ia hanya membutuhkan seseorang yang dapat menunjukkan, tanpa merendahkan, bahwa langkah pertama memang ada.

* * *               

Dua hari kemudian, kesempatan untuk melihat persoalan itu dari dekat datang bukan melalui pesan anonim atau percakapan di Warung Ujung, melainkan dari sesuatu yang jauh lebih biasa. Zahra sedang berada di sekolah ketika seorang ibu datang menemui salah satu guru sambil membawa beberapa lembar kertas yang sudah terlipat berkali-kali. Wajah perempuan itu terlihat cemas, tetapi bukan karena terjadi sesuatu yang dramatis. Ia hanya ingin menanyakan sebuah prosedur yang sebenarnya sudah beberapa kali dijelaskan dalam pemberitahuan sekolah. Zahra yang kebetulan sedang berada tidak jauh dari sana mendengar bagian akhir percakapan ketika ibu tersebut berkata, "Saya sudah baca, Bu. Tapi saya takut salah. Kalau salah isi nanti gimana?" Guru yang berbicara dengannya menjawab dengan sabar dan kemudian menjelaskan kembali bagian yang perlu diisi. Tidak sampai sepuluh menit, persoalan itu selesai. Sang ibu tersenyum, mengucapkan terima kasih, lalu pergi membawa formulir yang kini sudah ia pahami. Zahra memandangi pintu setelah perempuan itu keluar. Tidak ada kejadian besar. Tidak ada sistem yang runtuh. Tidak ada cerita yang bisa dijadikan bukti bahwa sesuatu pasti salah. Tetapi ia kembali melihat sesuatu yang selama ini mereka bicarakan: jarak antara informasi dan tindakan kadang hanya dapat dilewati ketika seseorang merasa cukup aman untuk bertanya. Setelah jam sekolah selesai, Zahra membuka grup mereka dan menulis, Hari ini aku lihat lagi contoh kecil. Orangnya sebenarnya sudah punya informasi. Dia cuma takut salah. Raka membalas beberapa menit kemudian, Nah, berarti benar dong. Kadang orang bukan enggak tahu. Dia enggak yakin kalau dia tahu. Damar langsung menambahkan, Ini beda lagi. Farhan menjawab, Tapi nyambung. Informasi bisa ada, dipahami sebagian, tapi belum cukup untuk membuat orang yakin bertindak. Alya menulis, Dan rasa takut salah itu bisa bikin orang menunda sampai akhirnya masalahnya jadi lebih rumit.

Sore hari, Raka sendiri mengalami sesuatu yang membuatnya mengirim pesan lebih panjang dari biasanya. Ia sedang menunggu pesanan di dekat sebuah deretan ruko ketika melihat seorang perempuan berdiri beberapa kali di depan papan informasi sebuah kantor. Perempuan itu membaca, berjalan menjauh, lalu kembali lagi. Setelah beberapa menit, Raka yang kebetulan berdiri tidak terlalu jauh melihat perempuan tersebut akhirnya masuk, tetapi keluar lagi tidak sampai lima menit kemudian dengan wajah yang semakin bingung. Raka tentu tidak langsung menghampiri dan mencampuri urusannya. Namun ketika perempuan itu berdiri di dekat motor sambil melihat ponsel, ia sempat mendengar perempuan tersebut berbicara kepada seseorang, "Katanya bukan di sini. Tapi tadi saya disuruh ke sini." Raka menunggu sampai perempuan itu pergi, lalu mengirim pesan ke grup. Oke. Sekarang gue resmi ngerti kenapa orang bisa males ngurus sesuatu. Damar langsung bertanya, Kenapa? Raka menceritakan apa yang dilihatnya, lalu menambahkan, Dan gue bahkan enggak tahu cerita lengkapnya. Bisa jadi memang dia salah tempat. Bisa jadi petunjuknya kurang jelas. Bisa jadi ada yang salah paham. Tapi kalau gue jadi dia, gue juga kesel. Farhan membalas, Bagus. Jangan langsung simpulkan dari satu kejadian. Raka langsung menjawab, Iya, Pak Pengawas Kesimpulan. Zahra mengirim emoji tertawa. Namun setelah candaan itu, Raka menulis satu pesan lagi. Tapi minimal sekarang gue ngerti kenapa orang bisa sampai rumah dan bilang, "Sudahlah, nanti aja." Tidak ada yang langsung membalas. Kalimat itu terlalu sederhana, tetapi mereka semua tahu berapa banyak persoalan mungkin berhenti bukan karena seseorang tidak peduli, melainkan karena setelah berusaha sekali atau dua kali, tenaga untuk mencoba lagi sudah habis.

Lihat selengkapnya